Showing posts with label ADM. Show all posts
Showing posts with label ADM. Show all posts

Saturday, 14 May 2016

Makalah Pengendalian Internal Arus Kas



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

            Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau kontrol intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang).

            Setiap perusahaan selalu berusaha menciptakan system yang baik untuk keberadaan kasnya. Kas sangat berperan terhadap jalannya operasional perusahaan, bila kasnya sangat terbatas maka operasional perusahaan akan terganggu,demikian juga bila kas yang berlebih akan mengakibatkan timbulnya idle cash, yang merupakan aktiva yang tidak produktif.

B. Perumusan Masalah
            Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan terhadap kas yaitu
1. apa yang dimaksud dengan kas?
2. apa yang dimaksud dengan pengendalian?
3. seperti apa pengendalian internal kas pada perusahaan?
4. Bagaimana meningkatkan pengendalian intern terhadap kas pada suatu perusahaan atau instansi?

C. Tujuan
            Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam penulisan makalah ini ada sebagaiberikut:
1. apa yang dimaksud dengan kas?
2. apa yang dimaksud dengan pengendalian?
3. seperti apa pengendalian internal kas pada perusahaan?
4. Bagaimana meningkatkan pengendalian intern terhadap kas pada suatu perusahaan atau instansi?

D. Manfaat
            Adapun yang menjadi manfaat dalam penulisan makalah ini kiranya dapat menjadi sumbangan pikiran dan sebagai bahan bacaan dan referensi bagi pemakalah selanjutnya
                


BAB II
PEMBAHASAN
Untuk menjawab permasalahan diatas, pada bagian yang pertama saya akan uraikan pengertian kas, dan komposisi kas. Pada bagian kedua akan diuraikan tentang pengendalian intern terhadap kas.
A. Pengertian Kas
Menurut Munawir (1983:14), pengertian kas adalah sebagai berikut:
Kas merupakan uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan, termasuk dalam pengertian kas adalah cek yang diterima dari para pelanggan dan simpanan perusahaan di bank dalam bentuk giro atau demand deposit, yaitu simpanan di bank yang dapat diambil kembali (dengan menggunakan cek atau bilyet).
Pendapat lainnya juga hampir sama di kemukakan oleh: Theodarus M. Tuanakotta, AK, (1982:150) dalam bukunya Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik, yaitu:
Kas dan bank meliputi uang tunai dan simpanan-simpanan di bank yang langsung dapat diuangkan pada setiap saat tanpa mengurangi nilai simpanan tersebut. Kas dapat terdiri dari kas kecil atau dana-dana kas lainnya seperti penerimaan uang tunai dan cek-cek (yang bukan mundur) untuk disetor ke bank keesokan harinya.
Menurut PSAK No.2 2002, kas difenisikan sebagai berikut:
Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro dan setara kas (cash equivalent)adalah investasi yang sifatnya sangat likuid berjangka pendek dan dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko perubahan nilai yang signifikan.
Menurut PSKA No.9 2002, Kas didefinisikan sebagai berikut: “Kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan”.
Menurut (Baridwan, 2002:85) Kas didefinisikan sebagai:
“Kas merupakan salah satu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam akuntansi. Dalam neraca, kas merupakan aktiva yang paling lancar, dalam arti paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar selalu mempengaruhi kas. Daya beli uang bisa berubah-ubah mungkin naik atau turun tetapi penurunan daya beli ini tidak akan mengakibatkan penilaian kembali terhadap kas.”
Menurut (Sartono, 2000 : 519 ) menyatakan bahwa Kas adalah seluruh uang tunai yang ada ditangan ( cash on hand ) dan dana yang disimpan dibank dalam berbagai bentuk deposito dan rekening koran.
Menurut (Indrigo dan Basri, 1999 : 61 ) menyatakan bahwa:
Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan beserta pos-pos lain dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sebagai alat pembayaran kebutuhan financial yang mempunyai sifat paling tinggi tingkat likuiditas.
Sedangkan menurut (Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti, 1998 : 111 ) menyatakan bahwa :Kas merupakan bentuk aktiva yang paling likuid yang bisa dipergunakan segera untuk memenuhi kewajiban financial perusahaan.
            Jadi kas merupakan aktiva lancar yang paling liquid dan terdiri dari “pos-pos” yang berlaku sebagai alat tukar dan memberikan dasar pengukuran akuntansi atau seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk lainnya yang dapat diuangkan setiap saat apabila perusahaan membutuhkan.

B. Komposisi Kas
            Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk peluanasan utang, sebagai setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, traveller’s checks, cashier’s checks, bank draft dan money order. Untuk dapat digolongkan sebagai kas biasanya dibatasi dengan diterima sebagai setoran oleh bank dengan nilai nominal tidak dikelompokkan dalam kas. Jika ada wesel tagih yang diserrahkan ke bank untuk ditagihkan,maka wesel tagih ini tetap dicatat sebagai piutang wesel sampai dilunasi oleh yang membuat wesel. Kadang-kadang perangko dapat digunakan untuk pembayaran yang jumlahnya kecil, tetapi perangko tidak akan diterima sebagai setoran oleh bank, maka perangko bukan kas.
            Cek mundur (post dated checks) tetap dicatat sebagai piutang sampai tanggal dimana cek dapat diuangkan.Cek mundur termasuk dalam kelompok piutang.
            Surat-surat berharga seperti saham-saham dan obligasi mungkin dapat segera dijual dan menjadi uang tunai, tetapi sebelum dujual surat-surat berharga tersebut tidak termasuk kelompok kas. Sebelum dijual surat berharga tetap dilaporkan sebagai investasi jangka pendek.
            Simpanan dalam bank-bank diluar negeri menimbulkan suatu masalah khusus karena mata uang yang berbeda.Oleh karena itu simpanan di bank luar negeri harus dikurskan dalam rupiah.Sering kali simpanan-simpanan di bank luar negeri tidak dapat diambilsewaktu-waktu, oleh karena itu dalam neraca simpanan tadi akan dilaporkan terpisah.
            Uang kas yang dibatasi penggunaannya, biasanya dalam bentuk dana, tidak dimasukkan dalam kas tetapi dilaporkan terpisah sebagai dana.Jika penggunaannya masih dalam waktu satu tahun, maka termasuk dalam kelompok aktiva lancer, tetapi jika tidak dapat digunakan dalam waktu satu tahun,maka dilaporkan dalam kelompoka aktiva tidak lancer.
C. Pengendalian intern terhadap kas.
            Pada umumnya suatu system pengawasan intern terhadap kas akan memisahkan fungsi-fungsi penyimpanan, pelaksana dan pencatatan. Tanpa adanya fungsi seperti diatas, akan mudah menggelapkan uang kas.
            Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
1. Perceived Opportunity (Kesempatan seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan kecurangan)
Perilaku seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan kecurangan dapat terjadi karena Sistem Pengendalian Intern yang lemah dan kurang memberikan kejelasan. Tindakan kecurangan tidak akan berhasil dalam suatu organisasi dimana terdapat Sistem Pengendalian Intern yang kuat dan kesadaran karyawan dalam menjalankan tugasnya dengan baik.
2. Rasionalisasi (Pemikiran perilaku)
Dalam pemikiran mereka, dengan merasionalisasikan perilakunya, pelaku kecurangan biasanya secara modal telah memperoleh suatu alasan terhadap kejahatan mereka.
Karena bentuk dan jenis perusahaan ada bermacam-macam, maka system pengawasan intern suatu perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lain . Tetapi ada dasar-dasar tertentu yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan pengawasan terhadap kas.

a. Penerimaan Uang
Penerimaan uang dalam suatu perusahaan bisa berasal dari beberapa sumber antara lain dari penjualan unai, pelunasan piutang, atau dari pinjaman. Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan antara lain :
1)      Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
2)      Diadakan pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi pencatatan kas.
3)      Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
b. Pengeluaran kas
Pengeluaran kas dalam suatu perusahaan itu adalah untuk membayar bermacam-macam transaksi. Apabila pengawasan tidak dijalankan dengan ketat, sering kali jumlah pengeluaran diperbesar dan selisihnya digelapkan. Beberapa prosedur pengawasan yang penting sebagai berikut :
1. Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang lengkap atau digunakan system voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan yang mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
            Dengan diterapakan prinsip-prinsip pengawasan intern terhadap kas seperti yang telah disebutkan diatas, timbul beberapa masalah, yaitu mengenai pembentukan kas kecil dan adanya rekening giro bank yang memerlukan dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dana kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran – pengeluaran yang jumlahnya relative kecil dan tidak ekonomis bila dibayar dengan cek. Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu (a) system imprest (b) metode fluktuasi.
a. Sistem Imprest.
Didalam system ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap,yaitu sebesar cek yang diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Oleh kasir kas kecil, cek tadi diuangkan ke bank dan uangnya digunakan untukmembayar pengeluaran-pengeluaran kecil. Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil harus membuat bukti pengeluaran.
b. Metode Fluktuasi
Dalam metode fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan dengan cara sama seperti dalam metode system imprest. Perrbedaan dengan system imprest adalah dalam metode fluktuasi saldo rekening kas kecil tidak tetap, tetapi
berfluktuasi sesuai dengan jumlah pengisian kembalidan pengeluaran-pengeluaran dari kas kecil. Dalam metode fluktuasi setiap terjadi pengeluaran uang dari kas kecil langsung dicatat. Jadi buku pengeluarna kas kecil mempunyai fungsi sebagai buku jurnal dan menjadi dasar pembukuan kerekening-rekening buku besar.Karena pencatatan dilakukan setaip kali terjadi pengeluaran, maka rekening kas kecil didebit sebesar uang yang diterima.
2. Rekonsiliasi Laporan Bank
Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dans etiap pengeluaran uang (kecuali jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat dibandingkan dengan laporan bank. Biasanya laporan bank diterrima bulanan dan akan direkonsiliasi dengan catatan kas dan catatan bank. Selain itu rekonsiliasi juga beguna untuk mengetahui penerimaan atau pengeluaran yang sudah terjadi di bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi laporan bank sebaiknya dibuat oleh pegawai yang tidak mempunyai kepentingan terhadap kas, agar penyusunan rekonsiliasi bank ini dapat digunakan untuk mengecek catatan-catatan kas dan bank. Dalam membuat rekonsiliasi laporan bank perlu diketahui bahwa yang direkonsiliasikan itu adalah catatan perusahaan dan bank, sehingga harus dibuat perbandingan antara keduanya agar dapat diketahui perbedaan-perbedaan yang ada.
Hal-hal yang menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai penerimaan tetapi belum dicatat oleh bank.
Contoh :
a. Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum diterima oleh bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam perjalanan).
b. Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, atetapi dilaporkan sebagai setoran bulan berikutnya,karena laporan bank sudah terlanjur dibuat (setoran dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang tidak disetorkan ke bank.
2. Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan
Contoh :
a. Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum dicatat dalam buku perusahaan (jasa giro).
b. Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai penerimaan tetapi perusahaan belum mencatatnya.
3. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai pengeluaran tetapi bank belum mencatatnya.
Contoh :
a. Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang sudah dikeluarkan oleh perusahaan dan sudah dicatat sebagai pengeluaran kas tetapi oleh yang meneriman belum diuangkan sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b. Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran uang tetapi ceknya belum diserahkan kepada yang dibayar,maka cek tersebut belum merupakan pengeluaran oleh karena itu jurnal pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir periode.
4. Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Contoh :
a. Cek dari langganan yang ditolak oleh perusahaan karena kosong tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
b. Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas) tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
c. Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda :
1. Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2. Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dansaldo akhir yang bisa dibuat 2 bentuk :
a. Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b. Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukan saldo yang benar (8 kolom).



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Kas merupakan aktiva lancar yang paling liquid dan terdiri dari “pos-pos” yang berlaku sebagai alat tukar dan memberikan dasar pengukuran akuntansi atau seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk lainnya yang dapat diuangkan setiap saat apabila perusahaan membutuhkan.
            Yang termasuk dalam kas menurut pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk peluanasan utang, sebagai setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau bilyet, traveller’s checks, cashier’s checks, bank draft dan money order.
            Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
1. Perceived Opportunity (Kesempatan seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan kecurangan)
2. Rasionalisasi (Pemikiran perilaku) pedoman untuk mengadakan pengawasan terhadap kas :
1. Penerimaan Uang
Prosedur-prosedur pengawasan yang dapat digunakan antara lain :
a)      Harus ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan setiap penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
b)      Diadakan pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
2. Pengeluaran kas
prosedur pengawasan yang penting sebagai berikut :
1. Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran kecil dibayar dari kas kecil.
2. Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3. Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang lengkap atau digunakan system voucher.
4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang menulis cek, yang menandatangani cek dan yang mencatat pengeluaran kas.
5. Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
Pembentukan kas kecil dan adanya rekening giro bank yang memerlukan dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu (a) system imprest (b) metode fluktuasi.
2. Rekonsiliasi Laporan Bank
Apabila setiap penerimaan uang disetor ke bank dan setiap pengeluaran uang (kecuali jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat dibandingkan dengan laporan bank. 
B. Saran
            Dengan memperhatikan pembahyasan diatas  maka disarankan bagi setiap perusahaan harus memahami betul pengendalian internal kas perusahaan mengingat kas merupakan aktiva yang paling liquid dan memiliki tingkat perputaran yang terus-nerus pada setiap badan usaha.

DAFTAR PUSTAKA
Jusup , Al. Haryono. 2005. Dasar – dasar Akuntansi. Yogyakarta:  STIE YKPN.

Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
           
            S. Warren, Carls. James M. Reeve, Philip E. Fess. 2006. Pengantar Akuntansi.        Jakarta: Salemba Empat.

[1] Mulyadi, Sistem Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta, 2001, hlm. 163
[2] Carls S. Warren, James M. Reeve, Philip E. Fess, Pengantar Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta, 2006, hlm. 363
[3] Ibid, hlm. 366
[4] Al. Haryono Jusup, Dasar – dasar Akuntansi, STIE YKPN, Yogyakarta, 2005, hlm. 15
http://dahlanforum.wordpress.com/2008/01/07/kas/
http://catatan-akt.blogspot.com/2008/07/pengendalian-intern-terhadap-kas.html
http://www.scribd.com/doc/11320626/-Definisi-Pengendalian-Internal?secret_password=&autodown=doc
jurnal ilmiah Siti Nurhayati Nafsiah
Kosasih, Ruchyat.1985.Auditing Prinsip dan Prosedur buku satu.Bandung:Ruchko
Tuanakotta, Theodorus M.1982.Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik.Jakarta:LPFE UI

Contoh Proposal Penelitian kepemimpinan ab-normal menurut mahasiswa



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini semakin banyak orang yang tertarik dengan pembahasan tentang kepemimpinan. Buku-buku yang membahas akan hal itu habis terjual. Seminar dan pembahasan mengenai kepemimpinan rasanya tidak akan ada habisnya. Semua orang berusaha mengidentifikasi pemimpin seperti apa dirinya tersebut, Menjadi pemimpin itu mudah, tapi itu bagi mereka yang terbiasa. Hal ini akan menjadi rumit ketika dihadapkan pada seseorang yang tidak mengenal bagaimana cara kepemimpinan yang baik. Memimpin bukan hanya terletak pada sebuah seni, melainkan ada juga dasar keilmuan yang menyertainya
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kecil.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mamapu mengelola lingkungan dengan baik.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan sosial manusi pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok dan lingkungannya dengan baik. Khususnya penanggulan masalah. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dengan baik.
 Pemimpin merupakan cerminan dan indikator kenberhasilan suatu unit organisasi. Seorang pemimpin adalah motivator bagi suatu sistem organisasi, sehingga organisasi tersebut berjalan dengan kapasitas maksimalnya dan menghaasilkan suatu kinerja yang maksimal pula tentunya
Pada kenyataanya pimempin masi banyak yang tidak mengerti bagaimana kepemimpinann yang baik, mereka merasa sudah baik namun mereka tidak tau bahwa kepemimpinan mereka kadang masi ab-normal/tidak wajar dimata orang lain , oleh karena itu penulis perlu mengadakan penelitian yang berjudul “kepemimpinan ab-normal menurut mahasiswa”
B.      Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi fokus penelitian dalam penyusunan proposal ini antara laian sebagai  berikut :
1.      Fungsi kepemimpinan
2.      Gaya kepemimpinan
3.      Kinerja kepemimpinan
4.      Prilaku kepemimpinan
5.      Sikap kepemimpinan
C.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah fungsi kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
2.      Bagaimanakah gaya kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
3.      Bagaimanakah kinerja kepeimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
4.      Bagaimanakah perilaku kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
5.      Bagaimanakah sikap keemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
D.    Tujuan Penelitian
1.      Tujuan umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui Fungsi kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
b.      Untuk mengetahui Gaya kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
c.       Untuk mengetahui Kinerja kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
d.      Untuk mengetahui Prilaku kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
e.       Untuk mengetahui Sikap kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa


E.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat praktis
a.       Bagai instasi atau lembaga publick
bahan masukan dalam mengevaluasi mutu kinerja pimpinan khususnya pimpinan
b.      Bagi pemimpin
Sebagai bahan masukan dalam langka meningkatkan provesionalisme dalam memimpin
2.      Manfaat teoritis
a.       Bagi instasi pendidikan
Sebagai bahan masukan pada program penelitian danpengembangan khususnya dalam lingkup kepemimpina
b.      Bagi peneliti
Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam hal menambah ilmu serta wawasan pengalaman terutama dalam lingkup praktek kepemimpinan


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian dan Tugas Pemimpin
1.      Pengertian
Menurut Stoner, kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan – kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.
Kepemimpinan sering disebut dengan leadership yaitu suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok. Kepemimpinan juga didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula.
 Menurut Handoko (1986: 294) Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseorang untuk memepengaruhi orang-orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.

Menurut Ningrat (1980: 64) Kepemimpinan itu merupakan suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberi perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

George (dalam Gouzali,2000:700) mengemukakan teorikepemimpinan sebagai berikut:” Leadership is activity ofinfluencing people to strive willingly for mutualobjectives”. Dalam teori tersebut menekankan bahwakepemimpinan merupakan keseluruhan kegiatan(aktivitas) untuk mempengaruhi kemauan orang lainuntuk mencapai tujuan bersama.Robert (dalam Gouzali, 2000:700) bahwa”Leadership isthe exercises of authority and the making of decisions”.Teori tersebut pada prinsipnya menekankan bahwakepemimpinan adalah sebagai aktivitas pemegangkewenangan serta pengambil keputusan.
Sedangkan pemimpin adalah terjemahan leader/head/manager, yang juga disebut kepala/ketua/direktur, dan lain sebagainya. Menurut Drs.H.Malayu S.P.Hasibuan, pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan. Manajer adalah seseorang yang mencapai tujuannya melalui kegiatan – kegiatan orang lain. Jadi, pemimpin itu harus mempunyai bawahan, harus membagi pekerjaannya, dan harus tetep bertanggung jawab terhadap pekerjaan tersebut. Pemimpin harus mengutamakan tugas, tanggung jawab, dan membina hubungan yang harmonis, baik dengan atasan maupun dengan para bawahannya. Jadi, pemimpin harus mengadakan komunikasi ke atas dan ke bawah, baik komunikasi formal maupun informal.


2.      Tugas kepemimpinan
Tugas seorang pemimpin adalah
a.       Managerial cycle adalah siklus “ pengambilan keputusan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, penilaian dan pelaporan. Dengan demikian tugas – tugas manajer adalah siklus yang berulang – ulang mulai dari pengambilan keputusan menerima laporan.
b.      Memotivasi, artinya seorang manajer harus dapat mendorong para bawahannya untuk bekerja giat dan membina bawahan dengan baik, sehingga tercipta suasana kerja yang baik dan harmonis.
c.       Manajer harus berusaha memenuhi kebutuhan – kebutuhan para bawahannya, supaya loyalitas dan partisipasinya meningkat.
d.      Manajer harus dapat menciptakan kondisi yang akan membantu bawahannya mendapat kepuasan dalam pekerjaannya.
e.       Manajer harus berusaha agar para bawahannya bersedia memikul tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas – tugasnya dengan baik.
f.       Manajer harus bisa berusaha membina bawahannya, agar dapat bekerja efektif dan efisien.
g.      Manajer harus membenahi fungsi – fungsi fundamental manajemen secara baik.
h.      Manajer harus mewakili dan membina hubungan yang harmonis dari pihak – pihak luar.
i.        Manajer harus bertanggung jawab atas keselamatan kerja para bawahannya selama melakukan pekerjaan.
j.        Manajer harus mengadakan pembagian pekerjaan dan mengkordinasi tugas – tugas supaya terintegrasi kepada tugas – tugas yang diinginkan.
k.      Manajer harus bersedia menjadi penanggung jawab terakhir mengenai hasil yang dicapai dari proses manajemen itu.
B.     Fungsi Kepemimpinan
Fungsi Kepemimpinan (Leadership Function) yaitu aktivitas yang dipertahankan kelompok dan berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemimpin, atau seseorang lain, agar kelompok dapat berfungsi secara efektif. Para peneliti yang mengamati fungsi kepemimpinan sampai pada kesimpulan bahwa agar beroperasi secara efektif kelompok memerlukan seseorang melakukan dua fungsi utama:
1.      Fungsi yang berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah
2.      Fungsi memelihara kelompok atau sosial, termasuk tindakan yang menengahi perselisihan dan memastikan bahwa individu merasa dihargai.
Seseorang yang mampu melaksanakan keduanya dengan sukses akan menjadi pemimpin yang efektif. Akan tetapi dalam prakteknya seorang pemimpin mempunyai keterampilan atau yang hanya menggunakan 1 saja. Walaupun demikian tidak berarti kelompok ini bernasib malang.

C.    Teori Kepemimpinan
Kreitner (2007) menyebutkan adanya empat teori kepemimpinanyang terentang sejak tahun 1950-an sampai saat ini. Keempat teori adalah trait theory, behavioral styles theory, situational theory, dan transformational theory.
Selain empat teori tersebut, masih terdapat empat teori kepemimpinan yang secara luas dikenal dalam kepustakaan manajemen.
1.      Teori Orang-orang Besar (Great Man Theory)
Menurut teori ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang memiliki berbagai cirri-ciri individu yang sangat berbeda dengan kebanyakan manusia lainnya. Cirri-ciri tersebut mencakup karisma, intelegensia, kebijaksanaan, dan dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan yang member dampak besar bagi manusia. Karisma sendiri menunjukkan kepribadian seseorang yang dicirikan oleh pesona pribadi, daya tarik.
2.      Teori Ciri-ciri Pemimpin (Trait Theory)
Teori ini memfokuskan perhatiannya untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik pemimpin yang menyebabkan seseorang dapat menjalankan kepemimpinan secara efektif.

Ciri-ciri pemimpin efektif menurut Stogdill (1974) dalam Trait Theory
a.       Kecerdasan
b.      Pengetahuan dan keahlian
c.       Dominasi
d.      Rasa percaya diri
e.       Toleransi
f.       Kematangan
Berbagai cirri tersebut sangat dibutuhkan oleh pemimpin agar dapat menjalankankepemimpinannya secara efektif. 
3.      Teori Perilaku (Behavioral Styles Theory)
Pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
4.      Teori Situasional (Situational Theory)
Para penganut teori ini memiliki keyakinan berdasarkan penelitian yang mereka lakukan bahwa efektivitas gaya kepemimpinan sangat bergantung kepada situasi yang melingkupinya. Oleh sebab itu mereka mempunyai suatu asumsi bahwa kepemimpinan sesuai dengan situasi.Salah seorang peneliti yang termasuk ke dalam teori ini adalah Fred E. Fiedler (Kreitner 2007). Teori dari Fiedler dibangun dari beberapa asumsi utama sebagai berikut:
Kinerja seorang pemimpin bergantung kepada kepada dua factor yang saling berhubungan, yaitu:
a.       Sejauh mana situasi tertentu dapat memberikan pemimpin tersebut kendali dan pengaruh-pengaruh sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan sukses.
b.      Motivasi mendasar dari seorang pemimpin yakni apakah kepuasan diri pemimpin tersebut bergantung terutama pada penyelesaian pekerjaan ataukan bergantung kepada hubungan erat yang bersifat mendukung dengan pihak lain.
5.      Teori Kepemimpinan Transaksi (Transactional Leadership Theory)
Menurut teori ini karyawan akan termotivasi oleh imbalan maupun hukuman. Menurut teori ini, seorang pemimpin akan dapat menjalankan kepemimpinannya secara efektif apabila ia mampu mengembangkan struktur kerja yang jelas sehingga para manajer tersebut akan dapat merumuskan dengan tepat apa saja yang dibutuhkan oleh para bawahanagar bias melaksanakan pekerjaan dengan baik serta memberikan imbalan yang sesuai dengan kinerjanya.
6.      Teori Kepemimpinan Transformasi (Transformational Leadership Theory)
Teori kepemimpinan transformasi didasari oleh hasil penelitian mengenai adanya perilaku kepemimpinan di mana para pemimpin yang kemudian di kategorikan sebagai pemimpin transformasi (Transformational Leader) yang memberikan inspirasi kepada sumber daya manusia yang lain dalam organisasi untuk mencapai sesuatu melebihi apa yang di rencanakan oleh organisasi.
Karakteristik pemimpin transformasi memiliki perbedaan dengan pemimpin transaksi, yaitu pemimpin transaksi biasanya mengarahkan sumber daya manusia untuk mencapai sesuatu sesuai dengan rencana dan lebih mengandalkan kepemimpinannya kepada kekuasaan legitimasi
D.    Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yang kita tunjukan dan sebagai yang diketahui pihak lain ketika berusaha mempengaruhi kegiatan orang lain. Kedua fungsi kepemimpinan berhubungan dengan tugas dan pemeliharaan kelompok, yang diekspresikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda.
Dua gaya kepemimpinan tersebut adalah:
1.      Gaya dengan orientasi tugas (task-oriented)
Sebagai pemimpin mengawasi dan mengarahkan bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas telah dilaksanakan sesuai yang diinginkan. Gaya ini lebih memperhatikan pelaksanaan pekerjaan dari pada kepuasan pribadi.
2.      Gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented)
Gaya ini klebih menekankan pada motivasi daripada mengawasi mereka. Mereka mencari hubungan bersahabat, saling percaya, dan saling menghargai sesama karyawan, dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengambil keputusan.
3 gaya kepemimpinan (leadership styles) menurut (Kreitner, 2007) yaitu:
1.      Gaya kepemimpinan otoriter (Authoritarian leadership style)
Sifat kepemimpinan otoriter:
a.       Biasanya pemimpin menahan seluruh kewenangan dan tanggung jawab.
b.      Pemimpin menugaskan seseorang melaksanakan tugas tertentu.
c.       Komunikasi lebih banyak mengalir dari atas kebawah.
Kekuatan utama dalam gaya kepemimpinan ini memberikan tekanan untuk menghasilkan kinerja yang teratur. Tetapi juga memiliki kelemahan utama yang dapat memandulkan inisiatif pribadi.
2.      Gaya kepemimpinan demokratis (democratic leadership style)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya karyawan lebih menyukai gaya kepemimpinan demokratis, karena karyawan merasa dilibatkan dalam pegambilan keputusan.
Sifat kepemimpinan demokratis:
a.       Pemimpin memberikan sebagian wewenang dan tetep mempertahankan tanggung jawab utama
b.      Pekerjaan dibagi berdasarkan partisipasi seseorang dalam pengambilan keputusan

3.      Gaya kepemimpinan laissez-fair (Laissez faire leadership style)
Dengan demikian pemimin yang menggunakan gaya kepemimpinan ini cenderung memberikan kebebasan yang sangat besar kepada bawahannya untuk melakukan suatu pekerjaan.
Sifat kepemimpinan ini adalah:
a.       Pemimpin menyerahkan tanggung jawab dan wewenang kepada kelompok.
b.      Para anggota kelompok diminta untuk mengerjakan sesuai dengan kehendak mereka dan sesuai dengan kemampuan mereka.
c.       Komunikasi lebih banyak diantara para rekan kerja
Kekuatan utama dalam kepemimpinan ini adalah memungkinkan timbulnya inisiatif untuk melakukan suatu pekerjaan yang dianggap sesuai tanpa harus ada campur tangan dari atasan.Kelemahan dalam kepemimpinan ini adalah tanpa adanya arahan yang jelas dari pimpinan, maka kelompom dapat terombang-ambing tanpa tujuan yang jelas.
Menurut peneliti lain yang termasuk dalam kelompok Behavioral Styles Theory yaitu Robert R. Blake dan Jane S. Mouton yang menggunakan factor “perhatian terhadap produksi (concern for production)” Pada sumbu horizontal yang mencakup didalamnya keinginan untuk mencapai jumlah pengeluaran produksi yang lebih besar. Sedangkan pada sumbu vertikal, Blake dan Mouton menggunakan “perhatian terhadap manusia (concern for people) yang mencakup didalamnya peningkatan  persahabatan, membantu rekan kerja dalam menyelesaikan suatu tugas.
E.     Tipe Kepemimpinan
Tiga tipe dasar pemimpin sebagai bentuk-bentuk proses pemecahan masalah dan mengambil keputusan, adalah sebagai berikut: ( Ningrat (1980:76)
1.      Pemimpin Otokratis
Pemimpin yang bersifat otokratis memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut: memberikan perintah-perintah yang selalu diikuti, menentukan kebijaksanaan karyawan tanpa sepengetahuan mereka. Tidak memberikan penjelasan secara terperinci tentang rencana yang akan dating, tetapi sekedar mengatakan kepada anggotanya tentang langkah-langkah yang mereka lakukan dengan segera dijalankan. Memberikan pujian kepada meraka yang selalu menurut kehendaknya dan melontarkan kritik kepada mereka yang tidak mengikuti kehendaknya. Selalu jauh dengan anggota sepanjang masa.
2.      Pemimpin Demokratis
Pemimpin demokratis hanya memberikan perintah setelah mengadakan musyawarah dahulu dengan anggotanya dan mengetahui bahwa kebijaksanaannya hanya dapat dilakukan setalah dibicarakan dan diterima oleh anggotanya. Pemimpin tidak akan meminta anggotanya mengerjakan sesuatu tanpa terlebih dahulu memberitahukan rencana yang akan mereka lakukan. Baik atau buruk, benar atau salah adalah persoalan anggotanya dimana masing-masing ikut serta bertanggung jawab sebagai anggotanya.
3.          Pemimpin Liberal atau Laissez-Faire
Pemimpin liberal yaitu kebebasan tanpa pengendalian. Pemimpin tidak memimpin atau mengendalikan bawahan sepenuhnya dan tidak pernah ikut serta dengan bawahanny
Dari ketiga gaya kepemimpinan diatas dapat diambil kesimpulan yang baik adalah gaya kepemimpinan yang demokratis dengan karakteristik sebagai berikut: Siagian (1988:18)
a.      Kemampuan mempertahankan organisasi sebagai suatu totalitas dengan menempatkan semua satuan organisasi pada proporsi yang tepat dengan tergantung pada sasaran yang ingin dicapai oleh organisasi yang bersangkutan pada kurun waktu tertentu.
b.      Mempunyai persepsi yang holistik mengenai organisasi yang dipimpinnya.
c.       Menempatkan organisasi sebagai keseluruhan diatas kepentingan diri sendiri atau kepentingan kelompok tertentu dalam organisasi.
d.      Mengakui dan menjunjung tinggi harkat dan martabat para bawahannya sebagai makhluik sosial dan sebagai individu yang mempunyai jati diri yang khas.
e.       Sejauh mungkin memberikan kesempatan kepada para bawahannya berperan serta dalam prosas pengambilan keputusan terutama yang menyangkut tugas para bawahan yang bersangkutan.
f.       Terbuka terhadap ide, pandangan dan sasaran orang lain termasuk bawahannya.
g.      Memiliki perilaku keteladanan yang menjadi panutan kepada para bawahannya.
h.      Bersifat rasional dan objektif dalam menghadapi bawahan terutama dalam menilai perilaku dan prestasi kerja karyawan.
i.        Selalu berusaha menumbuhkan dan memelihara iklim kerja yang kondusif dan kreatif bawahan.

F.     Sikap Kepemimpin
1.      Berwibawa dan Tegas.
Bersikap wibawa merupakan cerminan akan kharakter dan pribadi seorang pimpinan yang lugas dan tegas. Tegas dalam artian dengan aturan dan norma kerja yang ada.
2.      Fokus.
 Menjadi seorang pemimpin tentunya harus bersikap fokus akan tanggung jawab terhadap pekerjaan, berkontribusi dalam memberikan arah tujuan yang baik, dan lebih mementingkan prioritas utama dengan prioritas pribadi.
3.      Visi dan Misi
Seorang Pemimpin yang baik harus memiliki visi dan misi yang baik, karena pimpinan yang baik harus menyampaikan tujuan visi dan misinya, agar bawahannya memiliki motivasi untuk mencapai target yang sama, sehingga pimpinan bisa memberikan bimbingan untuk mengerakkaan timnya menuju tujuan yang telah ditentukan.
4.      Rendah Hati.
            Seorang pimpinan mampu mendengarkan bawahannya. Agar pimpinan tidak memutuskan segala hal secara sepihak yang memungkinkan para anggota sebenarnya tidak sepaham dengan keputusan pimpinan. Dan yang terakhir berikan pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan oleh anggota tim Anda. Tunjukan bahwa Anda menghargai kerja keras mereka. Menurut William Glasser dalam bukunya, Choice Theory, sesungguhnya di dalam situasi yang paling ekstrem sekalipun, seseorang tidak dapat dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan. Jikalau orang tersebut mau mengerjakan pekerjaan yang dipaksakan itu, biasanya hasil kerjanya tidak memuaskan
G.    Prilaku Kepemimpinan
William menyebutkan delapan ciri perilaku yang menggambarkan sifat seorang pemimpin yang baik.

1.      Beri teladan tentang arti sukses kepada bawahan.
Alasan umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidakadaan tujuan dan arah sering mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya.
2.      Beri bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan.
Banyak orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah bawahannya. Namun, sebenarnya itu bukan tugas Anda sebagai atasan. Daripada terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah orang lain, lebih baik berikan bawahan Anda cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3.      Jangan sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan
 Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi terhadap hasil kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas dan membangun kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi.
4.      Berikan ruang untuk kesalahan.
 Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik bagi pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan yang dilakukan bawahan. Terkadang kesalahan dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus bekerja, tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5.      Delegasikan tugas tanpa banyak turut campur
 Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi kendala pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan diri Anda selalu ada untuk membantu saat mereka membutuhkan Anda.
6.      Lebih baik bertanya daripada memberi nasihat
Seringkali bawahan Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda pikir mereka ketahui. Tanyakan pendapat mereka tentang masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di kantor. Dengan demikian, Anda membantu mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar terbaik dari masalah tersebut. Hindari memberi nasihat, karena akan terkesan menggurui.
7.      Bersikaplah ramah.
Aturan mainnya sungguh sederhana. Jangan berharap orang lain bersikap ramah kepada Anda jika Anda sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri bawahannya. Dengan bersikap ramah, Anda akan selalu bisa melihat sisi positif dari setiap karyawan Anda dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.
8.      Tak kenal maka tak sayang.
 Kepemimpinan erat terkait dengan hubungan antar manusia. Saat bawahan percaya bahwa Anda tulus peduli dengan mereka, mereka akan berusaha lebih baik dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan Anda, dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan seseorang dapat dilihat dari kualitas hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya. Disarikan dari : Intisari dan sumber lain
















BAB III
METODOLOGI  PENELITIAN

A.    Metode Dan Alasan Menggunakan Metode
Berdasarkan sumber data, jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Jadi prosedur penelitian ini, akan menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari mahasiswa-mahasisw .Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena secara apa adanya.
B.     Tempat Dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Penelititan ini Akan dilakukan di UNIVERSITAS HALUOLEO.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 15 Maret 2013 – selesai
C.    Jenis Data Penelitian
Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas
1.      Rekaman audio dan video
2.      Catatan lapangan
3.      Dokumentasi
4.      Foto


D.    Sumber Data Penelitian
Sumber data terdiri atas:
a.       Unsur manusia sebagai instrumen kunci
Manusia sebagai instrumen kunci merupakan peneliti itu sendiri, sebagai peneliti yang mengimput berbagai data penelitian berdasarkan fakta yang ditemui di masyarakat.
b.      Unsur informan yang terdiri atas mahasiswa FKIP universitas negri haluoleo kendari.
c.       Unsur non manusia sebagai data pendukung penelitian
E.     Teknik Penentuan Informan
a.       Purposif sampling
b.      Snowball sampling
c.       Triangulasi
F.     Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada beberapa jenis pengumpulan yang digunakan penulis yaitu:
1.      Wawancara,
yang merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung kepada responden, dalam hal ini kepada mahasiswa Observasi, yang merupakan metode pengumpulan data dengan cara wawancara dan pencatatan terhadap data yang ditemukan di lapangan. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan metode wawancara bebas terpimpin, yaitu peneliti bebas menanyakan apa saja, akan tetapi mempunyai sederet pertanyaan yang terperinci dalam pola komunikasi langsung. Dalam penelitian ini yang menjadi sasaran wawancara adalah mahasiswa FKIP UNIVERSITAS HALUOLEO
Adapun data yang ingin diperoleh dari metode wawancara adalah bagaimana Fungsi kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa, Gaya kepemimpinan yang ab-normal, Kinerja kepemimpinan yang ab-normal, Prilaku kepemimpinan yang ab-normal, dan Sikap kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
2.      Studi Dokumen
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, dan sebagainya

G.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif naratif, menurut Miles dan Huberman (1992) yang melalui tiga alur, yaitu :
1.      Reduksi data
Data yang di peroleh di lapangan di analisis dipilih yang penting, lalu membuat kategori dimana data yang sejenis di kumpulkan menjadi satu lalu membuang data yang tidak diperlukan
2.      Penyajian data
Dilakukan dalam bentuk uraian singkat dengan tes yang bersifat naratif
3.      Penarikan kesimpulan
Dari kumpulan makna setiap kategori, penulis berusaha mencari esensi dari setiap tema yang disajikan dalam teks naratif yang berupa fokus penelitian. Setelah analisis dilakukan, maka penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian yang menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan oleh penulis.

H.    Rncana pengujian Keabsahan Data
Dalam penelitian ini akan dilakukan pengecekan keabsahan data melalui :
1.      Kredibilitas data
Perpanjangan pengamatan,Peningkatan ketekunana dalam penelitian, triangulasi. Dan member check
2.      Dependabilitas data
Melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian
3.      Konfirmabilitas data
Menguji hasil penelitian dikaitkan dengan proses yang dilakukan
4.      Tranferabilitas data






I.       Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :