Saturday, 14 May 2016

MANAJEMEN KEUANGAN (FAKTOR-FAKTOR PENENTU BESARNYA KAS)



MANAJEMEN KEUANGAN (FAKTOR-FAKTOR PENENTU BESARNYA  KAS)
Abstraksi

Kas memiliki karakteristik yang tidak dimiliki aktiva lancar lainnya, yaitu kas tidak mudah diidentifikasi pemiliknya, dapat diuangkan segera, mudah dibawa-bawa serta mudah untuk ditransfer dalam kurun waktu yang relatif cepat. Mengingat karakteristiknya, kas merupakan aktiva yang paling mudah disalahgunakan. Oleh karenanya bagian penerimaan dan pengeluaran kas di dalam suatu perusahaan harus dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan penyelewengan terhadap kas.
Manajemen mempunyai tanggung jawab paling utama dalam menjaga keamanan harta milik perusahaan serta menemukan dan mencegah terjadinya kesalahan dan penyelewengan ataupun pemborosan pada saat perusahaan beroperasi adalah manajemen. Manajemen terhadap kas juga bertanggungjawab terhadap pembuatan perencanaan, melakukan prosedur atau otorisasi serta menetapkan dan mengawasi suatu kegiatan melalui pengendalian internal.

Keywords: Cash flow, Current Ratio, Cash budged, Opportunity cost.

Pendahuluan

Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu membutuhkan uang tunai atau kas. Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan yang dalam perusahaan beserta pos-pos lain yang dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sebagai alat pembayaran kebutuhan finansial, yang mempunyai sifat paling tinggi likuiditasnya. Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi perusahaan sehari-hari seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah, pembayaran hutang, atau pembayaran-pembayaran tunai lainnya, serta dibutuhkan untuk investasi pada aktiva tetap.
Pengeluaran kas ada yang bersifat kontinyu seperti untuk pengelaran-pengeluaran rutin dan ada pula yang bersifat intermitten, seperti untuk pembayaran deviden, pembayaran pajak, pembelian aktiva tetap. Pengeluaran kas untuk pembayaran-pembayaran tersebut sering disebut sebagai aliran kas keluar atau cash outflow, sedangkan penerimaan-penerimaan kas disebut sebagai penerimaan kas masuk atau cash inflow. Aliran kas masuk bisa diperoleh dari beberapa sumber antara lain dari hasil penjualan tunai, penerimaan piutang, dan penerimaan-penerimaan lainnya.
Kas bagi perusahaan bisa diumpamakan seperti darah dalam tubuh manusia. Setiap bagian yang ada dalam perusahaan membutuhkan aliran kas. Tanpa adanya kas maka kegiatan produksi akan terganggu. Akibatnya akan mengganggu bagian lain yang terkait, oleh karena itu kas bisa diibaratkan seperti darah dalam tubuh manusia, sehingga bila ada bagian yang tidak dialiri oleh darah, maka bagian tersebut akan mengalami gangguan kesehatan.
Sebagaimana diungkapkan oleh teori ekonomi dari John Maynard Keynes dengan teori liquidity preference, masyarakat cenderung untuk menguasai uang berbentuk tunai dengan tiga motif di belakang  pemikirannya yaitu motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi. Motif transaksi atau transaction motive berarti seoarang atau perusahaan memegang uang tunai untuk keperluan realisasi dari berbagai transaksi bisnisnya, baik transaksi yang rutin maupun transaksi yang tidak rutin.
Motif berjaga-jaga atau precautionary motive berarti seseorang atau perusahaan memegang uang tunai yang dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat mendadak. Pada perusahaan motif berjaga-jaga ini bisa dilihat dari saldo kas minimum yang ditetapkan. Besarnya saldo kas minimum yang ditentukan sebagai indikator penyimpangan aliran kas yang dianggarkan. Penerimaan dan pengeluaran di perusahaan biasanya diprediksikan melalui anggaran kas atau cash budged. Apabila antara penerimaan dan pengeluaran bisa diprediksi dengan cepat, maka kebutuhan kas minimum kecil, tetapi penerimaan dan pengeluaran kas tidak bisa diprediksi dengan akurat, maka membutuhkan saldo kas minimum yang besar karena kemungkinan kebutuhan kas mendadak sangat besar.
Motif spekulasi atau speculative motive adalah motivasi seorang atau perusahaan memegang uang dalam bentuk tunai karena adanyakeinginan memperoleh keuntungan yang besar dari suatu kesempatan investasi, biasanya investasi yang bersifat likuid. Misalnya pada saat kondisi ekonomi yang kurang bak di mana harga surat berharga seperti saham mengalami penurunan yang drastis, maka perusahaan bisa menggunakan uangnya untuk  membeli sekuritas tersebutdengan harapan pada saat kondisi ekonomi membaik sekuritas tersebut harganyajuga akan ikut naik.

Aliran Kas (Cash flow)
Cash flow (aliran kas) merupakan “sejumlah uang kas yang keluar dan yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dengan kata lain adalah aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan serta berapa saldonya setiap periode. Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana atau uang yang kita miliki, kita simpan atau investasikan. Proses aliran kas yang terjadi di perusahaan adalah terus-menerus sepanjang hidup perusahaan yang bersangktan terdiri dari aliran kas masuk (cash inflow) dan aliran kas keluar (cash outflow).
Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya kas yaitu :
1. Perimbangan antara cash inflow dan cash outflow
2. Penyimpangan terhadap aliran kas yang diperkirakan
3. Adanya hubungan financial yang baik dengan bank-bank
4. Penganggaran kas.

Aliran kas masuk terdiri dari:
a.       Hasil penjualan produk atau jasa perusahaansecara tunai.
b.      Penagihan piutang dari penjualan kredit.
c.       Penjualan aktiva tetap yang tetap ada.
d.      Penanaman investasi dari pemilik atau pemilik saham bila perseroan terbatas.
e.       Pinjaman atau utang dari pihak lain.
f.       Penerimaan sewa dan pendapatan lain-lain.
Dari sejumlah aliran kas masuk tersebut mempunyai sifat terus-menerus sepanjang waktu dan aliran kad pada saat-saat tertentu saja (isidental).
Faktor yang mempengaruhi penerimaan kas:
a.       Budged penjualan.
b.      Keadaan dan posisis pesaing.
c.       Syarat pembayaran tunai maupun kredit.
d.      Kebijaksanaan dalam penagihan piutang.
e.       Budged perubahan aktiva tetap.
f.       Rencana penerimaan non-operating.
g.      Kebijaksanaan penjualan surat-surat berharga.
Sedangkan aliran kas keluar terdiri dari:
a.       Pengeluuaran biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya pabrik-pabrik lain (overhead).
b.      Pengeluaran biaya administrasi umum dan administrasi penjualan.
c.       Untk pembelian aktiva tetap.
d.      Pembayaran kembali hutang-hutang perusahaan.
e.       Pembayaran kembali investasi dari pemilik perusahaan.
f.       Pembayaran sewa, pajak, bunga dan pengeluaran lain-lain.
Sifat dari aliran kas keluar ini juga terus-menerus dan ada pula yang hanya saat-saat tertentu atau isidentil.
Faktor-faktor yang mempengaruhi alirankas:
a.       Budget biaya bahan baku.
b.      Budget biaya tenaga kerja langsung.
c.       Budget biaya pabrik lain-lain (overhead)
d.      Budget biaya administrasi umum dan administrasi penjualan.
e.       Budget penambahan aktiva tetap.
f.       Budget pengeluaran nonoperating.
Tujuan dari laporan aliran kas adalah melaporkan aliran kas masuk dan aliran kas keluar perusahaan selama periode tertentu, dipisahkan dalam tiga kategori yaitu operasi, investasi dan pembelanjaan. Apabila digunakan dengan informasi berisi dua laporan finansial dasar lainnya dan hubungan pengungkapan, akan membantu pemakai untuk menaksir dan mengidentifikasikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas masuk bersih untuk membayar utang, kebutuhan pembelanjaan, alasan tentang perbedaan antara laba bersih dan aliran kas bersih dari operasi perusahaan, pengaruh transaksi kas dan non-kas untuk investasi dan pembelanjaan.

