Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts
Showing posts with label LAIN-LAIN. Show all posts

Saturday, 14 May 2016

Pendekatan Ketrampilan Proses Dalam Pembelajaran Ekonomi Kelas X Materi kegiatan ekonomi konsumen dan produsen



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat mengembangkan potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Sedangkan pembelajaran atau proses belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dan siswa atau pembelajar beserta unsur-unsur yang ada di dalamnya. Pembelajaran merupakan bagian dari pendidikan, yang didalamnya ditunjang oleh berbagai unsur-unsur pembelajaran antara lain tujuan, materi pembelajaran lingkungan belajar, metode pembelajaran, serta evaluasi.
Kesemua unsur-unsur pembelajaran tersebut sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui hasil belajar siswa. Sehingga seorang guru dituntut mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang profesional dalam membelajarkan siswa-siswanya.Akan tetapi, pada kenyataannya di daerah pinggir kota hingga perkampungan dan pelosok desa saat ini masih banyak guru-guru yang menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran.
Perkembangan ilmu pendidikan dan teknologi saat ini telah melaju dengan pesat menuju globalisasi. Perkembangan teknologi yang selayaknya memberikan wahana kepada siswa sekaligus mengugah para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih terarah masih dapat belum terealisasi dengan tepat, hal ini belum sesuai dengan harapan masyarkat. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia sangat didambakan oleh seluruh elemen masyarakat, dan salah satu jalur yang tepat dan sesuai untuk meningkatkan sumberdaya manusia adalah melalui jalur pendidikan.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang dikembangkan dalam pendidikan saat ini, menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran dan mempersyaratkan kompetensi sebagai proses belajar yang meliputi tiga ranah yakni pengetahuan, ketarampilan, dan sikap. Permasalahan yang timbul adalah pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal, Termasuk mata pelajaran ekonomi. Disisi lain ada banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik, proses belajar mengajar didalam kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, dimana ceramah menjadi pilihan utama proses pembelajaran, dengan hal ini tentu membuat siswa semakin malas untuk melakukan aktivas yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar.
Seperti halnya yang terjadi di dalam kelas X IPS MA Swasta Annur Azzubaidi. Permasalahan yag timbul ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung dapat dipaparkan sebagai berikut: Pertama, Kurangnya keaktifan siswa dalam kegiatan belajar ekonomi. Misalanya siswa  cenderung diam dalam proses tanya jawab dengan guru, siswa enggan mengerjakan tugas yang diberikan guru, banyak siswa yang belum faham materi pembelajaran akan tetapi siswa tidak  memberitahukan kepada guru mata pelajaran ekonomi untuk mengulangi materi pembelajaran yang belum difahaminya.
Kedua, Guru masih menggunakan pembelajaran konvensional atau pembelajaran tradisional yang sejak dulu telah digunakan sebagai alat komunikasi lisan antar guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru lebih banyak mendominasi pembelajaran sebagai pen-transfer ilmu sementara siswa lebih pasif sebagai penerima ilmu. Ketiga, Perangkat pembelajaran belum memenuhi standar. Perangkat pembelajaran ini berisi silabus, RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), bahan ajar, LKS ( lembar kerja siswa), dan media pembelajaran. Keempat, dari faktor-faktor tersebut maka nampak padahasil nilai ulangan harian dan ujian tengah semester siswa rata-rata 6,30 yang masih dibawah nilai standar kreteria ketuntasan minimal (KKM) sekolah yaitu 7,00.
Hal ini tentu saja membuat keresahan bagi guru serta siswa. Faktor minimnya tenaga pengajar khususnya mata pelajaran ekonomi, guru tidak pernah menerapkan pembelajaran selain pembelajaran konvensional, kurangnya jam pelajaran ekonomi, sarana dan prasarana pendukung proses pembelajaran yang kurang memadai, serta sebagaian besar siswa kurang  aktif untuk mempelajari ekonomi.Disisi lain ada banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik, proses belajar mengajar didalam kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, dimana ceramah menjadi pilihan utama proses pembelajaran.
Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar mengajar dan pembelajaran tersebut berpusat pada siswa, guru didepan kelas sebagai pembimbing dan motivator.Untuk itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, alternatif pemecahannya adalah dengan memilih pendekatan yang tepat dalam pembelajaran ekonomi, salah satunya yaitu dengan menerapkan Pendekatan Keterampilan Proses. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana aktivitas guru  dan aktivitas belajar siswa pada penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran ekonomi.
Bertolak dari uraian di atas, dan dengan penuh pertimbangan serta kenyataan hasil studi pendahuluan bahwa pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ekonomi belum diterapkan di sekolah tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul “Pendekatan Ketrampilan Proses Dalam Pembelajaran Ekonomi Kelas X Materi kegiatan ekonomi konsumen dan produsen pada siswa kelas X.1 Di MASwasta Annur Azzubaidi Tahun Ajaran 2013/2014”.
B.       Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkap diatas, agar penelitian terarah dan tidak terjadi penyimpangan terhadap masalah yang akan dibahas, maka peneliti menetapkan fokus Proses Pembelajaran Ekonomi Dengan Mengunakan Pendekatan Ketrampilan Proses Pada Siswa Kelas X.1 Materi Kegiatan Ekonomi Konsumen Dan Produsen Di MASwasta Annur Azzubaidi.
C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah sebagaimana diungkapkan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana aktivitas guru dalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta Annur Azzubaidi?
2.      Bagaimana aktivitassiswa dalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta Annur Azzubaidi?
D.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1.      Mengetahuai Aktivitas gurudalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta Annur Azzubaidi.
2.      Mengetahui Aktivitas siswa dalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta Annur Azzubaidi.
E.     Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengharapkan penilitian ini bermanfaat sebagai berikut:
1.      Bagi guru kelas X.1MA Swasta Annur Azzubaidi dapat menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, memotivasi belajar, serta membantu siswa dalam meningkatkan minat belajar ekonomi.
2.      Bagi siswa ekonomi kelas X.1MA Swasta Annur Azzubaidi, dapat meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar secara efektif dalam upaya meningkatkan ativitas belajar siswa.
3.      Bagi sekolah, memberikan masukan dalam rangka mengembangkan kurikulum yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
4.      Bagi peneliti, dapat memberikan pengalaman untuk memperkaya wawasan tentang proses pembelajaran yang efektif serta dapat dijadikan acuan atau pembanding bagi penelitian selanjutnya.

