TUJUAN LAPORAN KEUANGAN
1). Tujuan Laporan Keuangan Menurut APB Statement No.
4
APB statement No.4 berjudul “ Basic Concepts and Accounting Principles Underlying
Financial Statements Business Enterprises”. Laporan ini bersifat deskriptif dan
laporan ini banyak mempenggaruhi studi-studi berikutnya tentang tujuan laporan
keuangan. Dalam Laporan ini tujuan laporan keuangan digolongkan sebagai berikut
:
1.
Tujuan
Khusus
Tujuan
khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil
usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar dan sesuai dengan
GAAP (Gnerally Accepted Accounting Principle).
2.
Tujuan
Umum
Adapun
tujuan umum laporan keuangan disebutkan sebagai berikut :
ü Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi, dan
kewajiban perusahaan dengan maksud :
a.
Untuk
menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
b.
Untuk
menunjukan posisi keuangan dan investtasinya
c.
Untuk
menilai kemampuannya untuk menyelesaikan utang-utangnya.
d.
Menunjukan
kemampuan sumber-sumber kekayaan yang ada untuk pertumbuhan perusahaan
ü Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang
berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud :
a.
Memberikan
gambaran tentang dividen yang diharapkan.
b.
Menunjukan
kemmpuan perusahaan untuk membayar kepada kreditur, spplier, pegawai,
pajak,mengumpulkan dana untuk perluasan.
c.
Memberikan
informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanaan fungsi perencanaan
dan pengawasan.
d.
Menunjukan
tingkat kemampuan perusahaan mendapatkan laba dalam jangka panjang.
ü Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi
perusahaan dalam menghasilkan laba.
ü Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan
kewajiban.
ü Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai
laporan.
3.
Tujuan
Kualitatif
Adapun
tujuan kualitatif yang dirumuskan APB Statements No.4 adalah sebagai berikut :
a.
Relevan
Memilih
informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan dalam proses pengambilan
keputusan.
b.
Dapat
dimengerti
Informasi
yang dipilih untuk disajikan bukan saja penting, tetapi juga harus informasi
yang dimengerti para pemakainya.
c.
Dapat
dicek kebenarannya
Hasil
akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain yang akan menghasilkan
pendapat yang sama.
d.
Netral
Laporan
akuntansi itu netral terhadap pihak-pihak yan berkepentingan. Informasi
dimaksudkan untuk pihak umum bukan pihak-pihak tertentu saja.
e.
Tepat
waktu
Laporan
akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada
saat yang tepat\ cepat.
f.
Dapat
diperbandingkan
Infrmasi
akuntansi harus dapat saling dibandingkan artinya akuntansi harus memiliki
prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
g.
Lengkap
Informasi
yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan yang layak dari para pemakai.
2). Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Trueblood Committe
Komite yang dipimpin Trueblood ini
beranggotakan 9 orang yang berasal dari akademis dan praktis. Mereka ditugaskan
untuk merumuskan tujuan laporan keuangan. Dalam laporrannya komite ini ingin
menentukan :
a. Siapa yang memerlukan laporan
keuangan.
b. Informasi apa yang mereka perlukan.
c. Berapa banyak informasi yang
diperlukan tersebut dapat disupplai oleh akuntansi.
d. Kerangka apa yang dibutuhkan untuk
menyusun informasi yang diperlukan itu.
Dalam
Trueblood Committe Report juga dinyatakan bahwa tujuan utama dari laporan
keuangan adalah memberikan informasi yang berguna untuk mengambil keputusan.
Tujuan yang sama juga terdapat dalam Conceptual
Framework dari FASB, PSAK, dan lainnya.
Dari
beberapa tujuan laporan keuangan tersebut, nampak jelas bahwa akuntansi
konvensional sangat dipengaruhi oleh konsep kapitalis, karena perhatian
utamanya adalah hanya sebatas memberikan informasi yang tertumpu pad
kepentingan stockholders dan entity-nya dan belum sampai pada taraf akuntabilitas,
kalaulah ada, maka hanya sebatas hubungan yang bersifat horizontal.
3).
Penyusunan Kerangka Konseptual untuk Akuntansi Keuangan FASB
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan
oleh FASB sebagai :“a coherent system of interrelated objectives and
fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that
prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and
reporting”. Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu
sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling
berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan
penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan dan laporan
keuangan. Banyak pihak menganggap kontribusi riil FASB bergantung pada kualitas
dan utilitas dari kerangka kerja konseptual.
Yang dimaksud tujuan adalah tujuan
pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidah-kaidah pokok)
adalah konsep-konsep yang mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang menuntun
kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus
dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara meringkas serta
mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Konsep-konsep yang bersifat pokok
atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya mengalir dari
konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulang-ulang
dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan
pelaporan.
Kebutuhan akan
Kerangka Kerja Konseptual
1. Kerangka
kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan
keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar
laporan keuangan perusahaan.
2. Masalah-masalah
yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori
yang telah ada.
Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual
FASB pada tahun 1976 mulai mengembangkan kerangka kerja
konseptual yang akan menjadi dasar bagi penetapan standar akuntansi dan
pemecahan kontroversi pelaporan keuangan. Sejak dokumen tersebut
dipublikasikan, FASB telah menrrbitkan enam Statements of Financial Accounting
Concepts yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu :
- SFAC no. 1 “objective of financial reporting by business enterprises”, yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
- SFAC no. 2 “qualitative caracteristics of accounting information”, yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
- SFAC no. 3 “element of financial statement of business enterprises”, yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
- SFAC no. 4 “recognition and measurement in financial statement of business enterprises”, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
- SFAC no. 5 “element of financial statement”, yang menggantikan SFAC no. 3 dan memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.
- SFAC no. 6 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran.
TINGKAT
PERTAMA: TUJUAN DASAR
ü Tujuan
pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan
informasi:
1) yang
berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi
serta kredit;
2) untuk
membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial,
serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas
masa depan;
3) tentang
sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di
dalamnya.
ü
Tujuan(objectives) dimulai dengan
lebih banyak berfokus pada informasi yang berguna bagi para investor dan
kreditor dalam membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan
investor dan kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam,
atau dari pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya,
tujuan berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna
untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas
yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai
kegunaan keputusan (decision usefulness).
ü
Dalam menyediakan informasi kepada
pemakai laporan keuangan, profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan
bertujuan-umum, yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan biaya
minimal kepada berbagai kelompok pemakai.
TINGKAT
KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL
ü Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
Agar berguna dalam pengambilan
keputusan (decision usefulness), informasi akuntansi harus memiliki dua
kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat
beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas tersebut.
Kualitas Primer
Ada beberapa hal yang harus melekat
pada informasi akuntansi :
1) Relevansi.
Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah
keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan
erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut
dikatakan tidak relevan. Informasi yang relevan harus memiliki nilai
umpan balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan
mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive
value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di
masa yang akan datang.
Selain itu kualitas relevan juga
harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness). Informasi harus
disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan
keputusan.
2). Keandalan.
Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi, netral, disajikan
secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan
sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau
keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.
- Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
- Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
- Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias.
3). Keberdayaujian
(verifiability). Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat
diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan
konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji
berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi
keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan
konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu,
dan taksiran umur ekonomis.
4). Kenetralan
(neutrality). Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan
berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha
untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.
5). Kejujuran
penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur
berarti adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.
Kualitas Sekunder
Kualitas sekunder yang harus
dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan (comparability)
dan konsistensi (consistency).
1). Keberdayabandingan.
Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu
perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan
horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda
(perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.
2). Konsistensi.
Sebuah entitas dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi
apabila mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama
untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.
Kendala-kendala.
Terdapat dua kendala yang
mempengaruhi tercapainya kualitas informasi seperti yang telah dijelaskan,
yaitu pertimbangan manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya
yang kurang dominan tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah
praktek industri dan konservatisme.
1). Pertimbangan
manfaat-biaya (cost-effectiveness). Untuk menghasilkan informasi
yang relevan,andal, berdaya banding, dan konsisten dibutuhkan biaya yang mahal.
Oleh karena biaya dan terutama manfaat tidak mudah diukur, maka
mempertimbangkan hubungan manfaat-biaya menjadi masalah.
2). Materialitas
(materiality) berhubungan dengan dampak suatu item terhadap
operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Suatu item akan dianggap
material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau
mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan. Baik faktor-faktor
kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan
suatu item material atau tidak.
3). Praktik
industri.(industry practices) Sifat unik dari sejumlah
industri dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.
4). Konservatisme
(conservatism) berarti jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil
kemungkinannya dalam menghasilkan penetapan laba dan aktiva yang terlalu
tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika diaplikasikan secara tepat adalah
menyediakan pedoman yang paling rasional dalam situasi sulit : jangan
menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi.
TINGKAT
KETIGA : DEFINISI
§ AKTIVA
aktiva
adalah sumber daya ekonomi dari sebuah perusahaan; mereka mencerminkan
keuntungan di masa depan yang diharapkan menimbulkan arus kas masuk
bersih secara langsung maupun tidak langsung.
Sumber daya ekonomi sendiri antara lain :
- Sumber daya produktif perusahaan
- Hak-hak kontraktual untuk sumber daya produktif
- Produk
- Uang
- Klaim untuk menerima uang
- Kepemilikan saham di perusahaan lain
- Pandangan Pendapatan/Beban
Karakteristik Umum Aktiva :
1). Menggambarkan potensi arus kas yang akan diterima
2). Keuntungan potensial yang diperoleh perusahaan
3). Konsep
legal dari harta kekayaan (properti) dapat mempengaruhi definisi akuntansi atas
aktiva.
4). Dapat
diperoleh di masa lalu atau dari transaksi atau peristiwa saat ini.
5). Dapat dipertukarkan.
Dari uraian di atas, definisi yang
diperlukan hendaknya mampu memenuhi generalisasi penerapan yang diminta
kerangka konseptual dan memperhitungkan karakteristik berikut ini
- Aktiva hanya mencerminkan sumber daya ekonomi dan tidak termasuk “beban yang ditangguhkan”
- Aktiva mencerminkan potensi arus kas bagi perusahaan
- Aktiva mencerminkan hak legal yang mengikat kepada keuntungan tertentu, hasil-hasil dari masa lalu atau transaksi saat ini dan meliputi seluruh komitmen, seperti dalam kontrak pelaksanaan
- Dapat dipertukarkan bukan merupakan karakteristik yang penting dari aktiva kecuali untuk “beban yang ditangguhkan” agar tetap memasukkan semua yang tidak berwujud sebagai aktiva dan tidak memasukkan beban yang ditangguhkan
§ KEWAJIBAN
ü Pandangan
Aktiva/Kewajiban
Kewajiban adalah keharusan
perusahaan untuk mentransfer sumber daya ekonomi kepada entitas lain di masa
depan.
ü Pandangan
Pendapatan/Beban
Kewajiban juga kredit-kredit yang
ditangguhkan dan cadangan tertentu yang tidak mencerminkan kewajiban untuk
mentransfer sumber daya ekonomi namun dibutuhkan untuk prinsip penandingan yang
benar dan penentuan laba.
ü Pandangan
yang timbul dari persepsi neraca
Kewajiban terdiri atas sumber modal
dan meliputi kredit yang ditangguhkan serta cadangan tertentu yang tidak
mencerminkan kewajiban untuk mentransfer sumber daya ekonomi.
Karakteristik Umum Kewajiban :
- Pengorbanan sumber daya ekonomi di masa depan
- Mencerminkan tanggung jawab bagi satu perusahaan tertentu
- Kewajiban dapat dibatasi hanya berupa utang-utang sah (legal)
- Kewajiban terjadi dari transaksi atau peristiwa masa lalu atau yang terjadi saat ini
§ PENDAPATAN DAN BEBAN
- Menurut pandangan aktiva/kewajiban, pendapatan didefinisikan sebagai peningkatan aktiva dan penurunan kewajiban yang tidak mempengaruhi modal. Begitu pula beban, yang mencakup keuntungan dan kerugian, didefinisikan sebagai penurunan aktiva atau peningkatan kewajiban yang timbul dari penggunaan sumber daya ekonomi dan jasa selama satu periode tertentu.
- Menurut pandangan pendapatan/beban, pendapatan, mencakup keuuntungan dan kerugian yang timbul dari penjualan barang dan jasa dan pertukaran aktiva selain dari persediaan, bunga, dan dividen yang diperoleh dari investasi dan peningkatan-peningkatan lain dari ekuitas pemilik selama satu periode diluar kontribusi dan penyesuaian modal. Beban merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan pendapatan periode tertentu.
TINGKAT KEEMPAT
: PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Tingkat keempat kerangka konseptual
terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar
dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana
unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh
sistem akuntansi.
Asumsi-Asumsi Dasar.
Asumsi-asumsi menyediakan satu
landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah
anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat
dipraktikkan.
a. asumsi
entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi memandang bahwa
perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak
yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).
b.
Kesinambungan (going concern). Sebagian besar metode akuntansi di
dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki
umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami
kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang.
c.
Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi
menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas
perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.
d. Asumsi
periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat untuk
mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya pada saat
perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak bisa
menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas
(periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi
sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode
waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan
dan tahunan
Prinsip-Prinsip Dasar Akuntansi
a. Biaya
historis (historical cost). GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan
kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga
akuisisi. Kos(cost) memiliki keunggulan yang penting dibandingkan
penilaian yang lainnya yaitu dapat diandalkan.
b. Pengakuan
pendapatan. Pendapatan umumnya diakui jika (1) telah direalisasi atau dapat
direalisasikan dan (2) telah dihasilkan.
c. Prinsip
Penandingan (matching principle). Beban untuk suatu periode
ditentukan dengan mengaitkannya dengan pendapatan tertentu atau dengan periode
tertentu.. Beban diakui :
Þ jika
terdapat hubungan langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau
penyerahan jasa,
Þ pada
periode terjadinya, yakni pada saat kas dikeluarkan jika tidak terdapat hub.
Langsung atau sebab akibat dengan penjualan produk atau jasa,
Þ dengan
alokasi yang sistematis dan rasional, jika butir 1 dan 2 tidak terpenuhi.
Contoh: depresiasi.
d. Prinsip
Pengungkapan Penuh (full disclosure principle) Mengakui sifat dan
jumlah informasi yang dimasukkan dalam laporan keuangan mencerminkan trade off
penilaian, seperti :
Þ Hal-hal
yang harus diungkapkan karena mempengaruhi keputusan pemakai
Þ
Kebutuhan untuk menyajikan secara penuh agar informasi dapat dipahami.
Catatan atas laporan keuangan
umumnya ditujukan untuk memperkuat atau memperjelas pos-pos yang disajikan
dalam bagian utama laporan keuangan.
TINGKAT
KELIMA : Elemen-Elemen Laporan Keuangan.
SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen
utama laporan keuangan. Cakupannya bukan hanya perusahaan yang berorientasi
laba, tetapi juga organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan keuangan bagi
organisasi yang berorientasi laba meliputi 10 macam, yaitu : aktiva,
kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba
komprehensif, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi
organisasi nirlaba ada 7 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan,
beban, keuntungan, dan kerugian.
4). Konsep Dasar Laporan Keuangan
Didirikannya Financial Accounting
Standard Board (FASB) yang menggantikan Accounting Principles Board (APB)
sebagai lembaga penyusun standar akuntansi di Amerika Serikat pada awal tahun
1970-an dianggap sebagai revolusi yang terjadi dalam pemikiran akuntansi. Salah
satu perubahan yang tercermin dalam proyek kerangka konseptual FASB adalah
ditekankannya tujuan sosial yang luas dari pelaporan keuangan.
FASB melalui Statement of Financial Accounting
Concepts No. 1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises dalam
kaitan dengan tujuan sosial yang luas ini menyatakan: bahwa tujuan pelaporan keuangan diupayakan
mempunyai cakupan yang luas agar memenuhi berbagai kebutuhan para pemakai dan
melayani kepentingan umum dari berbagai pemakai yang potensial, bukan hanya
untuk kebutuhan khusus kelompok tertentu saja. Pelaporan keuangan juga harus
mendorong efektivitas pasar modal dan pasar uang dalam mengalokasikan sumber
daya yang langka di antara berbagai penggunaan yang kompetitif sehingga
tercipta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.
Dalam kaitan ini pula, FASB
menyatakan “ bahwa meskipun
pelaporan keuangan memiliki tujuan sosial yang luas, akan tetapi orientasinya
terletak pada investor dan kreditor, karena dengan memenuhi kebutuhan mereka
maka hampir semua kebutuhan dari para pemakai eksternal lainnya akan terpenuhi.
Setelah menetapkan tujuan sosial yang luas yang merupakan tujuan menyeluruh
dari pelaporan keuangan, FASB juga menggariskan beberapa tujuan khusus yang
salah satu di antaranya menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan
informasi yang bermanfaat untuk menaksir arus kas di masa yang akan datang.
Hal ini akan membantu kepada
investor, kreditor, dan pemakai lainnya, baik yang sekarang maupun yang
potensial, dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas dari
dividen dan bunga di masa yang akan datang (Zainuddin dan Hartono, 1999).
Tujuan ini mengasumsikan bahwa investor menginginkan informasi tentang hasil
dan resiko dari investasi yang dilakukan.
FASB melalui Statement of
Financial Accounting Concepts No. 2: Qualitative Characteristics of Accounting
Information menyatakan bahwa kualitas yang membedakan antara informasi yang
“lebih baik” (lebih bermanfaat) dengan informasi yang “kurang baik” (kurang
bermanfaat) terutama terletak pada kualitas relevansi dan keandalannya ditambah
dengan beberapa karakteristik lainnya yang berlaku untuk kualitas tersebut.
FASB mendefinisikan informasi yang relevan sebagai informasi yang akan
mengakibatkan timbulnya perbedaan. Informasi yang relevan dapat memperteguh,
atau sebaliknya, memperlemah pengharapan yang ada. Jadi, relevansi selalu
dikaitkan dengan nilai umpan balik dan nilai prediktif.
Adanya nilai prediktif ini
menunjukkan bahwa informasi akuntansi seperti yang tercantum dalam pelaporan
keuangan dapat digunakan oleh investor sekarang dan investor potensial dalam
melakukan prediksi penerimaan kas dari dividen dan bunga di masa yang akan
datang. Dividen yang akan diterima oleh investor akan tergantung pada jumlah
laba yang diperoleh perusahaan di masa yang akan datang (Zainuddin &
Hartono, 1999), sehingga prediksi laba perusahaan dengan menggunakan informasi
pelaporan keuangan menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Agar berguna dalam proses
pengambilan keputusan, laporan keuangan perlu dianalisa dan dinterprestasikan.
Analisa laproan keuangan (financial statement analysis) pada hakikatnya
menghubungakan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan atau
menjelaskan arah perubahan (trend). Angka-angka dalam laporan keuangan akan
menjadi sedikit artinya, kalau dilihat per akun. Akun-akun dalam laporan
keuangan akan lebih berarti apabila dihubungkan dengan akun lain atau dilihat
arah perubahan (trend).
Adapun hal-hal yang berhubungan dengan laporan
keuangan adalah sbb:
1. Definisi Dan Kegunaan Laporan
Keuangan
Laporan
keuangan merupakan suatu daftar financial suatu entitas ekonomi yang disusun
secara sistematis oleh akuntan pada akhir periode; atau catatan yang memberikan
informasi keuangan suatu perusahan yang telah menjalankan perusahaan selama
satu priode (biasanya satu tahun).
Laporan keuangan mempunyai beberapa
kegunaan, yaitu:
a. Sebagai
pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan.
b. Alat komunikasi antara aktivitas perusahan dengan
pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahan, seperti para kreditur/calon
kreditur, investor/calon investor, bankers, pemerintah dan lain-lain.
c. Sebagai alat perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan yang efektif bagi manajemen, misalnya:
· Mengukur
tingkat biaya dari kegiatan perusahaan.
· Untuk mengukur efisiensi poses produksi dan tingkat
keuntungan yang dicapai.
· Untuk menentukan perlu tindaknya kebijakan atau
prosedur baru untuk mencapai hasil
yang lebih baik.
2. Sifat dan
Keterbatasan Laporan Keuangan
a. Pelaporan bersifat Tentative
Artinya
bahwa laporan keuangan bersifat sementara. Hal ini disebabkan karena umur
perusahaan tidak terbatas sehingga perlu dibuat laporan secara periodik untuk
mengukur perkembangan perusahaan tersebut.
b. Kebenaran bersifat relative
Artinya
bahwa laporan keuangan tidak menunjukan kebenaran yang mutlak tentang nilai
harta, utang atau modal. Hal ini disebabkan karena:
ü Data
Historis
Laporan
keuangan didasarkan dari fakta catatan akuntansi yang bersifat historis
sehingga harta, utang dan modal dinyatakan dalam harga pada saat terjadinya
peristiwa tanpa memperhitungkan terjadinya perubahan nilai mata uang.
ü Prinsip-prinsip
dan Kebiasaan Dalam Akuntansi
Laporan
keuangan disusun berdasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu
yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim (generally accepted
accounting principles).
ü Tujuan
penggunaan prinsip tersebut adalah:
- Untuk
memudahkan dalam pencatatan
- Untuk keseragaman laporan keuangan
ü
Pendapat Pribadi (personal judgment)
Laporan
keuangan tidak terlepas dari pendapat pribadi yang penggunaanya tergantung dari
akuntan dan manajemen perusahaan.
ü Keterbatasan
laporan keuangan diantaranya adalah:
1. Bersifat histories, sehingga
mungkin sudah tidak relevan lagi dengan keadan sekarang.
2. Bersifat umum dan bukan untuk tiap-tiap pemakai
2. Bersifat umum dan bukan untuk tiap-tiap pemakai
3. Didasarkan atas perkiraan
kebutuhan pemakai.
4.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan uang dan perubahan nilai uang tidak
tercermin dalam laporan keuangan.
5. Memakai
konsep konservatisme dalam menghadapi ketidakpastian sehingga tidak terlepas
dari pemakaian pertimbangan dan taksiran-taksiran.
3.
Prinsip-prinsip Laporan Keuangan
Terdapat beberapa prinsip yang mendasari setiap sifat
dan ciri dari laporan keuangan, yaitu:
* Entitas
* Materialitas
* Kontinuitas usaha
* Harga pertukaran
* Pengukuran
* Accrual basis
* Periode laporan
* Penaksiran
* Unit moneter
* Pertimbangan
* Tujuan umum
* Laporaan terkait
4.
Bentuk-bentuk Laporan Keuangan
A. LAPORAN RUGI
– LABA
Merupakan
laporan sistematis tentang penghasilan, biaya dan rugi- laba yang diperoleh perusahaan
selama periode tertentu (biasanya satu tahun).
Bentuk laporan rugi – laba terdir
dari;
a. Bentuk Singgle SteP
Yaitu
penyusunan laporan rugi – laba yang dilakukan dengan membandingkan total
pendapatan dengan total biaya.
b. Bentuk Multiple Step
Yaitu penyusutan laporan rugi – laba yang dilakukan secara bertahap.
B. LAPORAN
PERUBAHAN MODAL
Merupakan
laporan yang menyajikan tentang perubahan modal yang terjadi selamsatu periode.
Pada perusahaan perseroan (PT) disebut laporan laba ditahan.
C.
NERACA
Merupakan laporan sistematis tentang aktiva, hutang
dan modal suatu perusahaan pada waktu tertentu.
Bentuk neraca terdiri dari:
a. Bentuk Scontro (Account Form)
Yaitu neraca yang disusun secara
sebelah – menyebelah, dimana sebelah kiri/ debet untuk aktiva sedangkan sebelah
kanan/kredit untuk hutng dan modal
.
b. Bentuk Stafel (Report Form)
b. Bentuk Stafel (Report Form)
Yaitu neraca yang disusun dari atas
ke bawah, yaitu dengan urutan aktiva, hutang kemudian modal.
D.
LAPORAN ARUS KAS
Yaitu laporan sistematis tentang
aliran kas masuk dan kas keluar (termasuk sumber-sumber dan penggunaannya) yang
terjadi pada suatu periode tertentu.






0 comments:
Post a Comment