Anggaran Kas
            Perusahaan harus bisa menyediakan kas yang cukup agar perusahaan bisa berproduksi dengan baik. Agar supaya kas bisadisediakan dengan baik tepat pada saat yang dibutuhkan, maka perlu perencanaan kas yang berisi proyeksi penerimaan dan pengeluaran kas. Proyeksi posisi kas yang berupa penerimaan dan pengeluaran kas pada saat tertentu dimasa yang akan datang disebut sebagai anggaran kas atau cash budget. Anggaran kas ini sangat penting bagi perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaan, karena dengan menyusun anggaran kas dapat diprediksi kapan perusahaan mengalami defisit dan kapan perusahaan mengalami surplus kas. Pada periode yang mengalami defisit kas bisa segera disiapkan sumber dananya jauh-jauh hari, dan apabila mengalamia surplus kas bisa direncanakan untuk diinvestasikan pada instrumen investasi sesuai dengan likuiditasnya.
            Anggaran kas biasanya disusun untuk periode bulanan dan pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam dua bagian yaitu:
1.      Estimasi penerimaan-penerimaan kas, yaitu proyeksi penerimaan pada periode tertentu baik yang berasal dari penerimaan dari penjualan tunai, penerimaan piutang, penerimaan bunga, hasil penjualan aktiva tetap maupun penerimaan-penerimaan lainnya.
2.      Estimasi pengeluaran kas, yakni berupa proyeksi pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan perusahaan, seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaj, pengeluaran tunai untuk biaya pemasaran, biaya administrasi, pembayaran bonus, pembayaran hutang, pembayaran pajak dan pembayaran lainnya yag bersifat tunai.
Setelah mengadakan estimasi pada masing-masing periode, langkah selanjutnya membandingkan hasil estimasi penerimaan dengan estimasi pengeluaran kas. Apabila hasil pembandingan tersebut penerimaan kas lebih besar dibandingkan pengeluaran kas, artinya periode tersebut mengalami surplus, sedangkan bila penerimaan kasnya lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran kas, maka pada periode tersebut mengalami defisit. Setelah diketahui surplus dan defisit untuk masing-masing periode, maka kemudian dicari beberapa kebutuhan dana untuk menutup kondisi defisit tersebut dengan mempertimbangkan saldo kas minimum dan tingkat bunga sumber dana yang akan digunakan.

Perencanaan Kas
            Yang dimaksud sebagai perencanaan kas atau budget kas yaitu perkiraan terhadap posisi kas pada suatu saat tertentu dalam suatu periode tertentu yang akan datang.
Tujuan perencanaan kas:
a.       Untuk mengetahui kemungkinan posisi kas sebagai hasil rencana operasi perusahaannya.
b.      Untuk mengetaui kemungkinan adanya saldo kas atau kekurangan kas dari rencana operasi dan nonoperasional.
c.       Untuk mengetahui besarnya kebutuhan dana beserta saat-saat kapan dana itu dibutuhkan untuk menutup defisit kas.
d.      Untuk mengetahui saat-saat dana itu diinvestasikan pada kegiatan lain bila ternyata terjadi saldo kas yang relativ tinggi.
e.       Sebagai penentuan saat-saat kredit harus dibayar kembali.
f.       Sebagai dasar permintaan kredit kepada lembaga-lembaga keuangan.
g.      Sebagai dasar dalam pengendalian atau pengawasan posisi kas yang sedang berjalan.
Saldo kas yang juga merupakan persediaan kas apabila jumlahnya terlalu besar berakibat banyak uang yang menganggur sehingga akan timbl risiko-risiko dan memperkecil keuntungan pada perusahaan, tetapi sebaliknya bila terlalu kecil maka kondisi perusahaan dalam keadaan likuid bila sewaktu-wakru terjadipenagihan dari utang-utangnya tidak dapat membayar. Jumlah persediaan kas yang sebelumnya harus dipertahankan, rasio standar yang bersifat umum belum ada rumusnya tetapi HG. Guthman menuliskan bahwa jumlah kas yang sebaiknya dipertahankan perusahaan yang dalam posisi keuangan yang baik hedaknya tidak kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.

Pengendalian Kas
            Menahan uang sebenarnya menanggung suatu biaya (cost). Dengan konsep opportunity cost maka biaya menahan uang tunai adalah berupa laba yang sebenarnya dapat diperoleh apabila dana tersebut digunakan untuk penggunaan invesatsi. Biaya tersebut mungkin dapat sebagian ditutup dari hasil penanaman dalam bentuk surat-surat berharga atau bunga simpanan rekening Koran di bank, akan tetapi jumlah tersebut adalah sangat kecil, kecuali apabila ada alasan-alasan khusus, maka menahan uang tunai yang berlebihan menunjukkan tidak adanya menajemen keuangan yang baik. Sebaliknya begitu pula bila terjadi kekurangan saldo uang kas yang mencolok. Pengendalian uang tunai dan setengah tunai didasarkan pada ramalan jangka pendek atas kebutuhan uang tunai.

Model Manajemen Kas
            Teori pengelolahan saldo kas, disajikan tiga model yang dikembangkan oleh William J. boumol, Merto H. miller dan Daniel Orr, serta William baranek. Dalam model-model tersebut akan ditentukan besarnya saldo kas yang optimum dan selalu mengkaitkan antara kas dan surat berharga, yakni dengan mengadakan trade-off antara tingkat bunga yang hilang karena menyimpan uang dengan biaya transaksi. Apabila perusahaan mempunyai kas terlalu banyak harus segera dibelikan surat berharga dan tentu harus mengeluarkan biaya untuk transaksi, sedangkan bila saldo kas mendekati nol harus segera menjual surat berharganya menjadi kas, sehingga akn kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bunga (opportunity cost.
Tentang manajemen saldo kas yang disusun oleh W. J Boumol sesuai dengan model EOQ khusus untuk permasalahan manajemen kas. Boumol mengakui ada kesamaan antara persediaan dan kas bila dilihat dari aspek keuangan. Dalam manajemen persediaan ada biaya pesan yang dibayarkan setiap melakukan pemesanan dan biaya simpan untuk menyimpan bahan yang dibeli. Dalam manajemen kas biaya pesan berupa biaya komisi pedagang efek yang dikeluarkan untuk merubah sekuritas menjadi uang kas. Biaya simpan berupa hasil bunga yang hilang karena perusahaan menyimpan uang tunai yang besar, oleh karena itu perlu ditentukan beberapa surat berharga yang harus dijadikan uang tunai pada setiap saldo kas mendekati nol. Karena Boumol menganggap manajemen kas seperti manajemen persediaan, maka untuk mencari berapa jumlah kas yang optimal pada setiap mengubah sekuritas menjadi kas adalah:
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             C = Ö 2 OD                                                                                                                        i
Di mana:
O = Biaya transaksi
D = Kebutuhan kas setahun
I = bunga sekuritas
            Miller dan Orr mengembangkan model Boumol pada tahun 1966 dengan memasukkan proses stochastik atas perubahan-perubahan saldo kas yang terjadi secara periodic.arus kas berfluktuatif dan perubahan saldo kas selama periode tertentu tidak menentu besar atau arahnya, perubahan tersebut mempunyai distribusi normal bila perubahannya terlalu banyak. Dalam model ini mengandung ketentuan bahwa perubahan yang terjadi pada suatu waktu tertentu memempunyai profitabilitas yang lebih besar untuk bersifat positif maupun negatif.
Model ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas bawah saldo kas, serta menentukan saldo kas yang optimal yang perlu dimiliki oleh perusahaan.Apabila saldo kas mengalami penurunan hingga mencapai nol, maka perusahaan harus segera mengubah sekuritasnnya menjadi kas senilai saldo kas optimal. Demikian pula bila saldo kas yang dimiliki oleh perusahaan semakin membesar, maka pada batas atas kas harus diubah menjadi sekuritas. Untuk menentukan besarnya saldo kas optimal, maka dapat diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
                                                                                                                                                                                          Z =    3 b α21    
 4i         3
Di mana:
b   = Biaya tetap untuk melakukan transaksi
α2 = Variasi arus kas masuk bersih harian (penyebaran arus kas)
i    = Bunga harian untuk investasi pada sekuritas
            Baranek (1963) dalam bukunya yang berjudul Analysis For Financial Decesions, membahas mengenai penetapan alokasi yang optimal dari dana yang ada, dari yang berupa kas dan yang berupa surat berharga. Dalam model Baranek variabel keputusan adalah alokasi dana untuk kas dan investasi surat berharga pada awal periode, sedangkan penarikan dari surat berharga menjadi kas dianggap hanya terjadi pada awal periode. Dalam hal pengeluaran kas dianggap terjadi sekali-kali dan dapat dikendalikan secara langsung oleh manajemen, sedangkan pemasukan kas dianggap sulit dikendalikan dan terjadi terus-menerus.
            Pengeluaran kas yang diakibatkan adanya kebiasaan atau peraturan tertentu akan terjadi pada interval waktu yang teratur. Pembayaran gaji dan upah dilakukan tiap minggu atau bulanan, pembayaran bahan baku dan mengikuti waktu tertentu dari leveransir dan sebagainya, sehingga dapat direncanakan mengenai kebutuhan kas untuk periode yang akan datang dan diperhitungkan juga kas yang dapat ditanamkan dalam investasi Karena tidak dipergunakan untuk pengeluaran kas.
Tujuan memaksimumkan hasil keuntungan dari investasi yang berupa suratberharga ternyata dibatasi oleh biaya transaksi dan oleh risiko kehabisan uang pada saat dana dibutuhkan untuk menutupi pengeluaran, tetapi akan lebih realistis apabila biaya kehabisan kas dilihat sebagai biaya meminjam pada plafon kredit, karena perusahaan akan memiliki untuk meminjam utang jangka pendek, daripada kehilangan potongan kas atau turunya kepercayan kreditur. Dengan diketahui distribusi probabilitas tertentu untuk arus kas bersih, biaya kehabisan kas dan biaya kesempatan untuk menahan kas, dikembangkan suatu fungsi biaya kemudian mendeferensasikan untuk mencari jumlah saldo kas yang optimal.














Daftar Pustaka

http://www.stiepas.blogspot.com/ . Diunduh pada 14 mei 2009.

http://id-jurnal.blogspot.com/2008/04/analisis-faktor-faktor-yang_4220.html. Diunduh pada 17 
            mei 2009.

Sutrisno. 2001.Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Yogyakarta: EKONESIA.

Sabardi, Agus. 1995. Manajemen Keuangan. Edisi Kedua. Yogyakarta: AMP YKPN.

Sundjaja, Ridwan S. inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan Dua. Edisi Keempat. Jakarta:
            Literata Lintas Media.

Gitosudarmo, Indriyo. Basri. 2000. Manajemen Keungan. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE.

Gitosudarmo, Indriyo. Basri. 1998. Manajemen Keungan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE.











Soal oleh Prof Masngudi, PhD, APU
PT Kelapa Gading ingin menyusun budget kas-nya bagi kuartal ke-2 tahun 2006 dengan bahan informasi sebagai berikut:
Bulan 
Penjualan 
Penjualan Tunai 
Maret 
400.000 
100.000 
April 
500.000 
125.000 
Mei 
700.000 
175.000 
Juni 
600.000 
150.000 
Juli 
500.000 
125.000
Kebijakan penjualan oleh perusahaan atas penjualan kreditnya 20% dibayar pada bulan terjadinya transaksi penjualan, sedangkan sisanya 80% dibayar pada bulan berikutnya. Perusahaan tersebut menetapkan saldo kas minimum Rp 100.000. Selanjutnya dalam pembelian barang dagangan didasarkan atas kebijakan di mana 70% dibayar 1 bulan sebelumnya; di mana 70% tadi pada dasarnya merupakan harga pembelian yang sebenarnya jikalau diperhitungkan dengan harga sebenarnya. Kemudian beban gaji yang harus diperhitungkan setiap bulannya sebesar 9% dari harga penjualannya; dan kewajiban pembayaran sewa per bulan adalah Rp 20.000. Biaya operasi April Rp 50.000; Mei Rp 60.000; dan bulan Juni Rp 20.000. Pajak pada bulan Mei harus dibayar Rp 40.000, serta pembayaran dividen pada bulan Mei sebesar Rp 40.000. Diperkirakan saldo kas awal bulan April sebesar Rp 125.000. Susunlah budget kas PT Kelapa Gading jikalau perusahaan mencari pinjaman harus diperhitungkan dengan tingkat bunga 2% perbulan. Jikalau terjadi transaksi finansial pinjaman, nilainya dibulatkan dalam kelipatan Rp 5.000.
Jawaban
Tahap I – Estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana operasi perusahaan.

Tahap II – Perhitungan pinjaman dan pengembalian
Perhitungan saldo awal bulan Maret
Saldo kas awal bulan April = Saldo kas akhir bulan Maret = Rp 125.000 = SA0
Saldo kas awal bulan Maret = SM0
SA0 = SM0 + Penerimaan bulan Maret – Pengeluaran bulan Maret
125.000    = SM0 + 160.000 – 406.000
125.000    = SM0 – 246.000
SM0    = 125.000 + 246.000
SM0    = 371.000 (Saldo kas awal bulan Maret)