5.       
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Pendekatan Ketrampilan Proses
1.      Hakikat Pendekatan Pembelajaran
Menurut Syaiful Sagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”. Pendekatan pembelajaran adalah suatu  cara pandang terhadap obyek yang akan mewarnai seluruh jalannya proses pembelajaran. Atau dapat juga diartikan sebagai skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model, strategi, maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Pada saat ini banyak guru yang masih keliru dalam mengartikan pendekatan pembelajaran, terkadang banyak yang mengartikan bahwa pendekatan itu sama dengan metode atau model pembelajaran. Untuk itu sebelum melangkah kepembahasan yang lebih dalam maka akan lebih baik jika kita mengetahui terlebih dahulu perbedaan antaramodel, pendekatan, motode, strategi, prinsip, teknik, dan taktik pembelajaran agar nantinya kita tidak salah mengartikannya.


Untuk itu maka akan di bahas satu persatu sebagai berikut:
a.       Model pembelajaran
Menurut Taufik (2010:14), model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
b.      Pendekatan pembelajaran
Menurut Taufik (2010:12) pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang  kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. 
Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yairtu:1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada peserta didik (student centered approach) dan 2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
c.       Motode pembelajaran
Menurut Suyono dan Hariyanto (2011:18), Metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah-langkah kegiatan pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode pembelajaran dapat dianggap sebagai sesuatu prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan pembelajaran.
d.      Strategi pembelajaran
Gerlach dan Ely yang dikutif oleh Uno (2008:1) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran dimaksud meliputi sifat lingkup dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman belajar peserta didik.
Wina Senjaya (dalam Taufik 2010:13) mengemukakan bahwa strategi pembelajaranadalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematik sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien.
e.       Prinsip pembelajaran
Prinsip pembelajaran adalah kerangka teoretis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: 1) bahan yang akan dibelajarkan, 2) prosedur pembelajaran (bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajarkan bahan), 3) gurunya, dan 4) siswanya.
f.       Teknik pembelajaran
Menurut Taufik (2010:14), teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
g.      Taktik pembelajaran
Taktik pembelajaranmerupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar1. Desain Pembelajaran


2.      Jenis-Jenis Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat dikatakan suatu pandangan umum terhadap proses pembelajaran yang akan menentukan metode pembelajaran yang akan diterapkan. Untuk itu maka ada beberapa pendekatan pembelajaran ekonomi di SMA antara lain:
a.       Pendekatan tujuan pembelajaran
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:5), “Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai. Sebenarnya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu pendekatan itu dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk keberhasilan suatu tujuan”. Berdasarkan penjelasan tersebut, pendekatan tujuan pembelajaran berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai setelah proses belajar mengajar selesai dilaksanakan.
b.      Pendekatan konsep
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:5), “Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep”. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep merupakan suatu proses bimbingan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa pada saaat proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan siswa menguasai konsep.
c.       Pendekatan lingkungan
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:5), “Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari–hari sering digunakan pendekatan lingkungan”.Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang menjadikan lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat digunakan untuk memahami materi pelajaran yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.
d.      Pendekatan inkuiri
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti”. Jadi pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri lebih menekankan siswa untuk dapat mengendalikan situasi yang berhubungan dengan dunia fisik yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti.


e.       Pendekatan penemuan
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu yang benar – benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut.
Siswa akan melakukan kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang akan ditemukan”. Berdasarkan penjelasan tersebut, proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan penemuan memfokuskan siswa untuk menemukan sendiri fenomena ilmiah yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa serta telah ditentukan oleh guru.
f.       Pendekatan proses
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan”.
 Berdasarkan penjelasan tersebut, kemampuan siswa dikembangkan melalui tujuan utama pembelajaran. Oleh karena itu pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan proses, guru dapat memberikan beberapa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan siswa melalui kegiatan belajar-mengajar seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan materi pelajaran agar siswa dapat mengembangkan keterampilannya.
g.      Pendekatan interaktif
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Pendekatan ini memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan”. Seperti proses pembelajaran pada umumnya, adanya pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa merupakan salah satu ciri pembelajaran yang interaktif. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan, guru dapat melakukan penyelidikan yang memiliki hubungan erat dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
h.      Pendekatan memecahkan masalah
Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan memecahkan masalah pada intinya adalah suatu proses pembelajaran yang melatih siswa agar dapat memecahkan masalah dan guru berperan dalam menyediakan bahan dan memberi petunjuk kepada siswa dalam memecahkan masalah tersebut.
i.        Pendekatan sains dan teknologi masyarakat
Sains dan teknologi masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Pengetahuan berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan sains di masyarakat.Menurut Lestari dan Mustofa (2009:6), “Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sains, teknologi masyarakat ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmiah”.
Dengan menggunakan pendekatan sains dan teknologi, siswa ditekankan untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang dapat ditemukan sehari-hari dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah.
j.        Pendekatan terpadu
“Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang. Pendekatan terpadu dapat diimplementasikan dalam berbagai model pembelajaran.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu dapat dikatakan sebagai gabungan beberapa unsur yang memiliki beberapa katerikatan dan memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu cara pandang.
3.      Pendekatan Ketrampilan Proses
Menurut Sagala (2010:74) “Pendekatan proses dalam pembelajaran dikenal pula sebagai ketrampilan proses, guru menciptakan bentuk kegiatan pengajaran yang bervariasi, agar siswa terlibat dalam berbagai pengalaman”. Sementara menurut Hamalik, 2009:149 “Pendekatan ketrampilan proses ialah pendekatan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan sejumlah kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa”.
Selain itu juga, Arikunto mengatakan dalam bukunya (2004:33) Memberi penjelasan Bahwa pendekatan keterampilan proses yaitu: Pendekatan berbasis keterampilan proses adalah wawasan atau anutan pengembangan keterampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan mendasar yang pada prinsipnya keterampilan-keterampilan tersebut telah ada pada diri siswa.
Menurut Djamarah (2005:88) “ketrampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interaksi edukatif”. Keterampilan proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa menyadari, memahami, dan menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa. Rangkaian bentuk kagiatan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati mengolongkan, menafsirkan, meramalkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan.
Dengan rangkaian kegiatan pembelajaran yang dimaksud tersebut maka Conny semiawan (dalam Amin O.H 2011: 61) Pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a.       Observasi
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengamatan yang terarah tentang gejala atau fenomena sehingga mampu membedakan yang sesuai dan tidak sesuai dengan pokok permasalahan. Pengamatan di sini diartikan sebagai penggunaan indra secara optimal dalam rangka memperoleh informasi yang lengkap atau memadai.
b.      Mengkalsifikasikan
Kegiatan ini bertujuan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu.
c.       Menginterpretasikan atau menafsirkan data
Data yang dikumpulkan melalui observasi, perhitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian sederhana dapat dicatat atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, grafik, diagram dan kurva.
d.       Meramalkan (memprediksi)
Hasil intrepretasi dari suatu pengamatan digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang belum diamati atau kejadian yang akan datang. Ramalan berbeda dari pengamatan yang telah diketahui sedangkan terkaan didasarkan pada hasil pengamatan.
e.       Membuat hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Penyusunan hipotesis adalah salah satu kunci pembuka tabir penemuan berbagai hal baru.
f.       Mengendalikan variabel
Variabel adalah faktor yang berpengaruh. Pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang dipandang sulit, namun sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Hal ini tergantung dari bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk melatih anak mengontrol dan memperlakukan varibel.
g.      Merencanakan penelitian/ eksperimaan
Eksperimen adalah melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan sesuai atau tidak.
h.      Menyusun kesimpulan sementara
Kegiatan ini bertujuan untuk menyimpulkan hasil dari percobaan yang telah dilakukan berdasarkan pada pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang lainnya.
i.        Menerapkan (mengaplikasikan) konsep
Mengaplikasikan konsep adalah menggunakan  konsep yag telah dipelajari dalam situasi baru atau dalam menyelesaikan suatu masalah, misalnya sesuatu masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran lain.
j.        Mengomunikasikan
Kegiatan ini bertujauan untuk mengomunikasikan proses dari hasil perolehan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, baik dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan, tabelmaupun secara lisan maupun tertulis.
Praktik pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses menuntut perencanaan yang sungguh-sungguh dan berkeahlian, kreatif dalam melaksanakan pengajaran, dan mahir dalam mendayagunakan aneka media serta sumber belajar. Jadi guru bersama siswa semakin dituntut bekerja keras agar pratik pendekatan ketrampilan proses berhasil efektif dan efisien.
Alasan mengapa perlu diterapkan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ini salah satunya Menurut Dimiyati (2009: 137), mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
a.       Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b.      Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan hasil belajar yang optimal.
c.       Penerapan sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ini.
Dengan alasan tersebut maka peneliti merekomendasikan kepada guru sebaiknya perlu ditarapkan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran. Menurut Hamalik (2009:151) suatu bentuk penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran adalah pemecahan masalah atau inkuiri (penemuan) yaitu proses mental dan intelektual dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Proses pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi/data untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan.
Namun perlu diketahui bahwa segalanya memang tidak ada yang sempurna begitu pula dengan pendekatan ketrampilan proses ini, pasti ada keunggulan dan kelemahannya. Berikut adalah keunggulan dan kelemahannya:
a.       Keunggulan Pendekatan Keterampilan Proses
Keunggulan pendekatan keterampilan proses (Sagala, 2010:74) adalah:
1)      Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat penting untuk mengembangkan pengetahuan dan masa depan.
2)      Pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.
b.      Kelemahan Pendekatan Keterampilan Proses
Kelemahan pendekatan keterampilan proses (Sagala, 2010:74) adalah:
1)   Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk menyelesaikan bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.
2)   Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya.
3)   Merumuskan masalah, menyusun hipoteseis, merancang suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak setiap siswa mampu melaksanakannya.
B.     Pembelajaran Ekonomi
1.      Hakikat Belajar
Belajar dapat diartikan luas dan bermacam-macam oleh semua orang oleh karna itu Menurut Sudirman A M (2004:20:21),“Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam artian sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”.
Menurut William Bruton dalam Hamalik (2008:28) mengemukakan bahwa, “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan suatu tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.  Sementara itu belajar menurut Oemar Hamalik (2003:138), “Dalam kerangka sistem belajar mengajar, terdapat komponen proses yakni keaktifan fisik, mental, intelektual dan emosional serta keterpaduan komponen produk, yakni hasil belajar berupa keterpaduan aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotor”.
Berdasarkan ketiga pendapat yang telah dikemukakan di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa pengertian belajar adalah aktivitas atau kegiatan psiko-fisik yang menimbulkan perubahan pribadi seutuhnya, baik perubahan secara kognitif, afektif, maupun psikomotorik sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannnya. Pada intinya belajar adalah proses perubahan menuju perkembangan ke arah yang lebih baik.
2.      Hakikat Pembelajaran
a.      Pengertian pembelajaran
Belajar dan mengajar pada dasarnya merupakan konsep yang tidak terpisahkan yang membentuk suatu proses interaksi antara guru dengan siswa dalam rangka mencapai tujuan yaitu perubahan tingkah laku individu ke arah yang lebih baik. Belajar mengajar dianggap sebagai proses interaksi (hubungan timbal balik) antara guru dan siswa. Proses inilah yang disebut pembelajaran.
Menurut Coney (dalam Sagala, 2005:61) mengatakan bahwa “Pembelajaran sebagai suatu proses dimana lingkungan seseorang secara tidak sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”.
Pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2008:57), “pembelajaran adalah merupaan suatu kombinasi yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam pencapaian tujuan”. Wina Sanjaya. (2006:227) mengatakan “Pembelajaran adalah proses interaksi baik antara manusia dengan manusia ataupun antara manusia dengan lingkungan. proses interaksi ini diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan, misalnya yang berhubungan dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor”.
Dari pendapat tersebut maka pembelajaran merupakan suatu proses pembelajaran  yang didesain oleh guru secara terprogram untuk membuat siswa belajar secara aktif menggunakan perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk menghasilkan respon terhadap situasi tertentu yang diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b.      Ciri-Ciri Pembelajaran
Menurut Eggen & Kauchak (dalam Soetarno 2001:5) menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran, yaitu:
1)      Siswa menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui mengobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
2)      Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran.
3)      Aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian,
4)      Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam menganalisis informasi,
5)      Orientasi pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir, serta
6)      Guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dangaya mengajar guru.
c.       Tujuan Pembelajaran
Dari beberapa pengertian pembelajaran tersebut diatas, kata kunci dari pembelajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya dalam Lintang (2005:1-2), mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1)      Perubahan yang disadari dan disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan. Begitujuga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa dalam dirinya telah terjadi perubahan.
2)      Perubahan yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
3)      Perubahan yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
4)      Perubahan yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan.
5)      Perubahan yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
6)      Perubahan yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.


7)      Perubahan yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.
8)      Perubahan perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan keterampilannya.
Dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa ini diharapakan tidak melenceng dari tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh para pendidik. Sehingga nantinya diharapakan akan menjadi perubahan  menuju arah yang baik pada diri siswa.
3.      Pembelajaran Ekonomi
Setiap bidang ilmu memiliki tujuan masing-masing yang sangat ditentukan oleh karateristik dari masing-masing bidang ilmu tersebut. Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang dengan sumberdaya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan/ distribusi.
Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar pada pembelajaran ekonomi (di SMA/MA khususnya) dibatasi dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar lingkungannya dan menggambil manfaat untuk kehidupan yang lebih baik. Pembelajaran ekonomi ialah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran.
Mata pelajaran ekonomi berfungsi membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan dasar agar mampu mengambil keputusan secara rasional tindakan ekonomi dalam menentukan berbagai pilihan. Tujuan mata pelajaran ekonomi SMA menurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi mata pelajaran Ekonomi SMA adalah:
a.       Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara.
b.      Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi.
c.       Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara.
d.      Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun internasional.

4.      Prinsip Pembelajaran Ekonomi
Dengan memperhatikan beberapa pendekatan pembelajaran yang telah diuraikan di atas, pada mata pelajaran ekonomi SMA terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi dan mengacu pada karakteristik ilmu ekonomi.
Agar tujuan pembelajaran ekonomi di SMA/MA dapat tercapai, maka ada beberapa prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi yang mengacu pada karakteristik ilmu ekonomi, maka perlu adanya proses pengembangan materi agar sesuai kurikulum yang berlaku dengan menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi tersebut antara lain:
a.       Prinsip relevansi
Adanya keterkaitan antara apa yang dipelajari di kelas dengan apa yang dilakukan di sekolah dan yang terjadi di masyarakat.
b.      Prinsip harmonisasi
Materi yang diajarkan berdasarkan sintesis antara kebutuhan lapangan dan prinsip pendidikan yang diyakini sesuai dengan tujuan pendidikan dan prinsip pendidikan Indonesia.
c.       Prinsip interaksi
Keterkaitan materi yang digunakan untuk mengembangkan wawasan, pemahaman, sikap dan kemampuan profesional dalambidang ekonomi antara kebutuhan lapangan dengan pandangan teoritik bersifat interaktif.
d.      Prinsip profesionalisasi
Pengalaman belajar dan pembelajaran dikembangkan atas dasar model pendidikan guru yang profesional. Guru ekonomi harus berhubungan dengan keseluruhan aspek profesionalitas seorang guru dan tidak atas dasar kasus demi kasus. Guru ekonomi mengembangkan pembelajaran ekonomi dengan kemampuan akademik dan profesi yang dimilikinya.
e.       Prinsip evaluatif
Evaluasi hasil belajar didasarkan pada kegiatan dan keberhasilan guru ekonomi menguasai langkah-langkah pembelajaran ekonomi. Karenanya guru ekonomi harus dapat memilih alat dan bentuk evaluasi yang tepat sesuai dengan kompetensi dan indikator dari setiap kegiatan pembelajaran ekonomi.
f.       Prinsip sistematis
Materi pembelajaran diorganisasikan secara struktur, dimulai dari apersepsi, pretes, penyampaian materi pokok sampai dengan kesimpulan dan evaluasi. Pembelajaran ekonomi perlu dirancang secara sistematis, dimulai dari konsep-konsep dasar dan sederhana sampai kepada konsep yang lebih luas dan kompleks, disajikan dengan menggunakan pendekatan yang sistematis pula sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran yang baik.
g.      Prinsip proporsionalitas
Adanya keterkaitan yang erat dan prporsional antara pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang berkaitan dengan dimensi-dimensi yang dituntut untuk dikembangkan dan dicapai dalam pembelajaran ekonomi. Pembelajaran ekonomi baik pada KBK maupun KTSP tidak lagi menekankan kepada aspek kognitif, melainkan harus berimbang antara ketiga aspek tujuan pembelajaran. Setiap materi ekonomi memiliki tingkat proporsionalitas yang berbeda untuk ketiga aspek tersebut, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
C.    Aktivitas Pembelajaran
1.      Hakikat aktivitas pembelajaran
Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26), Aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Menurut Sriyono aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani.
Aktivitas belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai sikap, dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang dilaksanakan secara sengaja.Dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai tujuan belajar.
 Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas (2005 : 31), belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Prinsipnya belajar adalah berbuat, berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi melakukan kegiatan, tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Tanpa aktivitas proses belajar mengajar tidak mungkin berlangsung dengan baik (Sardiman, 2007:95). Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2011:101), membagi aktivitas dalam delapan kelompok, masing-masing adalah:
a.       Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain bekerja.
b.      Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.       Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.      Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
e.       Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f.       Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain melakukan percobaan, membuat konstruksi, model merepasi, bermain, berkebun, berternak.
g.      Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingatkan, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h.      Emotional activities, seperti misalnya menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Dari aktivitas yang dikemukakan di atas, aktivitas yang di amati dalam penelitian ini adalah Visual activities, Oral activities, drawing dan metal activities. Menurut Jessica (2009:1-2) faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar, yaitu:
a.       Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu: motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.


b.      Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.
2.      Aktivitas Guru dalam Pembelajaran
Aktivitas guru adalah kegiatan yang dilakukan guru selama prosespembelajaran. Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk memberikan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (affective), dan keterampilan (psychometer) kepada anak didik. Dengan kata lain tugas guru yang utama terletak di lapangan pengajaran. Pengajaran alat untuk mencapai tujuan pendidikan.
Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan  (Hisyam Zaini 2011:16).
Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai aktivitas guru dalam pembelajaran sebagai suatu proses dinamis dalam segala fase dan perkembangan siswa. Secara lebih rinci tugas guru berpusat pada:
a.       Mendidik siswa dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaiantujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
b.      Memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang
memadai.
c.       Membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri. 
Sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan, guru disamping memahami hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, juga harus mengetahui dan melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang bersifat teknis ini,terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan proses belajar-mengajar. Dalam melaksanakan proses belajar mengajar, aktivitas yang harus dilakukan guru diantaranya sebagai berikut:
a.       Menyampaikan materi dan pelajaran dengan tepat dan jelas.
b.      Mengajukan pertanyaan yang merangsang siswa untuk berpikir, mendidik dan mengenal sasaran.
c.       Memberi kesempatan atau menciptakan kondisi yang dapat memunculkan pertanyaan dari siswa.
d.      Memberikan variasi dalam pemberian materi dan kegiatan
e.       Memperhatikan reaksi atau tanggapan yang berkembang pada diri siswa baik verbal maupun non verbal.
f.       Memberikan pujian atau penghargaan untuk jawaban-jawaban yang tepat bagi siswa dan sebaliknya mengarahkan jawaban yang kurang tepat.
Adapun aktivitas guru yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.       Menyampaikan informasi
b.      Mengarahkan siswa untuk menyelesaikan masalah
c.       Mengamati cara siswa untuk menyelesaikan masalah
d.      Menjawab pertanyaan siswa
e.       Mendengarkan penjelasan siswa
f.       Mendorong siswa untuk bertanya/menjawab pertanyaan
g.      Mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan
h.      Perilaku yang tidak relevan.
3.      Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
 Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. (Rosalia, 2005:2). Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan–kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas–tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Lebih lanjut dapat dijelaskan indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah :
a.       Siswa tidak hanya menerima informasi tetapi lebih banyak mencari dan memberikan informasi.
b.      Siswa banyak mengajukan pertanyaan baik kepada guru maupun kepada siswa lainnya.
c.       Siswa lebih banyak mengajukan pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau siswa lain.
d.      Siswa memberikan respon yang nyata terhadap stimulus belajar yang dilakukan guru.
e.       Siswa berkesempatan melakukan penilaian sendiri terhadap hasil pekerjaannya, sekaligus memperbaki dan menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum sempurna.
f.       Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.
g.      Siswa memanfaatkan sumber belajar atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal.
Dapat disimpulkan indikator keaktifan siswa yang dikemukakan oleh Sudjana meliputi siswa lebih banyak mencari informasi tentang pelajaran, memecahkan permasalahan sendiri serta membuat ringkasan pelajar dengan bahasa sendiri yang dipahaminya.
Aktivitas Belajar Siswa adalah Gerakan yang dilakukan untuk sama-sama aktif ketika belajar dengan memanfaatkan sebanyak mungkin. Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati aktivitas siswa yang diamatisebagai berikut:
a.       Mengajukan pertanyaan
b.      Menjawab pertanyaan siswa maupun guru
c.       Memberi saran
d.      Mengemukakan pendapat
e.       Menyelesaikan tugas kelompok
f.       Mempresentasikan hasil kerja kelompok
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengansiswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yangtimbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yangakan mengarah pada peningkatan prestasi.
Siswa melalui kegiatan latihan dan menyelesaikan tugas siswa sendiri sehingga diharapkan mampu melatih ketrampilan siswa dalam menyelesaikan konsep materi yang telah ada dan mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai pembimbing dan motivator, serta fasilitator bagi siswa. Pendekatan ketrampilan proses adalah cara untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan yang menjadi roda pengerak dan pengembangan fakta serta konsep sehingga menumbuhkan sikap dan nilai.
D.    Kajian Penelitian yang Relevan
Sujai, dkk (2007:41) mengatakan bahwa “Kajian penelitian yang relevan merupakan deskripsi hubungan antara masalah yang diteliti dengan kerangka teoritik yang dipakai serta hubungannya dengan penelitian terdahulu yang relevan”.Pada dasarnya urgensi kajian penelitian adalah bahan atau kritik terhadap penelitian yang ada baik mengenai kelebihan maupun kekurangannya sekaligus sebagai bahan pembanding terhadap kajian yang terdahulu.
Penelitian yang relevan yang sesuai dengan penelitian ini adalah :
1.      Hasil penelitian yang dilakukan Rohman, Fatchur (2010) Efektifitas Pembelajaran Sains Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas VII Mts N 1 Semarang pada Materi Pokok Kalor. Skripsi. Jurusan Tadris Fisika, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negri Waligongo, Semarang. Secara umum terjadi peningkatan hasil belajar. Dari hasil penelitian pada pre test,diketahui bahwa hasil belajar siswa adalah homogen dan berdistribus normal setelah dilakukan post test didapatkan nilai rata-rata kelas kontrol 55,69 sedangkan nilai rata-rata kelas eksperimen 65,63.
Dari hasil tersebut terlihat ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajarkan dengan model konvensional dan model pendekatan ketrampilan proses. Sehingga dapat disimpulkan: ada efektivitas pada hasil belajar peserta didik saat diterapkan model pendekatan ketrampilan proses di MTs N 1 Semarang.
2.      Hasil penelitian yang dilakukan Subagyo, Yusup (2007) Pembelajaran Sains Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Sekolah Menegah Pertama Pada Pokok Bahasan Suhu Dan Pemuaian. Skripsi. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negri Semarang. Secara umum terjadi peningkatan hasil belajar secara kognitif, psikomotorik, dan sikap pada pembelajaran sains dengan pendekatan ketrampilan proses. Pada aspek pemahaman konsep pre-test diperoleh hasil rata-rata sebesar 61,73%. Pada percobaan I diperoleh hasil rata-rata sebasar 54% dan percobaan II sebesar 76%. Peningkatan yang terjadi sebesar 0,478 meningkat pada percobaan II secara rata-rata menjadi 47%.
3.      Hasil penelitian yang dilakukan Falestin, Yuditya (2010) Peningkatan Prestasi Belajar Akuntansi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negri 6 Surakarta Tahun Ajaran 2009/2010. Skripsi. FKIP, Universitas Sebelas Meret, Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian ini terbukti: Hasil penelitian pada siklus I meningkat dibandingkan sebelum dilaksanakannya penelitian, yaitu 7,57% siswa telah mencapai standar KKM yaitu 65. Nilai rata-rata kelas setelah penerapan model problem based learning mengalami peningkatan angka sebesar 4,18 (nilai sebelum siklus 69,05 dan nilai siklus I 73,23). Pada siklus II nilai rata-rata meningkat yaitu 82,90, terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I ke siklus II sebesar 9,67 (nilai siklus I 73,23 dan siklus II 82,90).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.     Metode Penelitian Kualitatif
1.      Metode penelitian
Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik dibalik fenomena secara mendalam, rinci, dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah berlaku dengan mencocokan metode deskriptif.
2.      Alasan menggunakan metode kualitatif
Dalam penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan desktiptif kualitatif model miles dan huberman karna data berupa hasil observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi, yang memiliki karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data lansung, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa interaktif dan makna merupakan hal yang esensial.
Dalam pendekatan kualitatif yang bersifat tentatif maka alasan dari penggunaan metode kualitatif ini karena, permasalahan belum jelas, holiostik, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data pada situasi sosial tersebut dijaring dengan penelitian kuantitatif dengan instrumen seperti test, kuesioner.
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
1.      Tempat Penelitian
Untuk memperoleh data tentang aktivitas pembelajaran ekonomi dengan pendekatan ketrampilan proses kelas X.1 MASwata Annur Azzubaidi maka penelitian ini dilakukan :
Tempat penelitian        :Madrasah Aliyah (MA)Swasta  Annur Azzubaidi
Alamat                          :Jln. S. Palulu No.30 Kec. Meluhu Kab. Konawe. Prov. Sulawesi Tenggara
2.      Waktu panelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan juli– desember 2013. Sesuai dengan rencana, maka penelitian dilaksanakan pada semester ganjil  tahun pelajaran 2013/2014, dengan tahapan-tahapan penelitian yaitu, persiapan, observasi, wawancara,dokumentasi dan konsultasi.
C.     Sumber dan Jenis data penelitian
1.      Sumber data
Untuk memperoleh data dan informasi yang valid, akurat serta meyakinkan yang berkaitan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ekonomi pada siswa kelas X.1 MA Swasta Annur Azzubaidi maka sumber data sangat dibutuhkan. Sumber data dalam penelitian ini adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi di lokasi penelitian. Adapun sumber data dalam penelitian ini bisa berasal dari: guru, siswa yang merupakan informan utama dan juga dari kepala sekolah,guru, dan staf sebagai data pendukung validitas.
2.      Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini ada 2, yaitu:
a.       Data primer
Menurut S. nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut lofland sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan pengamatan. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi langsung tentang kegiatan pembelajaran ekonomi dengan pendekatan ketrampilan proses pada siswa kelas X.1.
b.      Data sekunder
Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi, buku harian, not,majalah, hasil-hasil studi, hasil survey, studi hitoris, sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah dan sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan para guru dan siswa.
D.     Teknik Penentuan Informan
Pengambilan sumber data penelitian ini menggunakan teknik “purposive sampling” yaitu   pengambilan   sampel   didasarkan   pada   pilihan   penelitian   tentang aspek   apa   dan   siapa   yang  dijadikan   fokus   pada   saat   situasi   tertentu dan saat ini terus-menerus sepanjang penelitian, sampling bersifat purpossive yaitu tergantung pada tujuan fokus suatu saat.
Informan dalam penelitian ini adalah guru dan siswa yang merupakan informan utama yang memiliki pengetahuan tentang data yang peneliti butuhkan yaitu orang yang akan di observasi dan diwawancarai lebih lanjut.Dalam penelitian ini, peran informan sangat penting dan perlu. Untuk menentukan informan dalam konteks objek penelitian diklasifikasikan berdasarkan kompetensi tiap-tiap informan.
Teknik penentuan informan dilakukan secara purposif. Usia dan peran informan menjadi salah satu kunci untuk memperoleh informasi yang memadai. Jumlah informan menjadi pengecualian ketika informasi yang diperoleh sudah dipandang memadai sehingga pencaharianinformasi “data” dapat dihentikan.


E.     Teknik pengumpulan data
Proses pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu penelitian, begitu pula dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik relevan dengan jenis penelitian kualitatif. Beberapa tekhnik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1.      Teknik Observasi
Observasi merupakan alat pengumpul data yang dilakukan secara sistematis. Observasi dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan secara ilmiah.
   Secara umum observasi dapat dilakukan dengan cara yaitu:
a.       Observasi Partisipan
Adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan oleh observasi dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang akan di observasi.
b.       Observasi Non Partisipan
Merupakan suatu proses pengamatan observer  tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai pengamat (Margono, 2005 : 161-162).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi observasi partisipan di mana peneliti langsung ikut dalam kegiatan yang dilakukan oleh informandalam proses pembelajaran sekaligus melakukan observasi, hal ini peneliti lakukan karena agar tidak tercipta jarak antara peneliti dan informan sehingga data yang diinginkan mudah untuk diperoleh.
2.      Tekhnik Wawancara
Wawancara merupakan percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yaitu wawancara yang akan mengajukan pertanyaan dan orang yang akan diwawancarai yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan (Moleong, 2005 : 186) Wawancara harus diperoleh dalam waktu yang sangat singkat serta bahasa yang digunakan harus jelas dan teratur.
   Pada penelitian ini akan digunakan teknik wawancara terstruktur artinya format instrument wawancaranya telah dibuat oleh peneliti, jadi semua informan akan mendapatkan pertanyaan yang sama. Wawancara yang menggunakan petunjuk umum wawancara, dimana sebelum bertemu dengan informan, peneliti akan mempersiapkan berbagai hal yang akan ditanyakan sehingga berbagai hal yang ingin diketahui dapat lebih terfokus.
Adapun data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan wawancara tersebut di atas adalah: pandangan awal tentang pendekata ketrampilan proses, apa yang diketahui mengenai pendekatan ketrampilan proses, Apa pendapatnya dengan penerapan pendekatan ketrampilan proses selama proses pembelajaran, Bagaimana aktivitas siswa selama peroses pembelajaran, Apakah layak pendekatan ketrampilan proses ini digunkan dalam pembelajaran ekonomi, Apa pandangan akhir anda mengenai penerapan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ekonomi dan harapan anda untuk calon guru kedepannya.

3.      Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, parasasti, notulen rapat, lengger, agenda dan sebagainya mengisyarat (Suharsimi, 2006 : 231). Jadi dapat dipahami bahwa metode dokumentasi merupakan metode yang penting dalam penelitian ini sebab data-data tertulis sangat menunjang dalam menganalisis data studi dokumen dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang tidak dapat diperoleh dalam wawancara dan observasi dilapangan, maka dokumentasi dalam penelitian ini seperti mencari data yang berasal dari dokumen-dokumen yang menunjang atau relefan dengan fokus penelitian ini.
F.      Teknik analisis data
Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikan kedalam suatu pola, kategori  dan satuan uraian dasar. Dalam metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Analisis data dalam penelitian inimenggunakan model miles dan huberman yang dilakukan secara bersamaan  dan berlangsung selama proses pengumpulan data setelah selesai pengumpulan data, tahapan analisis data sebagai berikut:
1.      Analisis data sebelum dilapangan
Peneliti kualitatif telah melakukan analisis data sebelum memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap datahasil studi pendahuluan, atau data skunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun fokus ini masih bersifat sementara (tentatif), dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.
2.      Analisis data selama dilapangan model miles dan huberman
Analisis data ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam priode tertentu. Pada saat wawancara, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuasan, maka peneliti aka melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel.
Miles dan huberman( dalam sugiono 2012:335), mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh. Aktivitas dalam analisisdata tersebut yaitu:


a.       Pengumpulan data
Penelitian mengambil semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan hasil obeservasi, wawancara dan dokumen dilapangan.
b.      Reduksi data
Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data-data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencarinya sewaktu-waktu diperlukan reduksi data dalam penelitian ini yaitu mengambil segala bentuk data primer maupun skunder dari observasi, wawancara mendalam, dan dokumen, dan mengeliminasi data-data yang tidak mendukung penelitian.
c.       Penyajian data atau interpretasi data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data merupakan analisis dalam bentuk matrik. Network, cart atau grafis, sehingga data dapat dikuasai. Dalam hal ini adalah pemaknaan data dari reduksi data yang telah diperoleh dengan penjabaran secara detail.


d.      Pengambilan keputusan dan verifikasi
Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Untuk itu diusahakan mencari pola, model, tema hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, dan sebagainya. Jadi dari data tersebut berusaha diambil kesimpulan, kesimpulan data penelitian mungkin dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan dan mungkin juga tidak, karna kesimpulan disini masih bersifat sementara dan akan berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat yang akan mendukung tahap pemgumpulan data berikutnya.
Proses untuk mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut verifikasi data. Jika kesmppulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali kelapangan maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel.
Keempat komponen tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama dilakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi yang disebut tahap pengumpulan data. Karena data-data, pengumpulan penyajian data, reduksi data, kesimpulan-kesimpulan atau peristiwa data yang dikumpulkan banyak maka diadakan reduksi data. Setelah direduksi maka kemudian diadakan sajian data, selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data. Apabila ketiga hal tersebut selesasi dilakukan, maka diambil suatu keputusan dan verifikasi.
Setelah data dari lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data diatas, maka peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-kualitatif. Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasi arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya.komponen dalam analisis data(interactive data) menurut Milles and Huberman dalam sugiono(2012:335).
Data
Collection
Data Display
 




                                                                                                                 
Data Reduction
Conclusions :
Drawing/verifyng
 





Gambar 2. Analisis Model Interaktif



G.    Teknik Pengecekan Keabsahan Data
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan keabsahan data, yaitu:
1.      Teknik pemeriksaan derajat kepercayaan(credibilitas). Teknik ini dapat dilakukan dengan jalan:
a.      Keikutsertaan peneliti sebagai instrument (alat) tidak hanya dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti sehingga memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan.
b.      Ketentuan pengamatan, yaitu dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dan situasi yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci, dengan demikian maka perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, sedangkan ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
2.      Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding.
Teknik yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan terhadap sumber-sumber lainnya.Kecukupan referensi yakni bahan-bahan yang tercatat dan terekam dapat digunakan sebagai patokan untuk menguji atau menilai sewaktu-waktu diadakan analisis dan intepretasi.
3.      Teknik pemeriksaan keteralihan(transferability) dengan cara uraian rinci.
Teknik ini meneliti agar laporan hasil fokus penelitian dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat penelitian diadakan. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus segala sesuatu yang dibutuhkan oleh pembaca agar mereka dapat memahami penemuan-penemuan yang diperoleh.
4.      Teknik pemeriksaan ketergantungan(depedability) dengan cara auditing ketergantungan
Teknik ini tidak dapat dilakukan/dialaksanakan bila tidak dilengkapi dengan catatan pelaksanaan keseluruhan proses dan hasil penelitian. Pencatatan itu diklasifikasikan dari data mentah sehingga formasi tentang pengembangan instrumen sebelum auditing dilakukan agar dapat mendapatkan persetujuan antara auditor dan auditi terlebih dahulu.