BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia. Kegiatan belajar dapat mengembangkan
potensi-potensi yang dibawa sejak lahir. Sedangkan pembelajaran atau proses
belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi (hubungan timbal balik) antara
guru dan siswa atau pembelajar beserta unsur-unsur yang ada di dalamnya. Pembelajaran
merupakan bagian dari pendidikan, yang didalamnya ditunjang oleh berbagai
unsur-unsur pembelajaran antara lain tujuan, materi pembelajaran lingkungan
belajar, metode pembelajaran, serta evaluasi.
Kesemua unsur-unsur pembelajaran tersebut
sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa melalui hasil belajar siswa. Sehingga seorang guru dituntut
mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang profesional dalam
membelajarkan siswa-siswanya.Akan tetapi, pada kenyataannya di daerah pinggir
kota hingga perkampungan dan pelosok desa saat ini masih banyak guru-guru yang
menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran.
Perkembangan ilmu pendidikan dan
teknologi saat ini telah melaju dengan pesat menuju globalisasi. Perkembangan
teknologi yang selayaknya memberikan wahana kepada siswa sekaligus mengugah
para pendidik untuk dapat merancang dan melaksanakan pendidikan yang lebih
terarah masih dapat belum terealisasi dengan tepat, hal ini belum sesuai dengan
harapan masyarkat. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia sangat didambakan
oleh seluruh elemen masyarakat, dan salah satu jalur yang tepat dan sesuai
untuk meningkatkan sumberdaya manusia adalah melalui jalur pendidikan.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
yang dikembangkan dalam pendidikan saat ini, menuntut siswa untuk aktif dalam
pembelajaran dan mempersyaratkan kompetensi sebagai proses belajar yang
meliputi tiga ranah yakni pengetahuan, ketarampilan, dan sikap. Permasalahan
yang timbul adalah pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa
pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal, Termasuk mata
pelajaran ekonomi. Disisi lain ada banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek
dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik, proses belajar
mengajar didalam kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama
pengetahuan, dimana ceramah menjadi pilihan utama proses pembelajaran, dengan
hal ini tentu membuat siswa
semakin malas untuk melakukan aktivas yang seharusnya dilakukan oleh seorang
pelajar.
Seperti halnya yang terjadi di dalam
kelas X IPS MA Swasta Annur Azzubaidi. Permasalahan yag timbul ketika Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) berlangsung dapat dipaparkan sebagai berikut: Pertama, Kurangnya
keaktifan siswa dalam kegiatan belajar ekonomi. Misalanya siswa cenderung diam dalam proses tanya jawab
dengan guru, siswa enggan mengerjakan tugas yang diberikan guru, banyak siswa
yang belum faham materi pembelajaran akan tetapi siswa tidak memberitahukan kepada guru mata pelajaran
ekonomi untuk mengulangi materi pembelajaran yang belum difahaminya.
Kedua, Guru masih menggunakan
pembelajaran konvensional atau pembelajaran tradisional yang sejak dulu telah
digunakan sebagai alat komunikasi lisan antar guru dan peserta didik dalam
proses pembelajaran. Guru lebih banyak mendominasi pembelajaran sebagai pen-transfer
ilmu sementara siswa lebih pasif sebagai penerima ilmu. Ketiga, Perangkat
pembelajaran belum memenuhi standar. Perangkat pembelajaran ini berisi silabus,
RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran), bahan ajar, LKS ( lembar kerja siswa),
dan media pembelajaran. Keempat, dari faktor-faktor tersebut maka nampak padahasil
nilai ulangan harian dan ujian tengah semester siswa rata-rata 6,30 yang masih
dibawah nilai standar kreteria ketuntasan minimal (KKM) sekolah yaitu 7,00.
Hal ini tentu saja membuat keresahan bagi
guru serta siswa. Faktor minimnya tenaga pengajar khususnya mata pelajaran
ekonomi, guru tidak pernah menerapkan pembelajaran selain pembelajaran
konvensional, kurangnya jam pelajaran ekonomi, sarana dan prasarana pendukung
proses pembelajaran yang kurang memadai, serta sebagaian besar siswa
kurang aktif untuk mempelajari ekonomi.Disisi
lain ada banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik
tetapi tidak dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik, proses belajar
mengajar didalam kelas masih terfokus pada guru sebagai sumber utama
pengetahuan, dimana ceramah menjadi pilihan utama proses pembelajaran.
Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) siswa dituntut untuk aktif dalam proses belajar mengajar dan
pembelajaran tersebut berpusat pada siswa, guru didepan kelas sebagai
pembimbing dan motivator.Untuk itu perlu adanya upaya untuk meningkatkan
aktivitas belajar siswa, alternatif pemecahannya adalah dengan memilih pendekatan yang tepat
dalam pembelajaran ekonomi, salah satunya yaitu dengan menerapkan Pendekatan
Keterampilan Proses. Adapun masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana
aktivitas guru dan aktivitas belajar
siswa pada penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran ekonomi.
Bertolak dari uraian di atas, dan dengan
penuh pertimbangan serta kenyataan hasil studi pendahuluan bahwa pendekatan
ketrampilan proses dalam pembelajaran ekonomi belum diterapkan di sekolah
tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul
“Pendekatan Ketrampilan Proses Dalam Pembelajaran Ekonomi Kelas X Materi
kegiatan ekonomi konsumen dan produsen pada siswa kelas X.1 Di MASwasta Annur
Azzubaidi Tahun Ajaran 2013/2014”.
B.
Fokus
Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diungkap diatas, agar penelitian terarah dan tidak terjadi
penyimpangan terhadap masalah yang akan dibahas, maka peneliti menetapkan fokus Proses Pembelajaran Ekonomi Dengan Mengunakan Pendekatan
Ketrampilan Proses Pada Siswa Kelas X.1 Materi Kegiatan
Ekonomi Konsumen Dan Produsen Di MASwasta Annur Azzubaidi.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang masalah
sebagaimana diungkapkan di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah:
1. Bagaimana aktivitas guru dalam Penerapan
Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan
ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta
Annur Azzubaidi?
2.
Bagaimana
aktivitassiswa dalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada pembelajaran
ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di MASwasta Annur
Azzubaidi?
D.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka
tujuan
penelitian ini adalah:
1. Mengetahuai Aktivitas gurudalam Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses pada
pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi konsumen dan produsen di
MASwasta Annur Azzubaidi.
2. Mengetahui Aktivitas siswa dalam Penerapan Pendekatan
Keterampilan Proses pada pembelajaran ekonomi kelas X meteri kegiatan ekonomi
konsumen dan produsen di MASwasta Annur Azzubaidi.
E.
Manfaat Penelitian
Berdasarkan
tujuan penelitian yang telah diuraikan di atas, maka peneliti mengharapkan
penilitian ini bermanfaat sebagai berikut:
1.
Bagi
guru kelas X.1MA Swasta Annur Azzubaidi dapat menciptakan suasana pembelajaran
yang aktif, memotivasi belajar, serta membantu siswa
dalam meningkatkan minat belajar ekonomi.
2.
Bagi
siswa ekonomi kelas X.1MA Swasta Annur Azzubaidi, dapat meningkatkan kemampuannya
dalam melaksanakan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar secara efektif dalam
upaya meningkatkan ativitas belajar siswa.
3.
Bagi
sekolah, memberikan masukan dalam rangka mengembangkan kurikulum yang dapat
meningkatkan kualitas pembelajaran.
4.
Bagi
peneliti, dapat memberikan pengalaman untuk memperkaya wawasan tentang proses
pembelajaran yang efektif serta dapat dijadikan acuan atau pembanding bagi
penelitian selanjutnya.
5.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.
Pendekatan Ketrampilan Proses
1.
Hakikat Pendekatan Pembelajaran
Menurut Syaiful Sagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan pembelajaran
merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan
instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”. Pendekatan
pembelajaran adalah suatu cara pandang terhadap obyek yang akan mewarnai
seluruh jalannya proses pembelajaran. Atau dapat juga diartikan sebagai skenario
pembelajaran yang akan dilaksanakan guru dengan menyusun dan memilih model,
strategi, maupun keterampilan mengajar tertentu dalam rangka mencapai suatu
tujuan pembelajaran.
Pada
saat ini banyak guru yang masih keliru dalam mengartikan pendekatan pembelajaran,
terkadang banyak yang mengartikan bahwa pendekatan itu sama dengan metode atau
model pembelajaran. Untuk itu sebelum melangkah kepembahasan yang lebih dalam
maka akan lebih baik jika kita mengetahui terlebih dahulu perbedaan antaramodel,
pendekatan, motode, strategi, prinsip, teknik, dan taktik pembelajaran agar
nantinya kita tidak salah mengartikannya.
Untuk
itu maka akan di bahas satu persatu sebagai berikut:
a.
Model pembelajaran
Menurut Taufik (2010:14), model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran.
b.
Pendekatan pembelajaran
Menurut Taufik (2010:12) pendekatan
pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang
merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode
pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
Dilihat dari
pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yairtu:1) pendekatan pembelajaran
yang berorientasi atau berpusat pada peserta didik (student centered approach)
dan 2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru
(teacher centered approach).
c.
Motode pembelajaran
Menurut Suyono dan Hariyanto (2011:18),
Metode pembelajaran adalah seluruh perencanaan dan prosedur maupun langkah-langkah kegiatan
pembelajaran termasuk pilihan cara penilaian yang akan dilaksanakan. Metode
pembelajaran dapat dianggap sebagai sesuatu prosedur atau proses yang teratur,
suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan pembelajaran.
d.
Strategi pembelajaran
Gerlach dan Ely yang dikutif oleh Uno
(2008:1) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang
dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran
tertentu. Selanjutnya dijabarkan oleh mereka bahwa strategi pembelajaran
dimaksud meliputi sifat lingkup dan urutan kegiatan pembelajaran yang dapat
memberikan pengalaman belajar peserta didik.
Wina Senjaya (dalam Taufik 2010:13)
mengemukakan bahwa strategi pembelajaranadalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. strategi
pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan
pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematik
sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan
efisien.
e.
Prinsip pembelajaran
Prinsip pembelajaran adalah kerangka teoretis sebuah
metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah teori-teori yang mengarahkan
harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: 1) bahan yang akan
dibelajarkan, 2) prosedur pembelajaran (bagaimana siswa belajar dan bagaimana
guru mengajarkan bahan), 3) gurunya, dan 4) siswanya.
f.
Teknik pembelajaran
Menurut Taufik (2010:14), teknik
pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan
seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
g.
Taktik pembelajaran
Taktik
pembelajaranmerupakan gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah
tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar1. Desain Pembelajaran
2.
Jenis-Jenis Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat
dikatakan suatu pandangan umum terhadap proses pembelajaran yang akan
menentukan metode pembelajaran yang akan diterapkan. Untuk itu maka ada
beberapa pendekatan pembelajaran ekonomi di SMA antara lain:
a.
Pendekatan tujuan pembelajaran
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:5), “Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir yang akan
dicapai. Sebenarnya pendekatan ini tercakup juga ketika seorang guru
merencanakan pendekatan lainnya, karena suatu pendekatan itu dipilih untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Semua pendekatan dirancang untuk keberhasilan
suatu tujuan”. Berdasarkan penjelasan tersebut, pendekatan tujuan pembelajaran
berorientasi pada tujuan akhir yang akan dicapai setelah proses belajar
mengajar selesai dilaksanakan.
b.
Pendekatan konsep
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:5), “Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti
siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung
di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep
yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami
konsep”. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep merupakan suatu
proses bimbingan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa pada saaat proses
pembelajaran berlangsung dengan tujuan siswa menguasai konsep.
c.
Pendekatan lingkungan
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:5), “Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan
dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber
belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari–hari
sering digunakan pendekatan lingkungan”.Pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan lingkungan merupakan proses belajar mengajar yang menjadikan
lingkungan sebagai sumber belajar yang dapat digunakan untuk memahami materi
pelajaran yang erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.
d.
Pendekatan inkuiri
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:6), “Penggunaan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa
untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik
yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti”. Jadi
pada pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri lebih menekankan siswa
untuk dapat mengendalikan situasi yang berhubungan dengan dunia fisik yaitu
dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli peneliti.
e.
Pendekatan penemuan
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:6), “Penggunaan pendekatan penemuan berarti dalam kegiatan
belajar mengajar siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan
konsep tentang fenomena ilmiah. Penemuan tidak terbatas pada menemukan sesuatu
yang benar – benar baru. Pada umumnya materi yang akan dipelajari sudah ditentukan
oleh guru, demikian pula situasi yang menunjang proses pemahaman tersebut.
Siswa akan melakukan
kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan hal yang akan ditemukan”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
penemuan memfokuskan siswa untuk menemukan sendiri fenomena ilmiah yang
berhubungan dengan materi yang akan dipelajari oleh siswa serta telah
ditentukan oleh guru.
f.
Pendekatan proses
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:6), “Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati,
berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, kemampuan
siswa dikembangkan melalui tujuan utama pembelajaran. Oleh karena itu pada
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan proses, guru dapat memberikan
beberapa pelatihan untuk meningkatkan keterampilan siswa melalui kegiatan
belajar-mengajar seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan
mengkomunikasikan materi pelajaran agar siswa dapat mengembangkan
keterampilannya.
g.
Pendekatan interaktif
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:6), “Pendekatan ini memberi kesempatan pada siswa untuk
mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan
dengan pertanyaan yang mereka ajukan”. Seperti proses pembelajaran pada
umumnya, adanya pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa merupakan salah satu
ciri pembelajaran yang interaktif. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan, guru
dapat melakukan penyelidikan yang memiliki hubungan erat dengan pertanyaan yang
mereka ajukan.
h.
Pendekatan memecahkan masalah
Menurut Lestari dan
Mustofa (2009:6), “Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang
harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan ini ada
dua versi. Versi pertama siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang
digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian
pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Versi kedua, hanya masalah yang
dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya
dalam menyediakan bahan dan membantu memberi petunjuk”.
Berdasarkan
penjelasan tersebut, pembelajaran dengan menggunakan pendekatan memecahkan
masalah pada intinya adalah suatu proses pembelajaran yang melatih siswa agar
dapat memecahkan masalah dan guru berperan dalam menyediakan bahan dan memberi
petunjuk kepada siswa dalam memecahkan masalah tersebut.
i.
Pendekatan sains dan teknologi masyarakat
Sains dan teknologi
masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Pengetahuan
berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan sains di masyarakat.Menurut
Lestari dan Mustofa (2009:6), “Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan sains, teknologi masyarakat ini tercakup juga adanya pemecahan
masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari
– hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah ilmiah”.
Dengan menggunakan
pendekatan sains dan teknologi, siswa ditekankan untuk dapat memecahkan
masalah-masalah yang dapat ditemukan sehari-hari dengan menggunakan
langkah-langkah ilmiah.
j.
Pendekatan terpadu
“Pendekatan ini
merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu
kegiatan pembelajaran. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip
keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi
peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu
pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang. Pendekatan terpadu dapat
diimplementasikan dalam berbagai model pembelajaran.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu dapat
dikatakan sebagai gabungan beberapa unsur yang memiliki beberapa katerikatan
dan memiliki tujuan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih bermakna dan
peningkatan wawasan karena satu pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu
cara pandang.
3.
Pendekatan Ketrampilan Proses
Menurut Sagala (2010:74)
“Pendekatan proses dalam pembelajaran dikenal pula sebagai ketrampilan proses,
guru menciptakan bentuk kegiatan pengajaran yang bervariasi, agar siswa
terlibat dalam berbagai pengalaman”. Sementara menurut Hamalik, 2009:149
“Pendekatan ketrampilan proses ialah pendekatan pembelajaran yang bertujuan
mengembangkan sejumlah kemampuan fisik dan mental sebagai dasar untuk mengembangkan
kemampuan yang lebih tinggi pada diri siswa”.
Selain itu juga, Arikunto
mengatakan dalam bukunya (2004:33) Memberi penjelasan Bahwa pendekatan
keterampilan proses yaitu: Pendekatan berbasis keterampilan proses adalah
wawasan atau anutan pengembangan keterampilan intelektual, sosial
dan fisik yang bersumber dari kemampuan mendasar yang pada prinsipnya
keterampilan-keterampilan tersebut telah ada pada diri siswa.
Menurut Djamarah (2005:88)
“ketrampilan proses adalah suatu pendekatan dalam proses interaksi edukatif”.
Keterampilan
proses bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa menyadari, memahami, dan
menguasai rangkaian bentuk kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa. Rangkaian
bentuk kagiatan yang dimaksud adalah kegiatan mengamati mengolongkan,
menafsirkan, meramalkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan.
Dengan rangkaian kegiatan
pembelajaran yang dimaksud tersebut maka Conny semiawan (dalam Amin O.H 2011:
61) Pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses dilaksanakan melalui
langkah-langkah sebagai berikut :
a.
Observasi
Kegiatan ini
bertujuan untuk melakukan pengamatan yang terarah tentang gejala atau fenomena
sehingga mampu membedakan yang sesuai dan tidak sesuai dengan pokok
permasalahan. Pengamatan di sini diartikan sebagai penggunaan indra secara
optimal dalam rangka memperoleh informasi yang lengkap atau memadai.
b.
Mengkalsifikasikan
Kegiatan ini
bertujuan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu.
c.
Menginterpretasikan
atau menafsirkan data
Data yang dikumpulkan
melalui observasi, perhitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian
sederhana dapat dicatat atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel,
grafik, diagram
dan kurva.
d.
Meramalkan (memprediksi)
Hasil
intrepretasi dari suatu pengamatan digunakan untuk meramalkan atau
memperkirakan kejadian yang belum diamati atau kejadian yang akan datang.
Ramalan berbeda dari pengamatan yang telah diketahui sedangkan terkaan
didasarkan pada hasil pengamatan.
e.
Membuat
hipotesis
Hipotesis
adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau
pengamatan tertentu. Penyusunan hipotesis adalah salah satu kunci pembuka tabir
penemuan berbagai hal baru.
f.
Mengendalikan
variabel
Variabel adalah
faktor yang berpengaruh. Pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang
dipandang sulit, namun sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Hal ini
tergantung dari bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk
melatih anak mengontrol dan memperlakukan varibel.
g.
Merencanakan
penelitian/ eksperimaan
Eksperimen
adalah melakukan kegiatan percobaan untuk membuktikan apakah hipotesis yang
diajukan sesuai atau tidak.
h.
Menyusun
kesimpulan sementara
Kegiatan ini
bertujuan untuk menyimpulkan hasil dari percobaan yang telah dilakukan
berdasarkan pada pola hubungan antara hasil pengamatan yang satu dengan yang
lainnya.
i.
Menerapkan
(mengaplikasikan) konsep
Mengaplikasikan
konsep adalah menggunakan konsep yag
telah dipelajari dalam situasi baru atau dalam menyelesaikan suatu masalah,
misalnya sesuatu masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran lain.
j.
Mengomunikasikan
Kegiatan ini
bertujauan untuk mengomunikasikan proses dari hasil perolehan kepada berbagai
pihak yang berkepentingan, baik dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan, tabelmaupun secara lisan maupun tertulis.
Praktik
pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses menuntut perencanaan yang
sungguh-sungguh dan berkeahlian, kreatif dalam melaksanakan pengajaran, dan
mahir dalam mendayagunakan aneka media serta sumber belajar. Jadi guru bersama
siswa semakin dituntut bekerja keras agar pratik pendekatan ketrampilan proses
berhasil efektif dan efisien.
Alasan
mengapa perlu diterapkan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ini
salah satunya Menurut Dimiyati (2009: 137), mengatakan bahwa pendekatan
keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar
berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:
a.
Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b.
Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar
didapatkan hasil belajar yang optimal.
c.
Penerapan sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi
kebenaran ini.
Dengan
alasan tersebut maka peneliti merekomendasikan kepada guru sebaiknya perlu
ditarapkan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran. Menurut Hamalik
(2009:151) suatu bentuk penerapan keterampilan proses dalam pembelajaran adalah
pemecahan masalah atau inkuiri (penemuan) yaitu proses mental dan intelektual
dalam menemukan suatu masalah dan memecahkannya berdasarkan data dan informasi
yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Proses
pemecahan masalah memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berperan
aktif dalam mempelajari, mencari dan menemukan sendiri informasi/data untuk
diolah menjadi konsep, prinsip, teori, atau kesimpulan.
Namun
perlu diketahui bahwa segalanya memang tidak ada yang sempurna begitu pula
dengan pendekatan ketrampilan proses ini, pasti ada keunggulan dan
kelemahannya. Berikut adalah keunggulan dan kelemahannya:
a.
Keunggulan Pendekatan Keterampilan Proses
Keunggulan pendekatan
keterampilan proses (Sagala, 2010:74) adalah:
1)
Memberi bekal cara memperoleh pengetahuan, hal yang sangat
penting untuk mengembangkan pengetahuan dan masa depan.
2)
Pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat
meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.
b.
Kelemahan Pendekatan Keterampilan Proses
Kelemahan pendekatan
keterampilan proses (Sagala, 2010:74) adalah:
1)
Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk menyelesaikan
bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum.
2)
Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga
tidak semua sekolah dapat menyediakannya.
3)
Merumuskan masalah, menyusun hipoteseis, merancang suatu
percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan yang sulit, tidak
setiap siswa mampu melaksanakannya.
B. Pembelajaran Ekonomi
1.
Hakikat Belajar
Belajar
dapat diartikan luas dan bermacam-macam oleh semua orang oleh karna itu Menurut
Sudirman A M (2004:20:21),“Dalam pengertian luas, belajar dapat diartikan
sebagai kegiatan psiko-fisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian
dalam artian sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu
pengetahuan yang merupakan sebagian menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”.
Menurut
William Bruton dalam Hamalik (2008:28) mengemukakan bahwa, “belajar ialah suatu
proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan suatu tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya”.
Sementara itu belajar menurut Oemar Hamalik (2003:138), “Dalam kerangka
sistem belajar mengajar, terdapat komponen proses yakni keaktifan fisik,
mental, intelektual dan emosional serta keterpaduan komponen produk, yakni
hasil belajar berupa keterpaduan aspek-aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor”.
Berdasarkan ketiga pendapat yang telah dikemukakan di atas penulis
dapat menyimpulkan bahwa pengertian belajar adalah aktivitas atau kegiatan
psiko-fisik yang menimbulkan perubahan pribadi seutuhnya, baik perubahan secara
kognitif, afektif, maupun psikomotorik sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannnya. Pada intinya belajar adalah proses
perubahan menuju perkembangan ke arah yang lebih baik.
2.
Hakikat Pembelajaran
a.
Pengertian pembelajaran
Belajar dan mengajar pada dasarnya merupakan konsep yang tidak
terpisahkan yang membentuk suatu proses interaksi antara guru dengan siswa
dalam rangka mencapai tujuan yaitu perubahan tingkah laku individu ke arah yang
lebih baik. Belajar mengajar dianggap sebagai proses interaksi (hubungan timbal
balik) antara guru dan siswa. Proses inilah yang disebut pembelajaran.
Menurut Coney (dalam Sagala, 2005:61) mengatakan bahwa “Pembelajaran
sebagai suatu proses dimana lingkungan seseorang secara tidak sengaja dikelola
untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu”.
Pembelajaran menurut Oemar Hamalik (2008:57), “pembelajaran adalah merupaan
suatu kombinasi yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam pencapaian tujuan”.
Wina Sanjaya. (2006:227) mengatakan “Pembelajaran adalah proses interaksi baik
antara manusia dengan manusia ataupun antara manusia dengan lingkungan. proses
interaksi ini diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan, misalnya
yang berhubungan dengan perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor”.
Dari pendapat tersebut maka pembelajaran merupakan
suatu proses pembelajaran yang didesain
oleh guru secara terprogram untuk membuat siswa belajar secara aktif
menggunakan perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk
menghasilkan respon terhadap situasi tertentu yang diarahkan untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan.
b.
Ciri-Ciri Pembelajaran
Menurut Eggen & Kauchak (dalam Soetarno 2001:5) menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran, yaitu:
1)
Siswa
menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui mengobservasi,
membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk
konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
2)
Guru
menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran.
3)
Aktivitas-aktivitas
siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian,
4)
Guru
secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam
menganalisis informasi,
5)
Orientasi
pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir,
serta
6)
Guru
menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dangaya
mengajar guru.
c.
Tujuan Pembelajaran
Dari beberapa pengertian pembelajaran tersebut diatas, kata kunci dari
pembelajar adalah perubahan perilaku. Dalam hal ini, Moh Surya dalam Lintang
(2005:1-2), mengemukakan ciri-ciri dari perubahan perilaku, yaitu :
1)
Perubahan yang disadari dan
disengaja (intensional).
Perubahan perilaku yang
terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari individu yang bersangkutan.
Begitujuga dengan hasil-hasilnya, individu yang bersangkutan menyadari bahwa
dalam dirinya telah terjadi perubahan.
2)
Perubahan
yang berkesinambungan (kontinyu).
Bertambahnya pengetahuan
atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya merupakan kelanjutan dari
pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh sebelumnya. Begitu juga,
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah diperoleh itu, akan menjadi
dasar bagi pengembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan berikutnya.
3)
Perubahan
yang fungsional.
Setiap perubahan perilaku
yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang
bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun masa mendatang.
4)
Perubahan
yang bersifat positif.
Perubahan perilaku yang
terjadi bersifat normatif dan menujukkan ke arah kemajuan.
5)
Perubahan
yang bersifat aktif.
Untuk memperoleh perilaku
baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya melakukan perubahan.
6)
Perubahan
yang bersifat pemanen.
Perubahan perilaku yang
diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi bagian yang melekat
dalam dirinya.
7)
Perubahan
yang bertujuan dan terarah.
Individu melakukan kegiatan
belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek, jangka
menengah maupun jangka panjang.
8)
Perubahan
perilaku secara keseluruhan.
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar
memperoleh pengetahuan semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam
sikap dan keterampilannya.
Dilihat dari perubahan-perubahan
yang terjadi pada diri siswa ini diharapakan tidak melenceng dari tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai oleh para pendidik. Sehingga nantinya
diharapakan akan menjadi perubahan
menuju arah yang baik pada diri siswa.
3.
Pembelajaran Ekonomi
Setiap
bidang ilmu memiliki tujuan masing-masing yang sangat ditentukan oleh
karateristik dari masing-masing bidang ilmu tersebut. Ekonomi merupakan ilmu
tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang
dengan sumberdaya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi,
dan/ distribusi.
Luasnya
ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu yang tersedia membuat standar kompetensi dan
kompetensi dasar pada pembelajaran ekonomi (di SMA/MA khususnya) dibatasi dan
difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta didik,
sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi disekitar
lingkungannya dan menggambil manfaat untuk kehidupan yang lebih baik. Pembelajaran
ekonomi ialah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan
menciptakan kemakmuran.
Mata
pelajaran ekonomi berfungsi membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan
dasar agar mampu mengambil keputusan secara rasional tindakan ekonomi dalam
menentukan berbagai pilihan. Tujuan mata pelajaran ekonomi SMA menurut
Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi mata pelajaran Ekonomi SMA
adalah:
a.
Memahami sejumlah konsep ekonomi untuk mengkaitkan peristiwa
dan masalah ekonomi dengan kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi
dilingkungan individu, rumah tangga, masyarakat, dan negara.
b.
Menampilkan sikap ingin tahu terhadap sejumlah konsep
ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi.
c.
Membentuk sikap bijak, rasional dan bertanggungjawab dengan
memiliki pengetahuan dan keterampilan ilmu ekonomi, manajemen, dan akuntansi
yang bermanfaat bagi diri sendiri, rumah tangga, masyarakat, dan negara.
d.
Membuat keputusan yang bertanggungjawab mengenai nilai-nilai
sosial ekonomi dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun
internasional.
4.
Prinsip Pembelajaran Ekonomi
Dengan memperhatikan beberapa
pendekatan pembelajaran yang telah diuraikan di atas, pada mata pelajaran
ekonomi SMA terdapat beberapa tujuan pembelajaran yang harus disesuaikan dengan
prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi dan mengacu pada karakteristik ilmu
ekonomi.
Agar tujuan pembelajaran
ekonomi di SMA/MA dapat tercapai, maka ada beberapa prinsip-prinsip
pembelajaran ekonomi yang mengacu pada karakteristik ilmu ekonomi, maka perlu
adanya proses pengembangan materi agar sesuai kurikulum yang berlaku dengan
menggunakan prinsip-prinsip pembelajaran ekonomi. Adapun prinsip-prinsip
pembelajaran ekonomi tersebut antara lain:
a.
Prinsip relevansi
Adanya
keterkaitan antara apa yang dipelajari di kelas dengan apa yang dilakukan di
sekolah dan yang terjadi di masyarakat.
b.
Prinsip harmonisasi
Materi
yang diajarkan berdasarkan sintesis antara kebutuhan lapangan dan prinsip
pendidikan yang diyakini sesuai dengan tujuan pendidikan dan prinsip pendidikan
Indonesia.
c.
Prinsip interaksi
Keterkaitan
materi yang digunakan untuk mengembangkan wawasan, pemahaman, sikap dan
kemampuan profesional dalambidang ekonomi antara kebutuhan lapangan dengan
pandangan teoritik bersifat interaktif.
d.
Prinsip profesionalisasi
Pengalaman
belajar dan pembelajaran dikembangkan atas dasar model pendidikan guru yang
profesional. Guru ekonomi harus berhubungan dengan keseluruhan aspek
profesionalitas seorang guru dan tidak atas dasar kasus demi kasus. Guru
ekonomi mengembangkan pembelajaran ekonomi dengan kemampuan akademik dan
profesi yang dimilikinya.
e.
Prinsip evaluatif
Evaluasi
hasil belajar didasarkan pada kegiatan dan keberhasilan guru ekonomi menguasai
langkah-langkah pembelajaran ekonomi. Karenanya guru ekonomi harus dapat
memilih alat dan bentuk evaluasi yang tepat sesuai dengan kompetensi dan
indikator dari setiap kegiatan pembelajaran ekonomi.
f.
Prinsip sistematis
Materi
pembelajaran diorganisasikan secara struktur, dimulai dari
apersepsi, pretes, penyampaian materi pokok sampai dengan kesimpulan dan
evaluasi. Pembelajaran ekonomi perlu dirancang secara sistematis, dimulai dari
konsep-konsep dasar dan sederhana sampai kepada konsep yang lebih luas dan
kompleks, disajikan dengan menggunakan pendekatan yang sistematis pula sesuai
dengan langkah-langkah pembelajaran yang baik.
g.
Prinsip proporsionalitas
Adanya
keterkaitan yang erat dan prporsional antara pengembangan aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor yang berkaitan dengan dimensi-dimensi yang dituntut
untuk dikembangkan dan dicapai dalam pembelajaran ekonomi. Pembelajaran ekonomi
baik pada KBK maupun KTSP tidak lagi menekankan kepada aspek kognitif,
melainkan harus berimbang antara ketiga aspek tujuan pembelajaran. Setiap
materi ekonomi memiliki tingkat proporsionalitas yang berbeda untuk ketiga
aspek tersebut, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
C.
Aktivitas Pembelajaran
1.
Hakikat aktivitas pembelajaran
Menurut Anton M. Mulyono (2001 : 26),
Aktivitas artinya “kegiatan atau keaktifan”. Jadi segala sesuatu yang dilakukan
atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan
suatu aktifitas. Menurut Sriyono aktivitas adalah segala kegiatan yang
dilaksanakan baik secara jasmani atau rohani.
Aktivitas belajar merupakan suatu
kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan-pengetahuan,
nilai-nilai sikap, dan keterampilan pada siswa sebagai latihan yang
dilaksanakan secara sengaja.Dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan
segala kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam
rangka mencapai tujuan belajar.
Aktivitas yang dimaksudkan di sini
penekanannya adalah pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan
oleh Rochman Natawijaya dalam Depdiknas (2005 : 31), belajar aktif adalah
“Suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik,
mental intelektual dan emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan
antara aspek kognitif, afektif dan psikomotor”.
Prinsipnya belajar adalah berbuat,
berbuat untuk mengubah tingkah laku jadi melakukan kegiatan, tidak ada belajar
kalau tidak ada aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau
asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Tanpa aktivitas
proses belajar mengajar tidak mungkin berlangsung dengan baik (Sardiman,
2007:95). Paul
B. Diedrich (dalam Sardiman, 2011:101), membagi aktivitas dalam delapan
kelompok, masing-masing adalah:
a.
Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya,
membaca, memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain
bekerja.
b.
Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya,
memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c.
Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian
percakapan, diskusi, musik, pidato.
d.
Writing activities, seperti misalnya menulis cerita,
karangan, laporan, angket, menyalin.
e.
Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik,
peta, diagram.
f.
Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain
melakukan percobaan, membuat konstruksi, model merepasi, bermain, berkebun,
berternak.
g.
Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi,
mengingatkan, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil
keputusan.
h.
Emotional activities, seperti misalnya menaruh minat, merasa
bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Dari aktivitas yang
dikemukakan di atas, aktivitas yang di amati dalam penelitian ini adalah Visual
activities, Oral activities, drawing dan metal activities. Menurut Jessica (2009:1-2) faktor-faktor yang
mempengaruhi aktivitas belajar, yaitu:
a.
Faktor
Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini
lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor
yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain
yaitu: motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
b.
Faktor
Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan
belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal
ini akan berkaitan dengan faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang
mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan,
dan pembentukan sikap.
2. Aktivitas Guru dalam
Pembelajaran
Aktivitas guru adalah kegiatan yang dilakukan guru selama
prosespembelajaran. Dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk
memberikan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (affective), dan
keterampilan (psychometer) kepada anak didik. Dengan kata lain tugas guru yang
utama terletak di lapangan pengajaran. Pengajaran alat untuk mencapai tujuan
pendidikan.
Dengan
belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses
pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara
ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan
sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan
(Hisyam Zaini 2011:16).
Guru
mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas
untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah
merupakan salah satu dari berbagai aktivitas guru dalam pembelajaran sebagai
suatu proses dinamis dalam segala fase dan perkembangan siswa. Secara lebih
rinci tugas guru berpusat pada:
a.
Mendidik siswa dengan titik berat
memberikan arah dan motivasi pencapaiantujuan baik jangka pendek maupun jangka
panjang.
b.
Memberi fasilitas pencapaian tujuan
melalui pengalaman belajar yang
memadai.
memadai.
c.
Membantu perkembangan aspek-aspek
pribadi seperti sikap, nilai-nilai dan penyesuaian diri.
Sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan, guru disamping memahami
hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, juga harus mengetahui dan
melaksanakan hal-hal yang bersifat teknis. Hal-hal yang bersifat teknis
ini,terutama kegiatan mengelola dan melaksanakan proses belajar-mengajar. Dalam
melaksanakan proses belajar mengajar, aktivitas yang harus dilakukan guru
diantaranya sebagai berikut:
a.
Menyampaikan materi dan pelajaran
dengan tepat dan jelas.
b.
Mengajukan pertanyaan yang
merangsang siswa untuk berpikir, mendidik dan mengenal sasaran.
c.
Memberi kesempatan atau menciptakan
kondisi yang dapat memunculkan pertanyaan dari siswa.
d.
Memberikan variasi dalam pemberian
materi dan kegiatan
e.
Memperhatikan reaksi atau tanggapan
yang berkembang pada diri siswa baik verbal maupun non verbal.
f.
Memberikan pujian atau penghargaan
untuk jawaban-jawaban yang tepat bagi siswa dan sebaliknya mengarahkan jawaban
yang kurang tepat.
Adapun aktivitas guru yang diamati dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
a.
Menyampaikan informasi
b.
Mengarahkan siswa untuk
menyelesaikan masalah
c.
Mengamati cara siswa untuk
menyelesaikan masalah
d.
Menjawab pertanyaan siswa
e.
Mendengarkan penjelasan siswa
f.
Mendorong siswa untuk
bertanya/menjawab pertanyaan
g.
Mengarahkan siswa untuk menarik
kesimpulan
h.
Perilaku yang tidak relevan.
3. Aktivitas Siswa dalam
Pembelajaran
Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar
merupakan salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. (Rosalia,
2005:2). Aktivitas siswa merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama
proses belajar mengajar. Kegiatan–kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang
mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan
tugas–tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan siswa
lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Lebih lanjut dapat dijelaskan indikator keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran adalah :
a.
Siswa tidak hanya menerima
informasi tetapi lebih banyak mencari dan memberikan informasi.
b.
Siswa banyak mengajukan pertanyaan
baik kepada guru maupun kepada siswa lainnya.
c.
Siswa lebih banyak mengajukan
pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau siswa lain.
d.
Siswa memberikan respon yang nyata
terhadap stimulus belajar yang dilakukan guru.
e.
Siswa berkesempatan melakukan
penilaian sendiri terhadap hasil pekerjaannya, sekaligus memperbaki dan
menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum sempurna.
f.
Siswa membuat kesimpulan pelajaran
dengan bahasanya sendiri.
g.
Siswa memanfaatkan sumber belajar
atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal.
Dapat
disimpulkan indikator keaktifan siswa yang dikemukakan oleh Sudjana meliputi
siswa lebih banyak mencari informasi tentang pelajaran, memecahkan permasalahan
sendiri serta membuat ringkasan pelajar dengan bahasa sendiri yang dipahaminya.
Aktivitas
Belajar Siswa adalah Gerakan yang dilakukan untuk sama-sama aktif ketika
belajar dengan memanfaatkan sebanyak mungkin. Dalam penelitian ini peneliti akan mengamati aktivitas siswa yang diamatisebagai berikut:
a.
Mengajukan pertanyaan
b.
Menjawab pertanyaan siswa maupun
guru
c.
Memberi saran
d.
Mengemukakan pendapat
e.
Menyelesaikan tugas kelompok
f.
Mempresentasikan hasil kerja
kelompok
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi
yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengansiswa itu sendiri. Hal ini
akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing
siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yangtimbul
dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan
yangakan mengarah pada peningkatan prestasi.
Siswa melalui kegiatan latihan dan
menyelesaikan tugas siswa sendiri sehingga diharapkan mampu melatih ketrampilan
siswa dalam menyelesaikan konsep materi yang telah ada dan mendorong siswa untuk aktif dalam
pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai pembimbing dan
motivator, serta fasilitator bagi siswa. Pendekatan ketrampilan proses adalah
cara untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan yang menjadi roda pengerak dan
pengembangan fakta serta konsep sehingga menumbuhkan sikap dan nilai.
D.
Kajian Penelitian yang Relevan
Sujai, dkk (2007:41) mengatakan bahwa
“Kajian penelitian yang relevan merupakan deskripsi hubungan antara masalah
yang diteliti dengan kerangka teoritik yang dipakai serta hubungannya dengan
penelitian terdahulu yang relevan”.Pada dasarnya urgensi kajian penelitian
adalah bahan atau kritik terhadap penelitian yang ada baik mengenai kelebihan
maupun kekurangannya sekaligus sebagai bahan pembanding terhadap kajian yang
terdahulu.
Penelitian yang relevan yang sesuai
dengan penelitian ini adalah :
1.
Hasil penelitian yang dilakukan
Rohman, Fatchur (2010) Efektifitas
Pembelajaran Sains Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Terhadap Hasil Belajar
Peserta Didik Kelas VII Mts N 1 Semarang pada Materi Pokok Kalor. Skripsi.
Jurusan Tadris Fisika, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negri Waligongo,
Semarang. Secara umum terjadi peningkatan hasil belajar. Dari hasil penelitian
pada pre test,diketahui bahwa hasil
belajar siswa adalah homogen dan berdistribus normal setelah dilakukan post test didapatkan nilai rata-rata
kelas kontrol 55,69 sedangkan nilai rata-rata kelas eksperimen 65,63.
Dari hasil tersebut terlihat
ada perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajarkan dengan model
konvensional dan model pendekatan ketrampilan proses. Sehingga dapat
disimpulkan: ada efektivitas pada hasil belajar peserta didik saat diterapkan
model pendekatan ketrampilan proses di MTs N 1 Semarang.
2.
Hasil penelitian yang dilakukan
Subagyo, Yusup (2007) Pembelajaran Sains
Dengan Pendekatan Ketrampilan Proses Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta
Didik Sekolah Menegah Pertama Pada Pokok Bahasan Suhu Dan Pemuaian.
Skripsi. Jurusan Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negri Semarang. Secara umum terjadi peningkatan hasil belajar secara
kognitif, psikomotorik, dan sikap pada pembelajaran sains dengan pendekatan
ketrampilan proses. Pada aspek pemahaman konsep pre-test diperoleh hasil
rata-rata sebesar 61,73%. Pada percobaan I diperoleh hasil rata-rata sebasar
54% dan percobaan II sebesar 76%. Peningkatan yang terjadi sebesar 0,478
meningkat pada percobaan II secara rata-rata menjadi 47%.
3.
Hasil penelitian yang dilakukan
Falestin, Yuditya (2010) Peningkatan
Prestasi Belajar Akuntansi Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based
Learning Pada Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negri 6 Surakarta Tahun Ajaran
2009/2010. Skripsi. FKIP, Universitas Sebelas Meret, Surakarta. Berdasarkan hasil penelitian
ini terbukti: Hasil penelitian pada siklus I meningkat dibandingkan sebelum
dilaksanakannya penelitian, yaitu 7,57% siswa telah mencapai standar KKM yaitu 65. Nilai
rata-rata kelas setelah penerapan model problem
based learning mengalami peningkatan angka sebesar 4,18 (nilai sebelum
siklus 69,05 dan nilai siklus I 73,23). Pada siklus II nilai rata-rata
meningkat yaitu 82,90, terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas dari siklus I
ke siklus II sebesar 9,67 (nilai siklus I 73,23 dan siklus II 82,90).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Metode Penelitian Kualitatif
1.
Metode
penelitian
Dalam penelitian ini
pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data
yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut dari naskah
wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan, memo, dan dokumen resmi
lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah
ingin menggambarkan realita empirik dibalik fenomena secara mendalam, rinci,
dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian
ini adalah berlaku dengan mencocokan metode deskriptif.
2.
Alasan
menggunakan metode kualitatif
Dalam penelitian ini digunakan Metodologi dengan
pendekatan desktiptif kualitatif model miles dan huberman karna data
berupa hasil observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi, yang memiliki
karakteristik alami (natural setting)
sebagai sumber data lansung, proses lebih dipentingkan dari pada hasil,
analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa interaktif
dan makna merupakan hal yang esensial.
Dalam pendekatan kualitatif yang bersifat
tentatif maka alasan dari penggunaan metode kualitatif ini karena, permasalahan
belum jelas, holiostik, dinamis dan penuh makna sehingga tidak mungkin data
pada situasi sosial tersebut dijaring dengan penelitian kuantitatif dengan
instrumen seperti test, kuesioner.
B.
Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Untuk
memperoleh data tentang aktivitas pembelajaran ekonomi dengan pendekatan ketrampilan proses kelas
X.1 MASwata
Annur Azzubaidi maka penelitian ini dilakukan :
Tempat penelitian :Madrasah Aliyah (MA)Swasta Annur Azzubaidi
Alamat :Jln. S. Palulu No.30 Kec.
Meluhu Kab. Konawe. Prov. Sulawesi Tenggara
2. Waktu
panelitian
Penelitian ini akan
dilaksanakan pada bulan juli– desember 2013. Sesuai dengan
rencana, maka penelitian dilaksanakan pada semester ganjil
tahun pelajaran 2013/2014, dengan tahapan-tahapan penelitian yaitu,
persiapan, observasi, wawancara,dokumentasi dan konsultasi.
C.
Sumber dan Jenis data
penelitian
1.
Sumber
data
Untuk memperoleh data dan
informasi yang valid, akurat serta meyakinkan yang berkaitan pendekatan ketrampilan proses dalam
pembelajaran ekonomi pada siswa kelas X.1 MA Swasta Annur Azzubaidi maka sumber data sangat dibutuhkan. Sumber data dalam penelitian ini
adalah orang-orang yang dapat memberikan informasi di lokasi penelitian. Adapun
sumber data dalam penelitian ini bisa berasal dari: guru, siswa yang merupakan
informan utama dan juga dari kepala
sekolah,guru, dan staf sebagai data pendukung validitas.
2.
Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini ada 2, yaitu:
a.
Data primer
Menurut S. nasution data primer adalah data yang dapat
diperoleh dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut lofland
sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan.
Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan
dengan pengamatan. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi
langsung tentang kegiatan pembelajaran ekonomi dengan pendekatan
ketrampilan proses pada siswa kelas X.1.
b.
Data sekunder
Data sekunder adalah
data-data yang didapat dari sumber bacaan dan sumber lainnya yang terdiri dari
surat-surat pribadi, buku harian, not,majalah, hasil-hasil studi, hasil survey,
studi hitoris, sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah dan
sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan
dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan
para guru dan siswa.
D.
Teknik Penentuan Informan
Pengambilan sumber data
penelitian ini menggunakan teknik “purposive sampling” yaitu pengambilan
sampel didasarkan pada
pilihan penelitian tentang aspek apa
dan siapa yang
dijadikan fokus pada
saat situasi tertentu dan saat ini terus-menerus
sepanjang penelitian, sampling bersifat purpossive yaitu tergantung pada tujuan
fokus suatu saat.
Informan dalam penelitian
ini adalah guru dan siswa yang merupakan informan utama yang memiliki pengetahuan tentang data
yang peneliti butuhkan yaitu orang yang akan di observasi dan diwawancarai
lebih lanjut.Dalam penelitian ini, peran informan sangat penting dan perlu.
Untuk menentukan informan dalam konteks objek penelitian diklasifikasikan
berdasarkan kompetensi tiap-tiap informan.
Teknik
penentuan informan dilakukan secara purposif. Usia dan peran informan menjadi
salah satu kunci untuk memperoleh informasi yang memadai. Jumlah informan
menjadi pengecualian ketika informasi yang diperoleh sudah dipandang memadai
sehingga pencaharianinformasi “data” dapat dihentikan.
E.
Teknik
pengumpulan data
Proses pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu
penelitian, begitu pula dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik
relevan dengan jenis penelitian kualitatif. Beberapa tekhnik yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu:
1.
Teknik Observasi
Observasi
merupakan alat pengumpul data yang dilakukan secara sistematis. Observasi
dilakukan menurut prosedur dan aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali
oleh peneliti dan hasil observasi memberikan kemungkinan untuk ditafsirkan
secara ilmiah.
Secara umum observasi dapat dilakukan dengan
cara yaitu:
a.
Observasi Partisipan
Adalah suatu proses pengamatan yang dilakukan
oleh observasi dengan ikut mengambil bagian dalam kehidupan orang-orang yang
akan di observasi.
b.
Observasi Non Partisipan
Merupakan suatu proses pengamatan observer tanpa ikut dalam
kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah berkedudukan sebagai
pengamat (Margono, 2005 : 161-162).
Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan teknik observasi observasi partisipan di mana peneliti
langsung ikut dalam kegiatan yang dilakukan oleh informandalam proses pembelajaran
sekaligus melakukan observasi, hal ini peneliti lakukan karena agar tidak
tercipta jarak antara peneliti dan informan sehingga data yang diinginkan mudah
untuk diperoleh.
2.
Tekhnik Wawancara
Wawancara
merupakan percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yaitu wawancara
yang akan mengajukan pertanyaan dan orang yang akan diwawancarai yang akan
memberikan jawaban atas pertanyaan yang akan diajukan (Moleong, 2005 : 186)
Wawancara harus diperoleh dalam waktu yang sangat singkat serta bahasa yang
digunakan harus jelas dan teratur.
Pada penelitian ini akan digunakan teknik
wawancara terstruktur artinya
format instrument wawancaranya telah dibuat oleh peneliti, jadi semua informan
akan mendapatkan pertanyaan yang sama. Wawancara yang
menggunakan petunjuk umum wawancara, dimana sebelum bertemu dengan informan,
peneliti akan mempersiapkan berbagai hal yang akan ditanyakan sehingga berbagai
hal yang ingin diketahui dapat lebih terfokus.
Adapun
data-data yang dikumpulkan dengan menggunakan wawancara tersebut di atas adalah:
pandangan awal tentang pendekata
ketrampilan proses, apa yang diketahui mengenai pendekatan ketrampilan
proses, Apa pendapatnya
dengan penerapan pendekatan ketrampilan proses selama proses pembelajaran, Bagaimana aktivitas siswa selama peroses pembelajaran, Apakah
layak pendekatan ketrampilan proses ini digunkan dalam pembelajaran ekonomi, Apa pandangan akhir anda mengenai
penerapan pendekatan ketrampilan proses dalam pembelajaran ekonomi dan harapan anda untuk calon guru kedepannya.
3.
Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel
yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, parasasti, notulen
rapat, lengger, agenda dan sebagainya mengisyarat (Suharsimi, 2006 : 231). Jadi
dapat dipahami bahwa metode dokumentasi merupakan metode yang penting dalam
penelitian ini sebab data-data tertulis sangat menunjang dalam menganalisis
data studi dokumen dimaksudkan untuk
mengumpulkan data yang tidak dapat diperoleh dalam wawancara dan observasi
dilapangan, maka dokumentasi dalam penelitian ini seperti mencari data yang berasal dari
dokumen-dokumen yang menunjang atau relefan dengan fokus penelitian ini.
F.
Teknik analisis data
Dalam suatu
penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan
jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan metode dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang
bersifat unik dan kompleks. Analisa data adalah proses mengatur urutan data,
mengorganisasikan kedalam suatu pola, kategori
dan satuan uraian dasar. Dalam metode kualitatif merupakan
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau
lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Analisis data dalam
penelitian inimenggunakan model miles dan huberman yang dilakukan secara
bersamaan dan berlangsung
selama proses pengumpulan data setelah selesai pengumpulan data, tahapan analisis data
sebagai berikut:
1.
Analisis
data sebelum dilapangan
Peneliti kualitatif telah melakukan analisis data sebelum memasuki
lapangan. Analisis dilakukan terhadap datahasil studi pendahuluan, atau data
skunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Namun fokus ini
masih bersifat sementara (tentatif), dan akan berkembang setelah peneliti masuk
dan selama di lapangan.
2.
Analisis
data selama dilapangan model miles dan huberman
Analisis data ini dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan
setelah selesai pengumpulan data dalam priode tertentu. Pada saat wawancara,
peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila
jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuasan, maka
peneliti aka melanjutkan pertanyaan lagi, sampai tahap tertentu, diperoleh data
yang dianggap kredibel.
Miles dan huberman( dalam sugiono 2012:335), mengemukakan bahwa
aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh.
Aktivitas dalam analisisdata tersebut yaitu:
a.
Pengumpulan data
Penelitian mengambil semua data secara obyektif dan apa adanya sesuai dengan
hasil obeservasi, wawancara dan dokumen dilapangan.
b.
Reduksi data
Reduksi data yaitu memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan
fokus penelitian. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang
menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan
data-data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang
hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencarinya sewaktu-waktu
diperlukan reduksi data dalam penelitian ini yaitu mengambil
segala bentuk data primer maupun skunder dari observasi, wawancara mendalam,
dan dokumen, dan mengeliminasi data-data yang tidak mendukung penelitian.
c.
Penyajian data atau interpretasi data
Penyajian data adalah sekumpulan informasi yang tersusun yang
memungkinkan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian
data merupakan analisis dalam bentuk matrik. Network, cart atau grafis,
sehingga data dapat dikuasai. Dalam hal ini adalah pemaknaan data dari reduksi data
yang telah diperoleh dengan penjabaran secara detail.
d.
Pengambilan keputusan dan verifikasi
Setelah data disajikan, maka dilakukan
penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Untuk itu diusahakan mencari pola, model, tema
hubungan, persamaan, hal-hal yang sering muncul, dan sebagainya. Jadi dari data
tersebut berusaha diambil kesimpulan, kesimpulan data penelitian mungkin
dapat menjawab rumusan masalah dalam penelitian yang dilakukan dan mungkin juga
tidak, karna kesimpulan disini masih bersifat sementara dan akan berubah jika
ditemukan bukti-bukti kuat yang akan mendukung tahap pemgumpulan data
berikutnya.
Proses
untuk mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut verifikasi data. Jika
kesmppulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang kuat
dalam arti konsisten dengan kondisi yang ditemukan saat peneliti kembali
kelapangan maka kesimpulan yang diperoleh merupakan kesimpulan yang kredibel.
Keempat komponen
tersebut saling interaktif yaitu saling mempengaruhi dan terkait. Pertama-tama
dilakukan penelitian di lapangan dengan mengadakan wawancara atau observasi
yang disebut tahap pengumpulan data. Karena data-data, pengumpulan penyajian
data, reduksi data, kesimpulan-kesimpulan atau peristiwa data yang dikumpulkan
banyak maka diadakan reduksi data. Setelah direduksi maka kemudian diadakan
sajian data, selain itu pengumpulan data juga digunakan untuk penyajian data.
Apabila ketiga hal tersebut selesasi dilakukan, maka diambil suatu keputusan dan verifikasi.
Setelah data dari
lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data diatas, maka
peneliti akan mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan
analisis secara deskriptif-kualitatif. Analisis
deskriptif-kualitatif merupakan suatu teknik yang menggambarkan dan
menginterpretasi arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan
perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat
itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan
sebenarnya.komponen dalam analisis data(interactive data) menurut Milles and Huberman
dalam sugiono(2012:335).
|
Data
Collection
|
|
Data Display
|
|
Data Reduction
|
|
Conclusions :
Drawing/verifyng
|
Gambar
2. Analisis Model Interaktif
Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa
hal, yaitu subjektivitas peneliti merupakan hal yang dominan dalam penelitian
kualitatif, alat penelitian yang diandalkan adalah wawancara dan observasi
mengandung banyak kelemahan ketika dilakukan secara terbuka dan apalagi tanpa
kontrol, dan sumber data kualitatif yang kurang credible akan mempengaruhi
hasil akurasi penelitian. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa cara menentukan
keabsahan data, yaitu:
1.
Teknik pemeriksaan derajat kepercayaan(credibilitas). Teknik
ini dapat dilakukan dengan jalan:
a.
Keikutsertaan peneliti sebagai instrument (alat) tidak hanya
dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan perpanjangan
keikutsertaan peneliti sehingga memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan
data yang dikumpulkan.
b.
Ketentuan pengamatan, yaitu dimaksudkan untuk menemukan
ciri-ciri dan unsur-unsur dan situasi yang sangat relevan dengan persoalan yang
sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci,
dengan demikian maka perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, sedangkan
ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
2.
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahaan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain diluar itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai pembanding.
Teknik yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan
terhadap sumber-sumber lainnya.Kecukupan referensi yakni bahan-bahan yang
tercatat dan terekam dapat digunakan sebagai patokan untuk menguji atau menilai
sewaktu-waktu diadakan analisis dan intepretasi.
3.
Teknik pemeriksaan keteralihan(transferability) dengan cara
uraian rinci.
Teknik ini meneliti agar laporan hasil fokus penelitian
dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat
penelitian diadakan. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus segala sesuatu
yang dibutuhkan oleh pembaca agar mereka dapat memahami penemuan-penemuan yang
diperoleh.
4.
Teknik pemeriksaan ketergantungan(depedability) dengan cara
auditing ketergantungan
Teknik
ini tidak dapat dilakukan/dialaksanakan bila tidak dilengkapi dengan catatan pelaksanaan
keseluruhan proses dan hasil penelitian. Pencatatan itu diklasifikasikan dari
data mentah sehingga formasi tentang pengembangan instrumen sebelum auditing
dilakukan agar dapat mendapatkan persetujuan antara auditor dan auditi terlebih
dahulu.








