MANAJEMEN
KEUANGAN (FAKTOR-FAKTOR PENENTU BESARNYA KAS)
Abstraksi
Kas memiliki karakteristik yang
tidak dimiliki aktiva lancar lainnya, yaitu kas tidak mudah diidentifikasi
pemiliknya, dapat diuangkan segera, mudah dibawa-bawa serta mudah untuk
ditransfer dalam kurun waktu yang relatif cepat. Mengingat karakteristiknya, kas
merupakan aktiva yang paling mudah disalahgunakan. Oleh karenanya bagian
penerimaan dan pengeluaran kas di dalam suatu perusahaan harus dapat berfungsi
dengan sebaik-baiknya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan
penyelewengan terhadap kas.
Manajemen mempunyai tanggung jawab paling utama dalam menjaga keamanan harta milik perusahaan serta menemukan dan mencegah terjadinya kesalahan dan penyelewengan ataupun pemborosan pada saat perusahaan beroperasi adalah manajemen. Manajemen terhadap kas juga bertanggungjawab terhadap pembuatan perencanaan, melakukan prosedur atau otorisasi serta menetapkan dan mengawasi suatu kegiatan melalui pengendalian internal.
Manajemen mempunyai tanggung jawab paling utama dalam menjaga keamanan harta milik perusahaan serta menemukan dan mencegah terjadinya kesalahan dan penyelewengan ataupun pemborosan pada saat perusahaan beroperasi adalah manajemen. Manajemen terhadap kas juga bertanggungjawab terhadap pembuatan perencanaan, melakukan prosedur atau otorisasi serta menetapkan dan mengawasi suatu kegiatan melalui pengendalian internal.
Keywords: Cash flow, Current Ratio, Cash budged, Opportunity
cost.
Pendahuluan
Setiap perusahaan dalam menjalankan usahanya selalu
membutuhkan uang tunai atau kas. Kas dapat diartikan sebagai nilai uang kontan
yang dalam perusahaan beserta pos-pos lain yang dalam jangka waktu dekat dapat
diuangkan sebagai alat pembayaran kebutuhan finansial, yang mempunyai sifat
paling tinggi likuiditasnya. Kas diperlukan baik untuk membiayai operasi
perusahaan sehari-hari seperti pembelian bahan baku, pembayaran upah,
pembayaran hutang, atau pembayaran-pembayaran tunai lainnya, serta dibutuhkan
untuk investasi pada aktiva tetap.
Pengeluaran kas ada yang bersifat kontinyu seperti untuk
pengelaran-pengeluaran rutin dan ada pula yang bersifat intermitten,
seperti untuk pembayaran deviden, pembayaran pajak, pembelian aktiva tetap.
Pengeluaran kas untuk pembayaran-pembayaran tersebut sering disebut sebagai
aliran kas keluar atau cash outflow, sedangkan penerimaan-penerimaan kas
disebut sebagai penerimaan kas masuk atau cash inflow. Aliran kas masuk
bisa diperoleh dari beberapa sumber antara lain dari hasil penjualan tunai,
penerimaan piutang, dan penerimaan-penerimaan lainnya.
Kas bagi perusahaan bisa diumpamakan seperti darah dalam
tubuh manusia. Setiap bagian yang ada dalam perusahaan membutuhkan aliran kas.
Tanpa adanya kas maka kegiatan produksi akan terganggu. Akibatnya akan
mengganggu bagian lain yang terkait, oleh karena itu kas bisa diibaratkan
seperti darah dalam tubuh manusia, sehingga bila ada bagian yang tidak dialiri
oleh darah, maka bagian tersebut akan mengalami gangguan kesehatan.
Sebagaimana diungkapkan oleh teori ekonomi dari John Maynard
Keynes dengan teori liquidity preference, masyarakat cenderung untuk
menguasai uang berbentuk tunai dengan tiga motif di belakang pemikirannya
yaitu motif transaksi, motif berjaga-jaga dan motif spekulasi. Motif transaksi atau
transaction motive berarti seoarang atau perusahaan memegang uang tunai
untuk keperluan realisasi dari berbagai transaksi bisnisnya, baik transaksi
yang rutin maupun transaksi yang tidak rutin.