Perhitungan besarnya pinjaman pada bulan April
Defisit bulan April sebesar Rp 165.000, persediaan besi kas Rp 100.000, sedangkan saldo kas awal bulan April sebesar Rp 125.000. Besarnya pinjaman pada bulan April adalah sebesar X dengan perhitungan sebagai berikut:
X        = Defisit + Besi Kas – Saldo Awal + (i.X)
X         = 165.000 + 100.000 – 125.000 + 2%.X
X         = 140.000 + 0.02X
X – 0.02X     = 221.000
0,98X        = 221.000
X        = 221.000/0,98
X        = 142.857,14 dibulatkan ke atas menjadi Rp 145.000
Kalau meminjam sebesar Rp 145.000 maka pada akhir April saldo kas adalah lebih dari saldo minimum (besi kas)
Adapun perhitungannya sebagai berikut:
Saldo kas pada permulaan April        : Rp 125.000
Terima pinjaman dari bank        : Rp 145.000
Jumlah kas tersedia pada bulan April    : Rp 270.000
Untuk menutup defisit             : Rp 165.000
Bunga pinjaman 2% x 145.000        : Rp 2.900
Jumlah                    : Rp 167.900
Saldo kas pada akhir bulan        : Rp 102.100
Perhitungan besarnya pinjaman pada bulan Mei
Defisit bulan Mei sebesar Rp 63.000, persediaan besi kas Rp 100.000, sedangkan saldo kas awal bulan Mei sebesar Rp 102.100. Besarnya pinjaman pada bulan Mei adalah sebesar X dengan bunga total pinjaman sebesar 2%.X ditambah 2% dari pinjaman bunga lalu, perhitungan besarnya pinjaman X adalah sebagai berikut:
X        = Defisit + Besi Kas – Saldo Awal + (i.X) + (i.XT-1)
X         = 63.000 + 100.000 – 102.100 + 2%.X + 2%.145.000
X         = 60.900 + 0.02X + 2.900
X – 0.02X     = 63.800
0,98X        = 63.800
X        = 63.800/0,98
X        = 65.102 dibulatkan ke atas menjadi Rp 70.000
Kalau meminjam sebesar Rp 70.000 maka pada akhir Mei saldo kas adalah lebih dari saldo minimum (besi kas)
Adapun perhitungannya sebagai berikut:
Saldo kas pada permulaan Mei        : Rp 102.100
Terima pinjaman dari bank        : Rp 70.000
Jumlah kas tersedia pada bulan Mei    : Rp 172.100
Untuk menutup defisit             : Rp 63.000
Bunga pinjaman 2% x 145.000        : Rp 2.900
Bunga pinjaman 2% x 70.000        : Rp 1.400
Jumlah                    : Rp 67.300
Saldo kas pada akhir bulan        : Rp 104.800

Perhitungan Pembayaran kredit pada bulan Juni
Total pinjaman bulan sebelumnya (X)    = 145.000 + 70.000
                    = 215.000
Surplus bulan Juni Rp. 216.000, saldo minimum Rp 100.000, sedangkan saldo awal bulan Juni sebesar Rp 104.800, sehingga jumlah pinjaman yang dapat dikembalikan pada bulan Juni adalah sebesar Y.
Saldo akhir bulan Juni = Saldo awal + Surplus – Y – 2%.(X – Y)
100.000     = 104.800 + 216.000 – Y – 2%.(215.000 – Y)
100.000     = 320.800 – Y – 2%.215.000 + 2%.Y
        = 320.800 – 4.300 – 0,98.Y
0,98.Y        = 316.500 – 100.000
Y        = 216.500/0,98
Y        = 220.918.37 lebih besar dari pinjaman
Karena pinjaman dapat dikembalikan semua maka akan dikembalikan sebesar Rp 215.000
Kalau mengembalikan sebesar Rp 215.000 maka pada akhir Juni saldo kas masih lebih dari saldo minimum (besi kas)
Adapun perhitungannya sebagai berikut:
Saldo kas pada permulaan Juni        : Rp 104.800
Surplus                    : Rp 216.000
Jumlah kas tersedia pada bulan Juni    : Rp 320.800
Untuk membayar kredit         : Rp 215.000
Jumlah                    : Rp 215.000
Saldo kas pada akhir bulan        : Rp 105.800

Tahap III – Skedul penerimaan dan pembayaran pinjaman dan bunga
http://yohanli.files.wordpress.com/2009/03/032009-0558-menyusunbud2.png?w=595
 werk
Tahap IV – Penyusunan budget kas final
Sebagai tahap terakhir dalam penyusunan budget kas tersebut adalah penyusunan budget kas final yang merupakan gabungan dari transaksi operasional dan transaksi finansial yang menggambarkan estimasi penerimaan dan pengeluaran kas keseluruhan.
Budget kas untuk kuartal kedua PT Kelapa Gading adalah: