PEMBAHASAN
I. Elemen Struktur Teori Akuntansi
Pendekatan dan
metodologi apapun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi, rerangka
acuan yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen dan hubungan yang mengatur
pengembangan teknik akuntansi. Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa
elemen sebagai berikut :
1. Pernyataan tujuan laporan keuangan
2. Pernyataan postulat dan konsep teoritis akuntansi yang terkait
dengan asumsi-asumsi lingkungan dan sifat unit akuntansi. Postulat dan konsep
teoritis diturunkan dari pernyataan tujuan.
3. Pernyataan
tentang prinsip-prinsip dasar yang didasarkan pada postulat dan konsep teoritis.
4. Batang
tubuh teknik-teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi.

Gambar 1: Struktur teori
Akuntansi
Postulat akuntansi adalah
pernyataan yang tidak memerlukan pembuktian atau aksioma, berterima umum
berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan,menggambarkan
lingkungan ekonomi, politik, sosiologi dan hukum tempat akuntansi beroperasi
Konsep teoritis akuntansi
adalah juga pernyataan yang tidak memerlukan pembuktianatau aksioma, juga
berterima umum berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan.
Prinsip akuntansi adalah
aturan keputusan umum, yang diturunkan baik dari tujuan dan konsep teoritis
akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.
Teknik akuntansi adalah
aturan spesifik yang diturunkan dari prinsip akuntansi untuk memperlakukan
transaksi atau peristiwa tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi.
II. Sifat Postulat Akuntansi
1.
Postulat Entitas/Entity.
Akuntansi mengatur hasil
operasi dari suatu entitas(lembaga/perusahaan)
yang menyatakan bahwa suatu unit perusahaan merupakan unit akuntansi yang
terpisah dari pemiliknya dan perusahaan lain. Postulat merumuskan bidang
perhatian akuntan dan membatasi jumlah objek, peristiwa, dan atribut peristiwa yang
dimasukkan ke dalam laporan keuangan. Selain itu, Postulat juga memungkinkan akuntan
membedakan antara transaksi bisnis dan individu, yang dimasukkan dalam laporan
keuangan adalah transaksi perusahaan bukan transaksi pemilik perusahaan konsep
ini disebut konsep firm oriented. Dan
tanggung jawab pelayanan manajemen berada pada pemegang saham. Definisi lain
entitas akuntansi adalah dalam kerangka kepentingan ekonomi bagi berbagai pemakai,
dan bukan aktivitas ekonomi dan pengendalian administratif unit. Pendekatan ini
lebih berorientasi pemakai dari pada orientasi perusahaan.
Dari sisi lain konsep entity ini dilihat dari
kepentigan ekonomi dari beberapa konsumen laporan bukan dari kegiatan
administrasi lembaga tersebut tadi. Pengertian ini disebut User Oriented. Dan dalam konsep ini yang menjadi perhatian dalam
penyusunan laporan keuangan adalah para pemakai. Informasi apa yang diinginkan
pemakai itulah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Untuk mengetahui apa
yang diinginkan para pemakai laporan perlu diketahui:
- Kepentigan para pemakai laporan
- Sifat-sifat dari pada pemakai laporan
Contoh yang paling jelas
disini adalah akuntansi social, akuntansi lingkungan,akuntansi sumber daya
manusia, danlain-lain.dalam bidang ini yang menjadi dasar bertolak adalah apa
yang diiginkan para pemakai laporan laporan keuangan bukan tentang apa maunya
teori akuntansi.
2.
Postulat Kelangsungan Usaha/Going concern
Postulat kelangsungan usaha/ going concern di sebut
juga continuity. menyatakan bahwa
entitas akuntansi akan terus beroperasi. Postulat ini berasumsi bahwa
perusahaan tidak diharapkan untuk dilikuidasidalam masa yang akan datang yang
dapat diketahui dari sekarang atau bahwa entitas akan terus beroperasi untuk
jangka waktu yang tidak tertentu.
Ponsulat ini memberikan
pembenaran terhadap penilaian asset secara historical
cost dan book value bukan current value atau liquidation value. Ponsulat ini juga
membenarkan metode alokasi harga pokok baik penyusutan maupun amortisasi selama
masa penggunaanya.
Ponsulat Going concern ini juga dapat dipergunakan untuk agar manajer
bersikap forward looking melihat jauh
kedepan dan investorpun dengan pemahaman ini diharapkan dapat menanamkan
modalnya dalam perusahaan.
3.
Postulat Unit Pengukur/Unit of Measure
Postulat unit pengukur di
sebut juga monetary unite postulate menyatakan
bahwa akuntansi adalah pengukuran dan proses mengkomunikasikan aktivitas
perusahaan yang dapat diukur dalam satuan moneter. Unit pertukaran dan
pengukuran diperlukan untuk mencatat transaksi perusahaan dengan cara yang
seragam. Pengukur umum yang dipilih dalam akuntansi adalah unit moneter. Kebertukaran
barang, jasa, dan modal diukur dalam satuan uang.
Postulat
unit pengukuran atau unit of measure menimbulkan 2 keterbatasan akuntansi :
- Akuntansi terbatas pada pemberian informasi yang dijabarkan dalam ukuran moneter (uang),tidak mencatat informasi relevan lainnya yang sifatnya non moneter, sehinga akuntansi dianggap hanya informasi yang kuantitatif,formal,tersruktur, dapat diaudit, angka-angka, dan berorientasi masa lalu. Informasi non akuntansi dianggap:kualitatif, informal,penjelasan, tidak dapat diaudit, dan berorientasi masa depan. Namun saat ini para ahli berusaha agar informasi yang diberikan oleh akuntansi dapat memasukan aspek-aspek kuantitatif.
- Unit moneter yang sifatnya tergantung pada daya beli (purchasing power). Sehingga dalam teori tradisional Postulat stable Monetery unit adalah bagian dari postulat akuntansi. Kenyataannya adalah bahwa daya beli uang itu tidak stabil.
4.
Postulat Periode Akuntansi/ Acconting period
Meskipun postulat
kelangsungan usaha menyatakan bahwa setiap perusahaan akan tetap ada pada
periode waktu yang tidak terbatas, namun adakalanya pemakai meminta berbagai informasi
tentang posisi keuangan, hasil usaha kinerja perusahaan dan perubahanya harus di
laporkan secara priodik,bias perbulan,persemester,atau tahun untuk membuat keputusan
jangka pendek. Dapat menggunakan tahun kalender, tahun fiscal,dan tahun-tahun
yang lain (buseniss year). Dari hal tersebut maka postulat periode
akuntansi menyatakan bahwa laporan keuangan perusahaan seharusnya diiungkapkan
secara periodik.
III.
Konsep – konsep Teoritis Akuntansi
1.
The Proprietary theory / Teori
Kepemilikan
Menurut teori proprietary entitas sebagai agen, perwakilan
atau penugasan melalui wirausahawan
individual atau pengoperasi pemegang saham. Sudut pandang kelompok pemilik
sebagai pusat kepentingan terefleksi dalam cara memelihara catatan akuntansi dan
membuat laporan keuangan. Tujuan utama teori proprietary adalah untuk menentukan
dan menganalisis kekayaan bersih pemilik, dengan persamaan akuntansi. Sehingga
persamaan akuntansinya:
Aset – Utang = Ekuitas
Pemilik
Asset- liabilities=
Proprietor’s Equity
Kesamaan ini dibaca: pemilik memiliki asset
sekaligus juga mempunyai kewajiban. Oleh karenanya teori ini berorientasi neraca atau Balance Sheet
Oriented. Asset dinilai dan neraca di sajikan untuk mengetahui dan
menggukur perubahan hak dan kekayaan pemilik, penghasilan dan biaya dianggap
sebagai kenaikan dan penurunan harta kekayaan pemilik bukan dianggap berasal
dari investor atau penggambilan pemilik, sehinga biaya dan deviden adalah
pengambilan modal.
2.
Teori Entitas/ The Entity Theori
Teori entitas memandang
entitas sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari pemilik modal. Unit
bisnis memiliki sumber daya perusahaan dan bertanggung jawab terhadap pemilik
maupun kreditor. Menurut teori ini persamaan akuntansinya adalah.
Aset = Ekuitas
Aset = Utang + Ekuitas Pemegang Saham
Asset
adalah hak perusahaan, equity merupakan sumber asset yang biasa berasal dari
kreditur atas pemilik. Kreditur dan pemilik sebenarnya adalah pemilik. Walaupun
mereka berbeda dalam hal hak atas income,risiko,pengawasan, dan likuidasi.laba
adalah milik entity sebelum dibagikan kepada pemiliknya.
Teori Entity ini berorientasi pada income atau income oriented. Pertanggung jawaban
kepada pemilik dilakukan dengan cara mengukur prestasi kegiatan dan keuangan
perusahaan. Dengan demikian income adalah merupakan kenaikan Equity pemilik.
Setelah dikurangi hak kreditur kenaikan Equity pemilik terjadi setelah deviden
dikeluarkan dan laba ditahan tetap dianggap sebagai hak milik entity sampai suatu saat dibagikan. Dalam
teori ini pajak dan bunga pinjaman dianggap sebagai bagian laba untuk pemerintah
dan kreditur. Oleh karena itu bukan biaya.
Beberapa pengaruh ini terhadap akuntansi:
a)
Punggunaan LIFO dalam
menilai persediaan pada masa inflasi. Metode ini lebih baik dalam penentuan
pendapatan dari pada FIFO, pada masa inflasi.
b)
Penyajian laporan keuangan
konsolidasi
c)
Devinisi tentang revenue
dan expense yang lazim sesuai dengan konsep ini.
Kalau
teori entity menekankan pada penentuan income dari pemilik, teori proprietory
menekankan pada penilaian asset maka kedua teori ini mengarah pada Current Value Accounting bukan Historical Cost Accounting.
3.
Teori Dana /The Fund Theory
Menurut
teory ini yang menjadi perhatian bukan pemilik dan bukan pula perusahaan tetapi
sekelompok asset dan kewajiban yang disebut “Fund” yang mengatur penggunaan
asset. Dengan demikian teori Fund menganggap bahwa unit usaha merupakan sumber
ekonomi (Fund) dan kewajiban sebagai
pembatasan-pembatasan terhadap penggunaan asset.
Dalam teori dana kelompok
aset dan kewajiban dan restriksi terkait disebut dana yang mengatur penggunaan aset.
Jadi teori dana memandang unit bisnis terdiri atas sumber daya ekonomi (dana)
serta kewajiban dan restriksi terkait mengenai penggunaan sumber daya .
Persamaan akuntansinys adalah.
Aset = Restriksi Aset
Aset= Pembatasan Aset
Teori dana berorientasi aset
dalam pengertian bahwa fokus utamanya adalah pada administrasi dan penggunaan
aset secara memadai. Teori dana ini terutama berguna untuk pemerintah dan
organisasi nirlaba. Teori dana juga relevan untuk organisasi laba yang
menggunakan dana untuk aktivitas yang bermacam-macam seperti dana pelunasan
(sinking fund), akuntansi untuk kebangkrutan dan perkebunan dan perwalian, akuntansi
cabang atau divisional, pemisahan aset dalam aset lancar atau tetap dan konsolidasi.
IV.
Prinsip Dasar Akuntansi
1.
Prinsip Kos/ The Cost Principle.
Menurut prinsip kos, kos
pemerolehan (acquisition) atau kos historis merupakan dasar penilaian yang
memadai untuk mengakui pemerolehan semua barang dan jasa,expenses, kos, dan
ekuitas. Dengan kata lain, itek dinilai dengan harga pertukaran pada saat
barang tersebut dibeli dan dicatat dalam laporan keuangan pada nilai atau porsi
amortisasi nilai barang.
Kos menunjukkan harga pertukaran atau imbalan
moneter yang diberikan untuk memperoleh barang atau jasa. Jika imbalan terdiri
dari aset non-moneter, harga pertukaran adalah ekuivalen kas atas aset atau
jasa yang diterima. Prinsip kos dapat diterapkan dalam pengukuran utang dan
modal. Prinsip kos dijustifikasi oleh postulat objektivitas dan postulat
kelangsungan usaha.
Kos perolehan adalah
objektif di mana informasi yang dihasilkan dapat diuji kebenarannya. Postulat
kelangsungan usaha mengasumsikan bahwa entitas akan meneruskan usahanya, aktivitasnya
secara tak terbatas, sehingga mengeliminasi perlunya menggunakan nilai sekarang
atau nilai likuidasi untuk penilaian aset.
APB Statemen No. 4
mendefinisikan cost sebagai berikut:
Cost adalah suatu jumlah tertentu yang
diukur dalam bentuk uang dari kas yang dibelanjakan atau barang lain yang di
serahkan, modal saham yang dikeluarkan,jasa yang diberikan atau utang yang
bebankan sebagai imbalan dari barang dan jasa yang diterima atau akan diterima.
Cost dapat dibagi : Expired dan Unexpired.
Unexpired Cost atau asset adalah semua yang akan dibebankan kepada produksi
dari penghasilan yang akan datang. Expired Cost adalah pengurangan dan
penghasilan sekarang atau dibebankan ke laba ditahan.
Kelemahan
dari prinsip ini yang paling utama adalah akibat nilai uang /kemampuan daya
beli yang tidak stabil sehingga bias terjadi kemungkinan kesalahan pembaca
dalam membaca laporan keuangan yang disajikan sacara Cost Principle.
2.
Prinsip Revenue/ The Revenue Principle
a. Sifat-sifat komponen revenue
Revenue dapat
interpretasikan sebagai
- Aliran masuk aset bersih
yang berasal dari penjualan barang atau jasa.
- Aliran keluar barang atau
jasa dari perusahaan kepada pelanggan
- Produk
perusahaan yang dihasilkan dari penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan
selama periode waktu tertentu.
Terdapat perbedaan
interprestasi atas sifat revenue disebabkan adanya perbedaan pandangan tentang
apa yang seharusnya masuk sebagai revenue.
Ada dua pandagan tentang Revenue:
·
Revenue dianggap sebagai semua perubahan dalam aset
bersih yang berasal dari aktivitas penghasil revenue dan keuntungan atau
kerugian yang berasal dari penjualan aset tetap dan investasi.
Sikap yang dianut oleh Accounting Terminologi Bulletin No.2
yang menjelaskan definisi Revenue sebagai berikut:
Revenue berasal dari penjualan barang dan pemberian jasa dan di ukur
dengan jumlah yang dibebankan kepada langganan, klaim atas barang dan jasa yang
disiapkan untuk mereka. Juga termaksud
laba dari penjualan atau pertukaran asset (kecuali surat berharga), hak dividen
dari investasi dan kenaikan lainnya pada Equity pemilik.kecuali yang berasal
dari modal donasi dan penyesuaian modal.
·
Sedangkan
pandangan yang lebih sempit tentang revenue hanya memasukkan hasil yang berasal
dari aktivitas penghasil revenue dan mengeluarkan penghasilan investasi dan
keuntungan dan kerugian dari pelepasan asset tetap.dengan kata lain Revenue
hanya yang berasal dari kegiatan produksi tidak termaksud Laba Rugi yang
berasal dari penjualan aktiva tetap.
Devinisi ini membedakan
itilah Revenue dengan laba rugi. AAA pada tahun 1957 mendefinisikan net income
sebagai berikut:
Kelebihan revenue dibandingkan dengan biaya yang dibebankan ditambah
dengan Laba Rugi perusahaan lainnya yang berasal dari penjualan, pertukaran,
atau pengantian asset lainnya.
b.
Pengukuran revenue
Revenue diukur dalam
pengertian nilai pertukaran produk atau jasa dalam sebuah transaksi yang lugas.
Atau istilah akuntansinya arm’s–length
transaction
Nilai disini dapat berupa :
·
Net Cast atau Equivalent
·
Nilai discounted dari uang yang diterima atau akan
diterima sebagai imbalan pertukaran barang dan jasa yang diserahkan perusahaan
kepada langgananya.
Terdapat dua interpretasi revenue yang muncul
dari konsep revenue ini :
1. Potongan tunai dan berbagai pengurangan dalam
harga tetap, seperti
kerugian piutang yang tidak tertagih, memerlukan
penyesuaian untuk menghitung ekuivalen kas bersih yang sesungguhnya atau nilai
diskontoansekarang atas klaim uang dan secara konsekuen harus dikurangkan
ketika harus menghitung revenue
2. Untuk transaksi non-kas,
nilai pertukaran sama dengan nilai pasar yang
wajar barang/jasa yang
diberikan atau diterima, mana yang lebih mudah dan jelas menghitungnya.
c. Waktu
pengakuan revenue.
Umumnya diakui bahwa revenue
dan income yang diperoleh dalam semua tahap siklus operasi. Namun karena ada
kesulitan mengalokasikan revenue dan income ke tahap yang berbeda dari suatu
siklus operasi, akuntan menggunakan prinsip realisasi (Realization Princieple) untuk memilih sebuah peristiwa kritis
dalam siklus untuk waktu pengakuan revenue dan income.
Prinsip realisasi ini
diartikan sebagai berikut:
“perubahan dalam asset atau kejadian yang telah dianggap terjadi dan
obyektif sebagai jaminan penyelesaian transaksi tersebut. Saat penyelesaian
terletak pada kejadian teransaksi pertukaran dilakukan diantara pihak-pihak
yang independen atau dilakukan secara peraktek dagang yang sudah diatur, atau
berdasarkan surat perjnjian yang dianggap sudah pasti.”
Kriteria spesifik pengakuan
revenue dan income adalah :
1. Diperoleh (earned ),
dalam satu atau beberapa pengertian
2. Dalam bentuk yang dapat
didistribusikan
3. Hasil
atas konversi yang timbul dari transaksi antara perusahaan dan pihak eksternal
4. Hasil dari penjualan yang
sah atau proses serupa
5. Dipotong dari modal
6. Dalam bentuk aset lancar
7. Dampak
kotor dan bersih pada ekuitas pemegang saham harus dapat diestimasi dengan
tingkat reliabilitas tinggi
Secara umum revenue diakui
dengan dasar akrual atau dasar peristiwa kritis (Critical Event Basis) dan
selama kegiatan produksi (accrual basis).
a)
Accurual Basis
Pengakuan Revenue secara
Accrulal Basis berarti bahwa Revenue harus
dilaporkan selama kegiatan produksi (dimana laba dapat dihitung secara
proporsional dengan penyelesaian pekerjaan), pada akhir produksi, pada saat
penjualan barang, atau pada saat penagihan piutang.
·
Revenue umumnya diakui selama kegiatan produksi
dalam hal:
1.
Sewa, bunga, komisi dianggap diakui sebagai Revenue
berdasarkan perjanjian yang dibuat sebelumnya yang menjelaskan tentang kenaikan
terhadap dari klaim kepada pelanggan.
2.
Perusahaan / lembaga professional seperti
konsultan, Akuntan, Pengacara, dan lain-lain. Mungkin lebih tepat menerapkan
Accrual basis dalam penetepan pengakuan pendapat. Jumlah pembebanan tergantung
pada porsi jasa yang diselesaikan.
·
Revenue atas kontrak jangka panjang diakui
berdasarkan kemajuan kerja atau persentase siap dapat dihitung dengan cara:
1.
Taksiran para ahli
2.
Jumlah biaya yang sudah dikeluarkan dibandingkan
dengan taksiran biaya seluruh proyek.
·
Revenue dari Cost
Plus Fixed Contract, kontrak yang dibuat berdasarkan fee yang ditetapkan
ditambah biaya-biaya tertentu.
·
Perubahan asset sebagai akibat pertumbuhan yang
menimbulkan kenaikan revenue seperti pabrik anggur, peternakan, Perkayuan Hutan Tanam Industri (HTI), dan lain-lain
b)
Critical Event Basis
Dalam metode ini yang
diperhatikan adalah kejadian-kejadian penting dalam siklus oprasi perusahaan.Dasar
peristiwa kritis untuk pengakuan revenue dipicu oleh peristiwa krusial dalam
siklus operasi. Peristiwa tersebut mungkin adalah :
- Saat terjadinya penjualan
- Penyelesaian produksi
- Penerimaan pembayaran
untuk penjualan berikutnya
A.
Dasar penjualan untuk pengakuan revenue dibenarkan
kaena :
1. Harga
produk dapat diketahui dengan pasti
2.
Pertukaran telah diakhiri dengan pengiriman barang, sehingga diperolehpengetahuan
yang obyektif akan kos yang terjadi.
3. Dalam artian realisasi,
penjualan merupakan peristiwa krusial
B. Dasar penyelesaian produksi untuk pengakuan
revenue dapat dibenarkan ketika pasar stabil dan harga stabil tersedia untuk
komoditi standar.kemudian yang dianggap menjadi kejadian penting adalah kegiatan
produksi bukan penjualan; seperti jenis logam yang mempunyai harga pasar yang
relatife stabil seperti emas, perak, dan sejenisnya serta mungkin produk-produk
pertambagan dan pertanian yang memenuhi criteria
C. Dasar pembayaran untuk pengakuan revenue
dibenarkan ketika penjualan akan dilakukan dan ketika pengakuan akurat yang
memadai tidak dapat diberlakukan untuk produk yang ditransfer.
3. Prinsip Penandingan/ The Matching
Principle
Prinsip penandingan menyatakan bahwa ekpenses harus
diakui pada periode yang sama dengan revenue . Revenue diakui dalam periode
tertentu sesuai dengan prinsip revenue, dan expenses yang terkait kemudian
diakui. Secara operasional, terdapat proses dua tahap untuk akuntansi expenses.:
- Pertama kos dikapitalisir sebagai aset yang menggambarkan sekumpulan jasa atau manfaat potensial.
- Kedua, setiap aset dihapus sebagai expenses untuk mengakui proporsi jasa potensial aset yang telah dipakai untuk menghasilkan revenue selama periode tertentu.
Jadi, akuntansi
akrual lebih ditunjukkan oleh prinsip penandingan dalam artian kapitalisasi dan
alokasi dibanding akuntansi kas.
Hubungan antar revenue dan expenses tergantung pada
satu dari empat kriteria
Ø .
Penandingan langsung kos yang telah terpakai dengan revenue
Ø Penandingan langsung kos yang telah terpakai
dengan periodenya
Ø . Alokasi
kos selama periode yang mendapatkan manfaat.
Ø Menjadikan
expenses semua kos lain dalam periode terjadinya, kecuali jika dapat ditunjukkan
bahwa masih memiliki manfaat di masa mendatang.
Asset atau unexpiret cost
tidak memenuhi syarat sebagai unsure biaya sehingga tidak dibebankan sebagai
biaya pada priode itu.
Harga Pokok Barang Yang Dijual
Yang
termaksudk dalam harga pokok penjualan adalah bahan mentah. Upah langsung dan
biaya overhead. Untuk menghitung harga
pokok penjualan dilakukan dua tahap:
- Penilaian persediaan atau penentuan harga pokok produksi yang dikeluarkan untuk membuat produk tersebut.
- Penentuan pendapatan dengan mengurangi harga pokok produksi dari hasil penjualan
Dalam menentukan nilai
persediaan problem yang harus diputuskan adalah biaya mana yang termaksuk
dianggap sebagai Product Cost dalah
biaya yang dikeluarkan untuk memberi keuntugan di masa yang akan datang oleh
karena itu harus dimasukkan sebagai harga unsure harga pokok persediaan. dan
biaya mana yang termasuk dianggap sebagai period Cost apabila biaya yang
dikeluarkan hanya memberikan manfaat pada priode itu. Dalam perhitugan biaya
produksi ada dua konsep yaitu :
Ø Absorbtion
Costing (Full Costing), seluruh biaya produksi diperlakukan sebagai Product Cost
yang melekat sebagai biaya produksi dan ini trus diperlakukan sepeti itu sampai
tiba saat penjualan.
Ø Direct
Costing (Variabel Costing), yang dianggap sebagai produck cost hanya yang
termasuk biaya produksi yang variable saja sedangkan biaya produksi yang
sifatnya tetap (Fixed Cost) di perlakukan Period Cost.
Biaya Operasi
v Biaya
penjualan atau biaya distribusi/ pemasaran dan biaya umum juga
administrasi,adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penjualan
sampai barang itu berada ditanggan konsumen, seperti biaya pengiriman,
pajak-pajak yang berkenaan dengan penjualan, promosi,gaji tenaga penjualan, dan
lain-lain.
v Biaya
umum dan administrasi, adalah biaya yang
dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan diluar kegiatan penjualan, misalnya gaji
pegawai bagian umum,air, telepon,pajak,iuran,biaya kantor dan lain-lain.
Biaya Oprasi
Asset
yang dapat di ganakan lebih dari satu priode biasanya dikapitalasi dalam jumlah
ini akan di alokasi secara sistematis selama masa manfaatnya yang dapat
dikatakan sebagai pengalokasian beban selama masa penggunaannya.
Penyusunan
untuk aktiva tetap berwujud disebut depericiation. Penyusutan untuk aktiva
sumber-sumber alam disebut depletion. Penyusutan untuk aktiva tidak berwujud di
sebut Amortization.
Depreciation
Accontinting menurut akuntansi didefinisikan sebagai berikut:
“suatu system akuntansi yang bertujuan untuk
mengalokasikan harga pokok atau nilai dasrar lain dari aktiva berwujud lainnya
dikurangi nilai sisa (jika ada) selama taksiran umur penggunaanya secara sistematis.
Ini adalah proses alokasi bukan penilaian. Penyusutan dalam tahun tertentu
adalah bagian biaya yang dialokasikan secara sistematis dalam priode itu”
4. Prinsip Objektivitas/ The Objectivity
Principle
Kegunaan informasi keuangan
tergantung pada tingkat reliabilitas prosedur pengukuran yang digunakan. Karena
menjamin reliabilitas maksimum adalah sangat sulit, akuntan telah menggunakan
prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan prosedur pengukuran yang
digunakan. Prinsip Objectivity ini memiliki penafsiran yang berbeda-beda
sebagai berikut:
1.
Objectivity merupakan realitas yang dikemukakan
pihak luar yang independent (bebas) dari orang yang merasakannya.
2.
Objectivity dianggap suatu ukuran yang dapat
diperiksa yang didasarkan pada bukti.
3.
Ukuran objektif dianggap sebagai hasil consensus
diantara kelompok tertentu yang mengamatinya dan menggukurnya. Dengan demikian
objectivity akan tergantung pada ukuran dari kelompok tertentu tersebut.
4.
Tingkat Objectivity dapat diukur melalui penentuan
batas atau lamit tertentu.
5. Prinsip Konsistensi / The Consistency
Principle
Prinsip konsistensi
menyatakan bahwa peristiwa ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan
dilaporkan secara konsisten dari periode ke periode. Prosedur akuntansi yang
sama akan diterapkan serupa sepanjang waktu. Namun prinsip konsistensi tidak
menghalangi perusahaan mengubah prosedur akuntansi ketika hal tersebut dapat
dibenarkan dengan perubahan keadaan, atau jika prosedur alternatif lebih baik.
Perubahan yang dapat menjustifikasi perubahan
prosedur adalah :
1. Perubahan dalam prinsip akuntansi
2. Perubahan dalam estimasi akuntansi
3. Perubahan dalam entitas akuntansi
Menurut PAI jika terjadi peubahan akuntansi maka
ditempuh langah sebagai berikut:
ü Pengaruh
kuantitatif dari perubahan keprinsip akuntansi yang baru dilaporkan dalam
perhitungan rugi laba priode pembelanjaan, dan di sajikan diantara pos luar dan
laba bersih. Perhitungan pengaruh kumulatif ini dapat dikecualikan apabila
perubahan prinsip akuntansi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan dengan
ketentuan dalam Undang-Undang no 7 Pajak Penghasilan Tahun 1983
ü Untuk
perubahan penilaian persediaan dari atau ke metode LIFO dimana pengaruh
kumulatif umumnya sulit ditentukan, persedian awal dalam tahun dianutnya metode
baru disajikan sebagai persedian tahun dasar untuk keseluruhan perhitungan
berikutnya.
ü Laporan
keuanggan harus dinyatakan kembali secara retroaktif (berlaku surut)untuk
perubahan berikut ini:
ü Sifat dan
alas an dilakukannya perubahan dalam kebijaksanaan akuntansi harus diungkapkan
dalam catatan atas laporan keuangan terjadinya perubahan.
6. Prinsip Pengungkapan Penuh/ The
Disclosure Principle
Terdapat konsesus umum dalam
akuntansi bahwa terdapat pengungkapan data akuntansi yang penuh (full)adalah
menyangkut kelengkapan penyajian informasi, wajar (fair) aturan etis tentang
perlakuan yang sama kepada semua pemakai laporan dan cukup (adquate) informasi
minimum yang harus disajikan. Pengungkapan penuh mensyaratkan bahwa laporan
keuangan didesain dan dibuat untuk menggambarkan secara akurat peristiwa
ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan memuat informasi
yang memadai untuk membuat laporan berguna dan tidak menyesatkan bagi rata-rata
investor.
Menurut
Skinner beberapa hal yang harus diperhatikan agar laporan keungan disebut full
disclosure adalah:
- Penjelasan tentang metode dan kebijaksanaan akuntansi.
- Informasi tambahan untuk membantu melakukan analisis investasi
- Perubahan kebijaksanaan akuntansi dengan tahun sebelumnya
- Transaksi yang berasal dari pihak yang mempunyai hak yang mengontrol perusahaan
- Aktiva dan kewajiban yang masih bersifat Contingency dan yang mengandung komitmen tertentu
- Transaksi keuangn dan transaksi yang bukan operasionalyang terjadi setelah tanggal neraca.
7. Prinsip Konsevatisme/ The Conservatism
Principle
Prinsip konsevatisme merupakan prinsip pengecualian
atu modifikasi dalam artian bahwa prinsip tersebut bertindak sebagai batasan
untuk penyajian data akuntansi yang relevan dan reliabel. Prinsip konservatisme
menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih teknik akuntansi yang
dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling kecil dampakya
terhadap ekuitas pemegang saham.
8. Prinsip Materialitas/The Materiality
Principle
Prinsip materialitas
merupakan prinsip pengecualian atau modifikasi seperti halnya koservatisme.
Prinsip ini menyatakan bahwa transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki dampak
ekonomi signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat. Meterialitas berlaku
sebagai petunjuk implisit bagi akuntan dalam artian apa yang seharusnya diungkapkan
dalam laporan keuangan, memungkinkan akuntan untuk memutuskan apa yang tidak
penting atau apa yang tidak menjadi masalah dalam pencatatan kos, keakuratan laporan
keuangan, dan relevansinya bagi pengguna.
Menurut APB Statement No 4
materiality dianggap:
“laporan keuangan hanya menyangkut informasi yang dianggap cukup penting
(material)dalam mempegaruhinpenilaian dan keputusan”
9. Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas
Prinsip kopsistensi mengacu
pada penggunaan prosedur yang sama untum item-item yang terkait dengan
perusahaan tertentu antar waktu. Prinsip keseragaman merujuk pada penggunaan
prosedur yang sama oleh perusahaan yang berbeda. Tujuan yang diinginkan adalah
mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keanekaragaman yang
tercipta karena penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang
berbeda.
Dengan
adanya keseragaman itu diharapkan :
ü Mengurangi
perbedaan penggunaan prinsip akuntansi dan ketidak lengkapan peraktek akuntansi
ü Dapat
memberikan arti apabila qta membandingkan laporan keuangan perusahaan yang
berbeda
ü Meningkatkan
laporan pemakai laporan keuangan
ü Cenderung
adanya campur tangan pemerintah dalam mengatur penyusunan laporan akuntansi.
PENUTUP
KESIMPULAN
Aturan dan teknik akuntansi yang ada didasarkan
pada pondasi teori akuntansi. Pondasi ini dibentuk dari elemen-elemen hirarki
yang berfungsi sebagai kerangka acuan atau struktur teoritis. Pendekatan dan
metodologi apapun yang digunakan dalam penyusunan teori akuntansi, rerangka
acuan atau struktur teori yang dihasilkan didasarkan pada serangkaian elemen
dan hubungan yang mengatur pengembangan teknik akuntansi.
Struktur teori akuntansi terdiri dari beberapa
elemen sebagai berikut :
1. Pernyataan tujuan laporan keuangan
2.
Pernyataan postulat dan konsep teroritis akuntansi yang terkait dengan asumsi-asumsi
lingkungan dan sifat unit akuntansi. Postulat dan konsep teoritis diturunkan
dari pernyataan tujuan
3.
Pernyataan tentang prinsip-prinsip dasar yang didasarkan pada postulat dan
konsep teroritis
4. Batang
tubuh teknik-teknik akuntansi yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntansi
Pemahaman terhadap elemen-elemen ini dan hubungan
teori akuntansi menjamin pemahaman terhadap alasan balik praktik aktual dan
masa mendatang. Laporan keuangan yang disajikan dalam laporan akuntansi formal
semata-mata merupakan refleksi penerapan struktur teori akuntansi.






0 comments:
Post a Comment