Motif berjaga-jaga atau precautionary motive berarti
seseorang atau perusahaan memegang uang tunai yang dimaksudkan untuk
mengantisipasi adanya kebutuhan-kebutuhan yang bersifat mendadak. Pada
perusahaan motif berjaga-jaga ini bisa dilihat dari saldo kas minimum yang
ditetapkan. Besarnya saldo kas minimum yang ditentukan sebagai indikator
penyimpangan aliran kas yang dianggarkan. Penerimaan dan pengeluaran di
perusahaan biasanya diprediksikan melalui anggaran kas atau cash budged.
Apabila antara penerimaan dan pengeluaran bisa diprediksi dengan cepat, maka
kebutuhan kas minimum kecil, tetapi penerimaan dan pengeluaran kas tidak bisa
diprediksi dengan akurat, maka membutuhkan saldo kas minimum yang besar karena
kemungkinan kebutuhan kas mendadak sangat besar.
Motif spekulasi atau speculative motive adalah
motivasi seorang atau perusahaan memegang uang dalam bentuk tunai karena
adanyakeinginan memperoleh keuntungan yang besar dari suatu kesempatan
investasi, biasanya investasi yang bersifat likuid. Misalnya pada saat kondisi
ekonomi yang kurang bak di mana harga surat berharga seperti saham mengalami
penurunan yang drastis, maka perusahaan bisa menggunakan uangnya untuk
membeli sekuritas tersebutdengan harapan pada saat kondisi ekonomi membaik
sekuritas tersebut harganyajuga akan ikut naik.
Aliran Kas (Cash flow)
Cash flow (aliran kas) merupakan “sejumlah uang kas yang
keluar dan yang masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan dengan kata lain
adalah aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran
kas keluar perusahaan serta berapa saldonya setiap periode. Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari
dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana atau uang yang
kita miliki, kita simpan atau investasikan. Proses aliran kas yang terjadi di
perusahaan adalah terus-menerus sepanjang hidup perusahaan yang bersangktan
terdiri dari aliran kas masuk (cash inflow) dan aliran kas keluar (cash
outflow).
Faktor-faktor yang mempengaruhi
besar kecilnya kas yaitu :
1. Perimbangan antara cash inflow
dan cash outflow
2. Penyimpangan terhadap aliran kas
yang diperkirakan
3. Adanya hubungan financial yang
baik dengan bank-bank
4. Penganggaran kas.
Aliran kas masuk terdiri dari:
a.
Hasil penjualan produk atau jasa
perusahaansecara tunai.
b.
Penagihan piutang dari penjualan
kredit.
c.
Penjualan aktiva tetap yang tetap
ada.
d.
Penanaman investasi dari pemilik
atau pemilik saham bila perseroan terbatas.
e.
Pinjaman atau utang dari pihak lain.
f.
Penerimaan sewa dan pendapatan
lain-lain.
Dari sejumlah aliran kas masuk tersebut mempunyai sifat
terus-menerus sepanjang waktu dan aliran kad pada saat-saat tertentu saja (isidental).
Faktor
yang mempengaruhi penerimaan kas:
a.
Budged penjualan.
b.
Keadaan dan posisis pesaing.
c.
Syarat pembayaran tunai maupun
kredit.
d.
Kebijaksanaan dalam penagihan
piutang.
e.
Budged perubahan aktiva tetap.
f.
Rencana penerimaan non-operating.
g.
Kebijaksanaan penjualan surat-surat
berharga.
Sedangkan
aliran kas keluar terdiri dari:
a.
Pengeluuaran biaya bahan baku,
tenaga kerja langsung dan biaya pabrik-pabrik lain (overhead).
b.
Pengeluaran biaya administrasi umum
dan administrasi penjualan.
c.
Untk pembelian aktiva tetap.
d.
Pembayaran kembali hutang-hutang
perusahaan.
e.
Pembayaran kembali investasi dari
pemilik perusahaan.
f.
Pembayaran sewa, pajak, bunga dan
pengeluaran lain-lain.
Sifat dari aliran kas keluar ini juga terus-menerus dan ada
pula yang hanya saat-saat tertentu atau isidentil.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi alirankas:
a.
Budget biaya bahan baku.
b.
Budget biaya tenaga kerja langsung.
c.
Budget biaya pabrik lain-lain (overhead)
d.
Budget biaya administrasi umum dan
administrasi penjualan.
e.
Budget penambahan aktiva tetap.
f.
Budget pengeluaran nonoperating.
Tujuan dari laporan aliran kas adalah melaporkan aliran kas
masuk dan aliran kas keluar perusahaan selama periode tertentu, dipisahkan
dalam tiga kategori yaitu operasi, investasi dan pembelanjaan. Apabila
digunakan dengan informasi berisi dua laporan finansial dasar lainnya dan
hubungan pengungkapan, akan membantu pemakai untuk menaksir dan
mengidentifikasikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan aliran kas masuk
bersih untuk membayar utang, kebutuhan pembelanjaan, alasan tentang perbedaan
antara laba bersih dan aliran kas bersih dari operasi perusahaan, pengaruh
transaksi kas dan non-kas untuk investasi dan pembelanjaan.
Anggaran
Kas
Perusahaan harus bisa menyediakan kas yang cukup agar perusahaan bisa
berproduksi dengan baik. Agar supaya kas bisadisediakan dengan baik tepat pada
saat yang dibutuhkan, maka perlu perencanaan kas yang berisi proyeksi
penerimaan dan pengeluaran kas. Proyeksi posisi kas yang berupa penerimaan dan
pengeluaran kas pada saat tertentu dimasa yang akan datang disebut sebagai
anggaran kas atau cash budget. Anggaran kas ini sangat penting bagi
perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaan, karena dengan menyusun anggaran
kas dapat diprediksi kapan perusahaan mengalami defisit dan kapan perusahaan
mengalami surplus kas. Pada periode yang mengalami defisit kas bisa segera
disiapkan sumber dananya jauh-jauh hari, dan apabila mengalamia surplus kas
bisa direncanakan untuk diinvestasikan pada instrumen investasi sesuai dengan
likuiditasnya.
Anggaran kas biasanya disusun untuk periode bulanan dan pada dasarnya dapat
dibedakan ke dalam dua bagian yaitu:
1.
Estimasi penerimaan-penerimaan kas,
yaitu proyeksi penerimaan pada periode tertentu baik yang berasal dari
penerimaan dari penjualan tunai, penerimaan piutang, penerimaan bunga, hasil
penjualan aktiva tetap maupun penerimaan-penerimaan lainnya.
2.
Estimasi pengeluaran kas, yakni
berupa proyeksi pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan perusahaan, seperti
pembelian bahan baku, pembayaran upah dan gaj, pengeluaran tunai untuk biaya
pemasaran, biaya administrasi, pembayaran bonus, pembayaran hutang, pembayaran
pajak dan pembayaran lainnya yag bersifat tunai.
Setelah mengadakan estimasi pada masing-masing periode,
langkah selanjutnya membandingkan hasil estimasi penerimaan dengan estimasi
pengeluaran kas. Apabila hasil pembandingan tersebut penerimaan kas lebih besar
dibandingkan pengeluaran kas, artinya periode tersebut mengalami surplus, sedangkan
bila penerimaan kasnya lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran kas, maka
pada periode tersebut mengalami defisit. Setelah diketahui surplus dan defisit
untuk masing-masing periode, maka kemudian dicari beberapa kebutuhan dana untuk
menutup kondisi defisit tersebut dengan mempertimbangkan saldo kas minimum dan
tingkat bunga sumber dana yang akan digunakan.
Perencanaan
Kas
Yang dimaksud sebagai perencanaan kas atau budget kas yaitu perkiraan terhadap
posisi kas pada suatu saat tertentu dalam suatu periode tertentu yang akan
datang.
Tujuan
perencanaan kas:
a.
Untuk mengetahui kemungkinan posisi
kas sebagai hasil rencana operasi perusahaannya.
b.
Untuk mengetaui kemungkinan adanya
saldo kas atau kekurangan kas dari rencana operasi dan nonoperasional.
c.
Untuk mengetahui besarnya kebutuhan
dana beserta saat-saat kapan dana itu dibutuhkan untuk menutup defisit kas.
d.
Untuk mengetahui saat-saat dana itu
diinvestasikan pada kegiatan lain bila ternyata terjadi saldo kas yang relativ
tinggi.
e.
Sebagai penentuan saat-saat kredit
harus dibayar kembali.
f.
Sebagai dasar permintaan kredit
kepada lembaga-lembaga keuangan.
g.
Sebagai dasar dalam pengendalian
atau pengawasan posisi kas yang sedang berjalan.
Saldo kas yang juga merupakan persediaan kas apabila
jumlahnya terlalu besar berakibat banyak uang yang menganggur sehingga akan
timbl risiko-risiko dan memperkecil keuntungan pada perusahaan, tetapi
sebaliknya bila terlalu kecil maka kondisi perusahaan dalam keadaan likuid bila
sewaktu-wakru terjadipenagihan dari utang-utangnya tidak dapat membayar. Jumlah
persediaan kas yang sebelumnya harus dipertahankan, rasio standar yang bersifat
umum belum ada rumusnya tetapi HG. Guthman menuliskan bahwa jumlah kas yang sebaiknya
dipertahankan perusahaan yang dalam posisi keuangan yang baik hedaknya tidak
kurang dari 5% sampai 10% dari jumlah aktiva lancar.
Pengendalian
Kas
Menahan uang sebenarnya menanggung
suatu biaya (cost). Dengan konsep opportunity cost maka biaya
menahan uang tunai adalah berupa laba yang sebenarnya dapat diperoleh apabila
dana tersebut digunakan untuk penggunaan invesatsi. Biaya tersebut mungkin
dapat sebagian ditutup dari hasil penanaman dalam bentuk surat-surat berharga
atau bunga simpanan rekening Koran di bank, akan tetapi jumlah tersebut adalah
sangat kecil, kecuali apabila ada alasan-alasan khusus, maka menahan uang tunai
yang berlebihan menunjukkan tidak adanya menajemen keuangan yang baik.
Sebaliknya begitu pula bila terjadi kekurangan saldo uang kas yang mencolok.
Pengendalian uang tunai dan setengah tunai didasarkan pada ramalan jangka
pendek atas kebutuhan uang tunai.
Model
Manajemen Kas
Teori pengelolahan saldo kas, disajikan tiga model yang dikembangkan oleh William
J. boumol, Merto H. miller dan Daniel Orr, serta William baranek. Dalam
model-model tersebut akan ditentukan besarnya saldo kas yang optimum dan selalu
mengkaitkan antara kas dan surat berharga, yakni dengan mengadakan trade-off
antara tingkat bunga yang hilang karena menyimpan uang dengan biaya
transaksi. Apabila perusahaan mempunyai kas terlalu banyak harus segera
dibelikan surat berharga dan tentu harus mengeluarkan biaya untuk transaksi,
sedangkan bila saldo kas mendekati nol harus segera menjual surat berharganya
menjadi kas, sehingga akn kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bunga (opportunity
cost.
Tentang manajemen saldo kas yang disusun oleh W. J Boumol
sesuai dengan model EOQ khusus untuk permasalahan manajemen kas. Boumol
mengakui ada kesamaan antara persediaan dan kas bila dilihat dari aspek
keuangan. Dalam manajemen persediaan ada biaya pesan yang dibayarkan setiap
melakukan pemesanan dan biaya simpan untuk menyimpan bahan yang dibeli. Dalam
manajemen kas biaya pesan berupa biaya komisi pedagang efek yang dikeluarkan
untuk merubah sekuritas menjadi uang kas. Biaya simpan berupa hasil bunga yang
hilang karena perusahaan menyimpan uang tunai yang besar, oleh karena itu perlu
ditentukan beberapa surat berharga yang harus dijadikan uang tunai pada setiap
saldo kas mendekati nol. Karena Boumol menganggap manajemen kas seperti
manajemen persediaan, maka untuk mencari berapa jumlah kas yang optimal pada
setiap mengubah sekuritas menjadi kas adalah:
Di
mana:
O
= Biaya transaksi
D
= Kebutuhan kas setahun
I
= bunga sekuritas
Miller dan Orr mengembangkan model Boumol pada tahun 1966 dengan memasukkan
proses stochastik atas perubahan-perubahan saldo kas yang terjadi secara
periodic.arus kas berfluktuatif dan perubahan saldo kas selama periode tertentu
tidak menentu besar atau arahnya, perubahan tersebut mempunyai distribusi
normal bila perubahannya terlalu banyak. Dalam model ini mengandung ketentuan
bahwa perubahan yang terjadi pada suatu waktu tertentu memempunyai
profitabilitas yang lebih besar untuk bersifat positif maupun negatif.
Model ini pada dasarnya menentukan batas atas dan batas
bawah saldo kas, serta menentukan saldo kas yang optimal yang perlu dimiliki
oleh perusahaan.Apabila saldo kas mengalami penurunan hingga mencapai nol, maka
perusahaan harus segera mengubah sekuritasnnya menjadi kas senilai saldo kas
optimal. Demikian pula bila saldo kas yang dimiliki oleh perusahaan semakin
membesar, maka pada batas atas kas harus diubah menjadi sekuritas. Untuk
menentukan besarnya saldo kas optimal, maka dapat diketahui dengan menggunakan
rumus sebagai berikut:
4i
3
Di
mana:
b
= Biaya tetap untuk melakukan transaksi
α2
= Variasi arus kas masuk bersih harian (penyebaran arus kas)
i
= Bunga harian untuk investasi pada sekuritas
Baranek (1963) dalam bukunya yang berjudul Analysis For Financial Decesions,
membahas mengenai penetapan alokasi yang optimal dari dana yang ada, dari yang
berupa kas dan yang berupa surat berharga. Dalam model Baranek variabel
keputusan adalah alokasi dana untuk kas dan investasi surat berharga pada awal
periode, sedangkan penarikan dari surat berharga menjadi kas dianggap hanya
terjadi pada awal periode. Dalam hal pengeluaran kas dianggap terjadi sekali-kali
dan dapat dikendalikan secara langsung oleh manajemen, sedangkan pemasukan kas
dianggap sulit dikendalikan dan terjadi terus-menerus.
Pengeluaran kas yang diakibatkan adanya kebiasaan atau peraturan tertentu akan
terjadi pada interval waktu yang teratur. Pembayaran gaji dan upah dilakukan
tiap minggu atau bulanan, pembayaran bahan baku dan mengikuti waktu tertentu
dari leveransir dan sebagainya, sehingga dapat direncanakan mengenai kebutuhan
kas untuk periode yang akan datang dan diperhitungkan juga kas yang dapat
ditanamkan dalam investasi Karena tidak dipergunakan untuk pengeluaran kas.
Tujuan memaksimumkan hasil keuntungan dari investasi yang
berupa suratberharga ternyata dibatasi oleh biaya transaksi dan oleh risiko
kehabisan uang pada saat dana dibutuhkan untuk menutupi pengeluaran, tetapi
akan lebih realistis apabila biaya kehabisan kas dilihat sebagai biaya meminjam
pada plafon kredit, karena perusahaan akan memiliki untuk meminjam utang jangka
pendek, daripada kehilangan potongan kas atau turunya kepercayan kreditur.
Dengan diketahui distribusi probabilitas tertentu untuk arus kas bersih, biaya
kehabisan kas dan biaya kesempatan untuk menahan kas, dikembangkan suatu fungsi
biaya kemudian mendeferensasikan untuk mencari jumlah saldo kas yang optimal.
Daftar Pustaka
http://www.stiepas.blogspot.com/ .
Diunduh pada 14 mei 2009.
http://id-jurnal.blogspot.com/2008/04/analisis-faktor-faktor-yang_4220.html.
Diunduh pada 17
mei 2009.
Sutrisno. 2001.Manajemen Keuangan.
Edisi Pertama. Yogyakarta: EKONESIA.
Sabardi, Agus. 1995. Manajemen
Keuangan. Edisi Kedua. Yogyakarta: AMP YKPN.
Sundjaja, Ridwan S. inge Barlian.
2003. Manajemen Keuangan Dua. Edisi Keempat. Jakarta:
Literata Lintas Media.
Gitosudarmo, Indriyo. Basri. 2000.
Manajemen Keungan. Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE.
Gitosudarmo, Indriyo. Basri. 1998.
Manajemen Keungan. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
Soal
oleh Prof Masngudi, PhD, APU
PT
Kelapa Gading ingin menyusun budget kas-nya bagi kuartal ke-2 tahun 2006 dengan
bahan informasi sebagai berikut:
|
Bulan
|
Penjualan
|
Penjualan
Tunai
|
|
Maret
|
400.000
|
100.000
|
|
April
|
500.000
|
125.000
|
|
Mei
|
700.000
|
175.000
|
|
Juni
|
600.000
|
150.000
|
|
Juli
|
500.000
|
125.000
|
Kebijakan
penjualan oleh perusahaan atas penjualan kreditnya 20% dibayar pada bulan
terjadinya transaksi penjualan, sedangkan sisanya 80% dibayar pada bulan
berikutnya. Perusahaan tersebut menetapkan saldo kas minimum Rp 100.000.
Selanjutnya dalam pembelian barang dagangan didasarkan atas kebijakan di mana
70% dibayar 1 bulan sebelumnya; di mana 70% tadi pada dasarnya merupakan harga
pembelian yang sebenarnya jikalau diperhitungkan dengan harga sebenarnya.
Kemudian beban gaji yang harus diperhitungkan setiap bulannya sebesar 9% dari
harga penjualannya; dan kewajiban pembayaran sewa per bulan adalah Rp 20.000.
Biaya operasi April Rp 50.000; Mei Rp 60.000; dan bulan Juni Rp 20.000. Pajak
pada bulan Mei harus dibayar Rp 40.000, serta pembayaran dividen pada bulan Mei
sebesar Rp 40.000. Diperkirakan saldo kas awal bulan April sebesar Rp 125.000.
Susunlah budget kas PT Kelapa Gading jikalau perusahaan mencari pinjaman harus
diperhitungkan dengan tingkat bunga 2% perbulan. Jikalau terjadi transaksi
finansial pinjaman, nilainya dibulatkan dalam kelipatan Rp 5.000.
Jawaban
Tahap
I – Estimasi penerimaan dan pengeluaran menurut rencana operasi perusahaan.
Tahap
II – Perhitungan pinjaman dan pengembalian
Perhitungan
saldo awal bulan Maret
Saldo
kas awal bulan April = Saldo kas akhir bulan Maret = Rp 125.000 = SA0
Saldo
kas awal bulan Maret = SM0
SA0
= SM0 + Penerimaan bulan Maret – Pengeluaran bulan Maret
125.000 =
SM0 + 160.000 – 406.000
125.000 =
SM0 – 246.000
SM0 =
125.000 + 246.000
SM0 =
371.000 (Saldo kas awal bulan Maret)
Perhitungan
besarnya pinjaman pada bulan April
Defisit
bulan April sebesar Rp 165.000, persediaan besi kas Rp 100.000, sedangkan saldo
kas awal bulan April sebesar Rp 125.000. Besarnya pinjaman pada bulan April
adalah sebesar X dengan perhitungan sebagai berikut:
X =
Defisit + Besi Kas – Saldo Awal + (i.X)
X
= 165.000 + 100.000 – 125.000 +
2%.X
X
= 140.000 + 0.02X
X
– 0.02X = 221.000
0,98X =
221.000
X =
221.000/0,98
X =
142.857,14 dibulatkan ke atas menjadi Rp 145.000
Kalau
meminjam sebesar Rp 145.000 maka pada akhir April saldo kas adalah lebih dari
saldo minimum (besi kas)
Adapun
perhitungannya sebagai berikut:
Saldo
kas pada permulaan April : Rp 125.000
Terima
pinjaman dari bank : Rp
145.000
Jumlah
kas tersedia pada bulan April : Rp 270.000
Untuk
menutup defisit
: Rp
165.000
Bunga
pinjaman 2% x 145.000 : Rp
2.900
Jumlah :
Rp 167.900
Saldo
kas pada akhir bulan : Rp
102.100
Perhitungan
besarnya pinjaman pada bulan Mei
Defisit
bulan Mei sebesar Rp 63.000, persediaan besi kas Rp 100.000, sedangkan saldo
kas awal bulan Mei sebesar Rp 102.100. Besarnya pinjaman pada bulan Mei adalah
sebesar X dengan bunga total pinjaman sebesar 2%.X ditambah 2% dari pinjaman
bunga lalu, perhitungan besarnya pinjaman X adalah sebagai berikut:
X =
Defisit + Besi Kas – Saldo Awal + (i.X) + (i.XT-1)
X
= 63.000 + 100.000 – 102.100 +
2%.X + 2%.145.000
X
= 60.900 + 0.02X + 2.900
X
– 0.02X = 63.800
0,98X =
63.800
X =
63.800/0,98
X =
65.102 dibulatkan ke atas menjadi Rp 70.000
Kalau
meminjam sebesar Rp 70.000 maka pada akhir Mei saldo kas adalah lebih dari
saldo minimum (besi kas)
Adapun
perhitungannya sebagai berikut:
Saldo
kas pada permulaan Mei : Rp
102.100
Terima
pinjaman dari bank : Rp
70.000
Jumlah
kas tersedia pada bulan Mei : Rp 172.100
Untuk
menutup defisit
: Rp
63.000
Bunga
pinjaman 2% x 145.000 : Rp 2.900
Bunga
pinjaman 2% x 70.000 : Rp
1.400
Jumlah :
Rp 67.300
Saldo
kas pada akhir bulan : Rp
104.800
Perhitungan
Pembayaran kredit pada bulan Juni
Total
pinjaman bulan sebelumnya (X) = 145.000 + 70.000
=
215.000
Surplus
bulan Juni Rp. 216.000, saldo minimum Rp 100.000, sedangkan saldo awal bulan
Juni sebesar Rp 104.800, sehingga jumlah pinjaman yang dapat dikembalikan pada
bulan Juni adalah sebesar Y.
Saldo
akhir bulan Juni = Saldo awal + Surplus – Y – 2%.(X – Y)
100.000
= 104.800 + 216.000 – Y – 2%.(215.000 – Y)
100.000
= 320.800 – Y – 2%.215.000 + 2%.Y
=
320.800 – 4.300 – 0,98.Y
0,98.Y =
316.500 – 100.000
Y =
216.500/0,98
Y =
220.918.37 lebih besar dari pinjaman
Karena
pinjaman dapat dikembalikan semua maka akan dikembalikan sebesar Rp 215.000
Kalau
mengembalikan sebesar Rp 215.000 maka pada akhir Juni saldo kas masih lebih
dari saldo minimum (besi kas)
Adapun
perhitungannya sebagai berikut:
Saldo
kas pada permulaan Juni : Rp
104.800
Surplus :
Rp 216.000
Jumlah
kas tersedia pada bulan Juni : Rp 320.800
Untuk
membayar kredit : Rp 215.000
Jumlah :
Rp 215.000
Saldo
kas pada akhir bulan : Rp
105.800
Tahap
III – Skedul penerimaan dan pembayaran pinjaman dan bunga

werk
Tahap
IV – Penyusunan budget kas final
Sebagai
tahap terakhir dalam penyusunan budget kas tersebut adalah penyusunan budget
kas final yang merupakan gabungan dari transaksi operasional dan transaksi
finansial yang menggambarkan estimasi penerimaan dan pengeluaran kas
keseluruhan.
Budget
kas untuk kuartal kedua PT Kelapa Gading adalah:








