BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian intern atau kontrol intern didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin dan lahan) maupun tidak (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang).
Setiap perusahaan selalu berusaha menciptakan system yang baik untuk keberadaan kasnya. Kas sangat berperan terhadap jalannya operasional perusahaan, bila kasnya sangat terbatas maka operasional perusahaan akan terganggu,demikian juga bila kas yang berlebih akan mengakibatkan timbulnya idle cash, yang merupakan aktiva yang tidak produktif.
B.
Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan
permasalahan terhadap kas yaitu
1.
apa yang dimaksud dengan kas?
2.
apa yang dimaksud dengan pengendalian?
3.
seperti apa pengendalian internal kas pada perusahaan?
4.
Bagaimana meningkatkan pengendalian intern terhadap kas pada suatu perusahaan
atau instansi?
C.
Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dalam
penulisan makalah ini ada sebagaiberikut:
1.
apa yang dimaksud dengan kas?
2.
apa yang dimaksud dengan pengendalian?
3.
seperti apa pengendalian internal kas pada perusahaan?
4.
Bagaimana meningkatkan pengendalian intern terhadap kas pada suatu perusahaan
atau instansi?
D.
Manfaat
Adapun
yang menjadi manfaat dalam penulisan makalah ini kiranya dapat menjadi sumbangan
pikiran dan sebagai bahan bacaan dan referensi bagi pemakalah selanjutnya
BAB
II
PEMBAHASAN
Untuk
menjawab permasalahan diatas, pada bagian yang pertama saya akan uraikan
pengertian kas, dan komposisi kas. Pada bagian kedua akan diuraikan tentang
pengendalian intern terhadap kas.
A.
Pengertian Kas
Menurut Munawir
(1983:14), pengertian kas adalah sebagai berikut:
Kas
merupakan uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan,
termasuk dalam pengertian kas adalah cek yang diterima dari para pelanggan dan
simpanan perusahaan di bank dalam bentuk giro atau demand deposit, yaitu
simpanan di bank yang dapat diambil kembali (dengan menggunakan cek atau
bilyet).
Pendapat
lainnya juga hampir sama di kemukakan oleh: Theodarus M. Tuanakotta, AK,
(1982:150) dalam bukunya Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik, yaitu:
Kas
dan bank meliputi uang tunai dan simpanan-simpanan di bank yang langsung dapat
diuangkan pada setiap saat tanpa mengurangi nilai simpanan tersebut. Kas dapat
terdiri dari kas kecil atau dana-dana kas lainnya seperti penerimaan uang tunai
dan cek-cek (yang bukan mundur) untuk disetor ke bank keesokan harinya.
Menurut PSAK No.2 2002,
kas difenisikan sebagai berikut:
Kas
terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro dan setara kas (cash
equivalent)adalah investasi yang sifatnya sangat likuid berjangka pendek dan
dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa menghadapi resiko
perubahan nilai yang signifikan.
Menurut
PSKA No.9 2002, Kas didefinisikan sebagai berikut: “Kas ialah alat pembayaran
yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan”.
Menurut (Baridwan,
2002:85) Kas didefinisikan sebagai:
“Kas
merupakan salah satu alat pertukaran dan juga digunakan sebagai ukuran dalam
akuntansi. Dalam neraca, kas merupakan aktiva yang paling lancar, dalam arti
paling sering berubah. Hampir pada setiap transaksi dengan pihak luar selalu
mempengaruhi kas. Daya beli uang bisa berubah-ubah mungkin naik atau turun
tetapi penurunan daya beli ini tidak akan mengakibatkan penilaian kembali
terhadap kas.”
Menurut
(Sartono, 2000 : 519 ) menyatakan bahwa Kas adalah seluruh uang tunai yang ada
ditangan ( cash on hand ) dan dana yang disimpan dibank dalam berbagai bentuk
deposito dan rekening koran.
Menurut (Indrigo dan
Basri, 1999 : 61 ) menyatakan bahwa:
Kas
dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang ada dalam perusahaan beserta
pos-pos lain dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sebagai alat pembayaran
kebutuhan financial yang mempunyai sifat paling tinggi tingkat likuiditas.
Sedangkan
menurut (Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti, 1998 : 111 ) menyatakan bahwa :Kas
merupakan bentuk aktiva yang paling likuid yang bisa dipergunakan segera untuk
memenuhi kewajiban financial perusahaan.
Jadi kas merupakan aktiva lancar
yang paling liquid dan terdiri dari “pos-pos” yang berlaku sebagai alat tukar
dan memberikan dasar pengukuran akuntansi atau seluruh uang tunai dan
bentuk-bentuk lainnya yang dapat diuangkan setiap saat apabila perusahaan membutuhkan.
B.
Komposisi Kas
Yang termasuk dalam kas menurut
pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk
peluanasan utang, sebagai setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau
tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang
kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau
bilyet, traveller’s checks, cashier’s checks, bank draft dan money order. Untuk
dapat digolongkan sebagai kas biasanya dibatasi dengan diterima sebagai setoran
oleh bank dengan nilai nominal tidak dikelompokkan dalam kas. Jika ada wesel
tagih yang diserrahkan ke bank untuk ditagihkan,maka wesel tagih ini tetap
dicatat sebagai piutang wesel sampai dilunasi oleh yang membuat wesel.
Kadang-kadang perangko dapat digunakan untuk pembayaran yang jumlahnya kecil,
tetapi perangko tidak akan diterima sebagai setoran oleh bank, maka perangko
bukan kas.
Cek mundur (post dated checks) tetap dicatat sebagai
piutang sampai tanggal dimana cek dapat diuangkan.Cek mundur termasuk dalam
kelompok piutang.
Surat-surat berharga seperti
saham-saham dan obligasi mungkin dapat segera dijual dan menjadi uang tunai,
tetapi sebelum dujual surat-surat berharga tersebut tidak termasuk kelompok
kas. Sebelum dijual surat berharga tetap dilaporkan sebagai investasi jangka
pendek.
Simpanan dalam bank-bank diluar
negeri menimbulkan suatu masalah khusus karena mata uang yang berbeda.Oleh
karena itu simpanan di bank luar negeri harus dikurskan dalam rupiah.Sering
kali simpanan-simpanan di bank luar negeri tidak dapat diambilsewaktu-waktu,
oleh karena itu dalam neraca simpanan tadi akan dilaporkan terpisah.
Uang kas yang dibatasi
penggunaannya, biasanya dalam bentuk dana, tidak dimasukkan dalam kas tetapi
dilaporkan terpisah sebagai dana.Jika penggunaannya masih dalam waktu satu
tahun, maka termasuk dalam kelompok aktiva lancer, tetapi jika tidak dapat
digunakan dalam waktu satu tahun,maka dilaporkan dalam kelompoka aktiva tidak
lancer.
C.
Pengendalian intern terhadap kas.
Pada umumnya suatu system pengawasan
intern terhadap kas akan memisahkan fungsi-fungsi penyimpanan, pelaksana dan
pencatatan. Tanpa adanya fungsi seperti diatas, akan mudah menggelapkan uang
kas.
Indikator-indikator yang menjadi
penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas
tersebut yaitu:
1. Perceived Opportunity (Kesempatan
seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan kecurangan)
Perilaku
seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan kecurangan dapat terjadi karena
Sistem Pengendalian Intern yang lemah dan kurang memberikan kejelasan. Tindakan
kecurangan tidak akan berhasil dalam suatu organisasi dimana terdapat Sistem
Pengendalian Intern yang kuat dan kesadaran karyawan dalam menjalankan tugasnya
dengan baik.
2. Rasionalisasi
(Pemikiran perilaku)
Dalam
pemikiran mereka, dengan merasionalisasikan perilakunya, pelaku kecurangan
biasanya secara modal telah memperoleh suatu alasan terhadap kejahatan mereka.
Karena
bentuk dan jenis perusahaan ada bermacam-macam, maka system pengawasan intern
suatu perusahaan akan berbeda dengan perusahaan lain . Tetapi ada dasar-dasar
tertentu yang bisa digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan pengawasan
terhadap kas.
a.
Penerimaan Uang
Penerimaan
uang dalam suatu perusahaan bisa berasal dari beberapa sumber antara lain dari
penjualan unai, pelunasan piutang, atau dari pinjaman. Prosedur-prosedur
pengawasan yang dapat digunakan antara lain :
1) Harus
ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan setiap
penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
2) Diadakan
pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi pencatatan kas.
3) Diadakan
pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain itu
setiap hari harus dibuat laporan kas.
b.
Pengeluaran kas
Pengeluaran
kas dalam suatu perusahaan itu adalah untuk membayar bermacam-macam transaksi.
Apabila pengawasan tidak dijalankan dengan ketat, sering kali jumlah
pengeluaran diperbesar dan selisihnya digelapkan. Beberapa prosedur pengawasan
yang penting sebagai berikut :
1.
Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran
kecil dibayar dari kas kecil.
2.
Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3.
Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang lengkap atau
digunakan system voucher.
4.
Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang
menulis cek, yang menandatangani cek dan yang mencatat pengeluaran kas.
5.
Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6.
Diharuskan membuat laporan kas harian.
Dengan diterapakan prinsip-prinsip
pengawasan intern terhadap kas seperti yang telah disebutkan diatas, timbul
beberapa masalah, yaitu mengenai pembentukan kas kecil dan adanya rekening giro
bank yang memerlukan dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dana
kas kecil adalah uang kas yang disediakan untuk membayar pengeluaran –
pengeluaran yang jumlahnya relative kecil dan tidak ekonomis bila dibayar
dengan cek. Dalam hubungannya dengan kas kecil, ada 2 metode yang dapat
digunakan yaitu (a) system imprest (b) metode fluktuasi.
a. Sistem Imprest.
Didalam
system ini jumlah dalam rekening kas kecil selalu tetap,yaitu sebesar cek yang
diserahkan kepada kasir kas kecil untuk membentuk dana kas kecil. Oleh kasir
kas kecil, cek tadi diuangkan ke bank dan uangnya digunakan untukmembayar
pengeluaran-pengeluaran kecil. Setiap kali melakukan pembayaran kasir kas kecil
harus membuat bukti pengeluaran.
b. Metode Fluktuasi
Dalam
metode fluktuasi pembentukan dana kas kecil dilakukan dengan cara sama seperti
dalam metode system imprest. Perrbedaan dengan system imprest adalah dalam
metode fluktuasi saldo rekening kas kecil tidak tetap, tetapi
berfluktuasi
sesuai dengan jumlah pengisian kembalidan pengeluaran-pengeluaran dari kas
kecil. Dalam metode fluktuasi setiap terjadi pengeluaran uang dari kas kecil
langsung dicatat. Jadi buku pengeluarna kas kecil mempunyai fungsi sebagai buku
jurnal dan menjadi dasar pembukuan kerekening-rekening buku besar.Karena
pencatatan dilakukan setaip kali terjadi pengeluaran, maka rekening kas kecil
didebit sebesar uang yang diterima.
2. Rekonsiliasi Laporan
Bank
Apabila
setiap penerimaan uang disetor ke bank dans etiap pengeluaran uang (kecuali
jumlahnya relative kecil) menggunakan cek maka rekening kas akan dapat
dibandingkan dengan laporan bank. Biasanya laporan bank diterrima bulanan dan
akan direkonsiliasi dengan catatan kas dan catatan bank. Selain itu
rekonsiliasi juga beguna untuk mengetahui penerimaan atau pengeluaran yang
sudah terjadi di bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi
laporan bank sebaiknya dibuat oleh pegawai yang tidak mempunyai kepentingan
terhadap kas, agar penyusunan rekonsiliasi bank ini dapat digunakan untuk
mengecek catatan-catatan kas dan bank. Dalam membuat rekonsiliasi laporan bank
perlu diketahui bahwa yang direkonsiliasikan itu adalah catatan perusahaan dan
bank, sehingga harus dibuat perbandingan antara keduanya agar dapat diketahui
perbedaan-perbedaan yang ada.
Hal-hal yang
menimbulkan perbedaan dapat digolongkan sebagai berikut :
1.
Elemen-elemen yang oleh perusahaan sudah dicatat sebagai penerimaan tetapi
belum dicatat oleh bank.
Contoh :
a.
Setoran yang dikirimkan ke bank pada akhir bulan tetapi belum diterima oleh
bank sampai bulan berikutnya (setoran dalam perjalanan).
b.
Setoran yang diterima oleh bank pada akhir bulan, atetapi dilaporkan sebagai
setoran bulan berikutnya,karena laporan bank sudah terlanjur dibuat (setoran
dalam perjalanan).
c. Uang tunai yang
tidak disetorkan ke bank.
2.
Elemen-elemen yang sudah dicatat sebagai penerimaan oleh bank tetapi belum
dicatat oleh perusahaan
Contoh
:
a.
Bunga yang diperhitungkan oleh bank terhadap simpanan, tetapi belum dicatat
dalam buku perusahaan (jasa giro).
b.
Penagihan wesel oleh bank, sudah dicatat oleh bank sebagai penerimaan tetapi
perusahaan belum mencatatnya.
3.
Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh perusahaan sebagai pengeluaran tetapi
bank belum mencatatnya.
Contoh
:
a.
Cek-cek yang beredar (outstanding checks) yaitu cek yang sudah dikeluarkan oleh
perusahaan dan sudah dicatat sebagai pengeluaran kas tetapi oleh yang meneriman
belum diuangkan sehingga bank belum mencatatnya sebagai pengeluaran.
b.
Cek yang sudah ditulis dan sudah dicatat dalam jurnal pengeluaran uang tetapi
ceknya belum diserahkan kepada yang dibayar,maka cek tersebut belum merupakan
pengeluaran oleh karena itu jurnal pengeluaran kas harus dikoreksi pada akhir
periode.
4.
Elemen-elemen yang sudah dicatat oleh bank sebagai pengeluaran tetapi belum
dicatat oleh perusahaan.
Contoh
:
a.
Cek dari langganan yang ditolak oleh perusahaan karena kosong tetapi belum
dicatat oleh perusahaan.
b.
Bunga yang diperhitungkan atas overdraft (saldo kredit kas) tetapi belum
dicatat oleh perusahaan.
c.
Biaya jasa bank yang belum dicatat oleh perusahaan.
Rekonsiliasi
bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda :
1.
Rekonsiliasi saldo akhir yang bisa dibuat dalam 2 bentuk :
a.
Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang
benar
b.
Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
2.
Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dansaldo akhir yang bisa
dibuat 2 bentuk :
a.
Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom).
b.
Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukan saldo yang benar
(8 kolom).
BAB
III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kas merupakan aktiva lancar yang
paling liquid dan terdiri dari “pos-pos” yang berlaku sebagai alat tukar dan
memberikan dasar pengukuran akuntansi atau seluruh uang tunai dan bentuk-bentuk
lainnya yang dapat diuangkan setiap saat apabila perusahaan membutuhkan.
Yang termasuk dalam kas menurut
pengertian akuntansi adalah alat pertukaran yang dapat diterima untuk
peluanasan utang, sebagai setoran ke bank, juga simpanan dalam bank atau
tempat-tempat lain yang dapat diambil sewaktu-waktu. Kas terdiri dari uang
kertas, uang logam, cek yang belum disetorkan, simpanan dalam bentuk giro atau
bilyet, traveller’s checks, cashier’s checks, bank draft dan money order.
Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
Indikator-indikator yang menjadi penyebab terhambatnya Praktek Yang Sehat terhadap Efektivitas Pengelolaan Kas tersebut yaitu:
1.
Perceived Opportunity (Kesempatan seseorang untuk melakukan dan menyembunyikan
kecurangan)
2.
Rasionalisasi (Pemikiran perilaku) pedoman untuk mengadakan pengawasan terhadap
kas :
1.
Penerimaan Uang
Prosedur-prosedur
pengawasan yang dapat digunakan antara lain :
a) Harus
ditunjukkan dengan jelas fungsi-fungsi dalam penerimaan kas dan setiap
penerimaan kas harus segera dicatat dan disetor ke bank.
b) Diadakan
pemisahaan fungsi antara pengurusan kas dengan fungsi pencatatan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
3. Diadakan pengawasan yang ketat terhadap fungsi penerimaan dan pencatatan kas. Selain itu setiap hari harus dibuat laporan kas.
2.
Pengeluaran kas
prosedur
pengawasan yang penting sebagai berikut :
1.
Semua Pengeluaran uang menggunakan cek, kecuali untuk pengeluaran-pengeluaran
kecil dibayar dari kas kecil.
2.
Dibentuk kas kecil yang diawasi dengan ketat.
3.
Penulisan cek hanya apabila didukung bukti-bukti (dokumen) yang lengkap atau
digunakan system voucher.
4.
Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti-bukti pengeluaran, yang
menulis cek, yang menandatangani cek dan yang mencatat pengeluaran kas.
5.
Diadakan pemeriksaan intern dengan jangka waktu yang tidak tentu.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
6. Diharuskan membuat laporan kas harian.
Pembentukan kas kecil dan adanya
rekening giro bank yang memerlukan dilakukannya rekonsiliasi bank.
1. Kas Kecil.
Dalam hubungannya dengan kas kecil,
ada 2 metode yang dapat digunakan yaitu (a) system imprest (b) metode
fluktuasi.
2. Rekonsiliasi Laporan Bank
Apabila setiap penerimaan uang
disetor ke bank dan setiap pengeluaran uang (kecuali jumlahnya relative kecil)
menggunakan cek maka rekening kas akan dapat dibandingkan dengan laporan
bank.
B.
Saran
Dengan memperhatikan pembahyasan
diatas maka disarankan bagi setiap perusahaan
harus memahami betul pengendalian internal kas perusahaan mengingat kas
merupakan aktiva yang paling liquid dan memiliki tingkat perputaran yang
terus-nerus pada setiap badan usaha.
DAFTAR PUSTAKA
Jusup , Al.
Haryono. 2005. Dasar – dasar Akuntansi. Yogyakarta: STIE YKPN.
Mulyadi. 2001. Sistem
Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
S.
Warren, Carls. James M. Reeve, Philip E. Fess. 2006. Pengantar Akuntansi.
Jakarta: Salemba Empat.
[2] Carls S. Warren, James M. Reeve, Philip E.
Fess, Pengantar Akuntansi, Salemba Empat, Jakarta, 2006, hlm. 363
http://dahlanforum.wordpress.com/2008/01/07/kas/
http://catatan-akt.blogspot.com/2008/07/pengendalian-intern-terhadap-kas.html
http://www.scribd.com/doc/11320626/-Definisi-Pengendalian-Internal?secret_password=&autodown=doc
jurnal ilmiah Siti Nurhayati Nafsiah
Kosasih, Ruchyat.1985.Auditing Prinsip dan Prosedur buku satu.Bandung:Ruchko
Tuanakotta, Theodorus M.1982.Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik.Jakarta:LPFE UI
http://catatan-akt.blogspot.com/2008/07/pengendalian-intern-terhadap-kas.html
http://www.scribd.com/doc/11320626/-Definisi-Pengendalian-Internal?secret_password=&autodown=doc
jurnal ilmiah Siti Nurhayati Nafsiah
Kosasih, Ruchyat.1985.Auditing Prinsip dan Prosedur buku satu.Bandung:Ruchko
Tuanakotta, Theodorus M.1982.Auditing Petunjuk Pemeriksaan Akuntan Publik.Jakarta:LPFE UI










