BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dewasa
ini semakin banyak orang yang tertarik dengan pembahasan tentang kepemimpinan.
Buku-buku yang membahas akan hal itu habis terjual. Seminar dan pembahasan
mengenai kepemimpinan rasanya tidak akan ada habisnya. Semua orang berusaha
mengidentifikasi pemimpin seperti apa dirinya tersebut, Menjadi pemimpin itu
mudah, tapi itu bagi mereka yang terbiasa. Hal ini akan menjadi rumit ketika
dihadapkan pada seseorang yang tidak mengenal bagaimana cara kepemimpinan yang
baik. Memimpin bukan hanya terletak pada sebuah seni, melainkan ada juga dasar
keilmuan yang menyertainya
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam
hidup, manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta lingkungan. Manusia
hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kecil.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding dengan
makhluk Tuhan yang lainnya. Manusia dianugerahi kemampuan untuk berpikir,
kemampuan memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan kelebihan
itulah manusia seharusnya mamapu mengelola lingkungan dengan baik.
Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan
sosial manusi pun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber
daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak
untuk memimpin dirinya sendiri.Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat
mengelola diri, kelompok dan lingkungannya dengan baik. Khususnya penanggulan
masalah. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan
dengan baik.
Pemimpin merupakan cerminan dan
indikator kenberhasilan suatu unit organisasi. Seorang pemimpin adalah
motivator bagi suatu sistem organisasi, sehingga organisasi tersebut berjalan
dengan kapasitas maksimalnya dan menghaasilkan suatu kinerja yang maksimal pula
tentunya
Pada kenyataanya pimempin masi banyak yang
tidak mengerti bagaimana kepemimpinann yang baik, mereka merasa sudah baik
namun mereka tidak tau bahwa kepemimpinan mereka kadang masi ab-normal/tidak
wajar dimata orang lain , oleh karena itu penulis perlu mengadakan penelitian
yang berjudul “kepemimpinan ab-normal menurut mahasiswa”
B.
Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang
diatas, maka yang menjadi fokus penelitian dalam penyusunan proposal ini antara
laian sebagai berikut :
1.
Fungsi kepemimpinan
2.
Gaya kepemimpinan
3.
Kinerja kepemimpinan
4.
Prilaku kepemimpinan
5.
Sikap kepemimpinan
C.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah fungsi kepemimpinan
yang ab-normal menurut mahasiswa?
2.
Bagaimanakah gaya kepemimpinan
yang ab-normal menurut mahasiswa?
3.
Bagaimanakah kinerja kepeimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa?
4.
Bagaimanakah perilaku kepemimpinan
yang ab-normal menurut mahasiswa?
5.
Bagaimanakah sikap keemimpinan
yang ab-normal menurut mahasiswa?
D.
Tujuan Penelitian
1.
Tujuan umum
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
2.
Tujuan khusus
a.
Untuk mengetahui Fungsi
kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
b.
Untuk mengetahui Gaya kepemimpinan
yang ab-normal menurut mahasiswa
c.
Untuk mengetahui Kinerja
kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
d.
Untuk mengetahui Prilaku
kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
e.
Untuk mengetahui Sikap
kepemimpinan yang ab-normal menurut mahasiswa
E.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat
praktis
a.
Bagai instasi atau lembaga publick
bahan masukan dalam mengevaluasi mutu kinerja pimpinan khususnya
pimpinan
b.
Bagi pemimpin
Sebagai bahan masukan dalam langka meningkatkan provesionalisme dalam
memimpin
2.
Manfaat
teoritis
a.
Bagi instasi pendidikan
Sebagai bahan masukan pada program penelitian danpengembangan khususnya
dalam lingkup kepemimpina
b.
Bagi peneliti
Sebagai pengalaman berharga bagi peneliti dalam hal menambah ilmu serta
wawasan pengalaman terutama dalam lingkup praktek kepemimpinan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian dan Tugas Pemimpin
1.
Pengertian
Menurut Stoner, kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai
proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan – kegiatan dari
sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.
Kepemimpinan sering disebut dengan leadership yaitu suatu
proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan
dari anggota kelompok. Kepemimpinan juga didefinisikan dengan berbagai cara
yang berbeda oleh berbagai orang yang berbeda pula.
Menurut Handoko (1986: 294) Kepemimpinan merupakan
kemampuan yang dipunyai seseorang untuk memepengaruhi orang-orang lain agar
bekerja mencapai tujuan dan sasaran.
Menurut Ningrat (1980: 64) Kepemimpinan itu
merupakan suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberi perintah atau
pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
George (dalam Gouzali,2000:700) mengemukakan teorikepemimpinan sebagai
berikut:” Leadership is activity ofinfluencing people to strive willingly for
mutualobjectives”. Dalam teori tersebut menekankan bahwakepemimpinan merupakan
keseluruhan kegiatan(aktivitas) untuk mempengaruhi kemauan orang lainuntuk
mencapai tujuan bersama.Robert (dalam Gouzali, 2000:700) bahwa”Leadership isthe
exercises of authority and the making of decisions”.Teori tersebut pada
prinsipnya menekankan bahwakepemimpinan adalah sebagai aktivitas
pemegangkewenangan serta pengambil keputusan.
Sedangkan pemimpin adalah terjemahan leader/head/manager, yang juga
disebut kepala/ketua/direktur, dan lain sebagainya. Menurut Drs.H.Malayu
S.P.Hasibuan, pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya
mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam
mencapai tujuan. Manajer adalah seseorang yang mencapai tujuannya melalui
kegiatan – kegiatan orang lain. Jadi, pemimpin itu harus mempunyai bawahan,
harus membagi pekerjaannya, dan harus tetep bertanggung jawab terhadap
pekerjaan tersebut. Pemimpin harus mengutamakan tugas, tanggung jawab, dan
membina hubungan yang harmonis, baik dengan atasan maupun dengan para
bawahannya. Jadi, pemimpin harus mengadakan komunikasi ke atas dan ke bawah,
baik komunikasi formal maupun informal.
2.
Tugas kepemimpinan
Tugas seorang pemimpin adalah
a. Managerial
cycle adalah siklus “ pengambilan keputusan, perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pengendalian, penilaian dan pelaporan. Dengan demikian tugas –
tugas manajer adalah siklus yang berulang – ulang mulai dari pengambilan
keputusan menerima laporan.
b. Memotivasi,
artinya seorang manajer harus dapat mendorong para bawahannya untuk bekerja
giat dan membina bawahan dengan baik, sehingga tercipta suasana kerja yang baik
dan harmonis.
c. Manajer
harus berusaha memenuhi kebutuhan – kebutuhan para bawahannya, supaya loyalitas
dan partisipasinya meningkat.
d. Manajer
harus dapat menciptakan kondisi yang akan membantu bawahannya mendapat kepuasan
dalam pekerjaannya.
e. Manajer
harus berusaha agar para bawahannya bersedia memikul tanggung jawab dalam
menyelesaikan tugas – tugasnya dengan baik.
f. Manajer
harus bisa berusaha membina bawahannya, agar dapat bekerja efektif dan efisien.
g. Manajer
harus membenahi fungsi – fungsi fundamental manajemen secara baik.
h. Manajer
harus mewakili dan membina hubungan yang harmonis dari pihak – pihak luar.
i.
Manajer harus bertanggung jawab atas
keselamatan kerja para bawahannya selama melakukan pekerjaan.
j.
Manajer harus mengadakan pembagian
pekerjaan dan mengkordinasi tugas – tugas supaya terintegrasi kepada tugas –
tugas yang diinginkan.
k. Manajer
harus bersedia menjadi penanggung jawab terakhir mengenai hasil yang dicapai
dari proses manajemen itu.
B.
Fungsi Kepemimpinan
Fungsi
Kepemimpinan (Leadership Function) yaitu aktivitas yang dipertahankan kelompok
dan berkaitan dengan tugas yang harus dilaksanakan oleh pemimpin, atau
seseorang lain, agar kelompok dapat berfungsi secara efektif. Para peneliti yang mengamati fungsi
kepemimpinan sampai pada kesimpulan bahwa agar beroperasi secara
efektif kelompok memerlukan seseorang melakukan dua fungsi utama:
1. Fungsi yang
berhubungan dengan tugas atau memecahkan masalah
2. Fungsi
memelihara kelompok atau sosial, termasuk tindakan yang menengahi perselisihan
dan memastikan bahwa individu merasa dihargai.
Seseorang yang mampu melaksanakan
keduanya dengan sukses akan menjadi pemimpin yang efektif. Akan tetapi dalam
prakteknya seorang pemimpin mempunyai keterampilan atau yang hanya menggunakan
1 saja. Walaupun demikian tidak berarti kelompok ini bernasib malang.
C. Teori Kepemimpinan
Kreitner
(2007) menyebutkan adanya empat teori kepemimpinanyang terentang sejak tahun
1950-an sampai saat ini. Keempat teori adalah trait theory, behavioral
styles theory, situational theory, dan transformational theory.
Selain empat teori tersebut, masih terdapat
empat teori kepemimpinan yang secara luas dikenal dalam kepustakaan manajemen.
1.
Teori Orang-orang Besar (Great Man Theory)
Menurut
teori ini seorang pemimpin besar terlahir sebagai pemimpin yang memiliki
berbagai cirri-ciri individu yang sangat berbeda dengan kebanyakan manusia
lainnya. Cirri-ciri tersebut mencakup karisma, intelegensia, kebijaksanaan, dan
dapat menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat berbagai keputusan
yang member dampak besar bagi manusia. Karisma sendiri menunjukkan kepribadian
seseorang yang dicirikan oleh pesona pribadi, daya tarik.
2.
Teori Ciri-ciri Pemimpin (Trait Theory)
Teori ini
memfokuskan perhatiannya untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik pemimpin
yang menyebabkan seseorang dapat menjalankan kepemimpinan secara efektif.
Ciri-ciri pemimpin efektif menurut
Stogdill (1974) dalam Trait Theory
a. Kecerdasan
b. Pengetahuan
dan keahlian
c. Dominasi
d. Rasa percaya
diri
e. Toleransi
f. Kematangan
Berbagai cirri tersebut sangat
dibutuhkan oleh pemimpin agar dapat menjalankankepemimpinannya secara efektif.
3.
Teori Perilaku (Behavioral Styles Theory)
Pemikiran
teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika
melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan.
4.
Teori Situasional (Situational Theory)
Para
penganut teori ini memiliki keyakinan berdasarkan penelitian yang mereka
lakukan bahwa efektivitas gaya kepemimpinan sangat bergantung kepada situasi
yang melingkupinya. Oleh sebab itu mereka mempunyai suatu asumsi bahwa
kepemimpinan sesuai dengan situasi.Salah seorang peneliti yang termasuk ke
dalam teori ini adalah Fred E. Fiedler (Kreitner 2007). Teori dari Fiedler
dibangun dari beberapa asumsi utama sebagai berikut:
Kinerja seorang pemimpin bergantung
kepada kepada dua factor yang saling berhubungan, yaitu:
a. Sejauh mana
situasi tertentu dapat memberikan pemimpin tersebut kendali dan
pengaruh-pengaruh sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan sukses.
b. Motivasi
mendasar dari seorang pemimpin yakni apakah kepuasan diri pemimpin tersebut
bergantung terutama pada penyelesaian pekerjaan ataukan bergantung kepada
hubungan erat yang bersifat mendukung dengan pihak lain.
5.
Teori Kepemimpinan Transaksi (Transactional Leadership Theory)
Menurut
teori ini karyawan akan termotivasi oleh imbalan maupun hukuman. Menurut teori
ini, seorang pemimpin akan dapat menjalankan kepemimpinannya secara efektif
apabila ia mampu mengembangkan struktur kerja yang jelas sehingga para manajer
tersebut akan dapat merumuskan dengan tepat apa saja yang dibutuhkan oleh para
bawahanagar bias melaksanakan pekerjaan dengan baik serta memberikan imbalan
yang sesuai dengan kinerjanya.
6.
Teori Kepemimpinan Transformasi (Transformational Leadership Theory)
Teori
kepemimpinan transformasi didasari oleh hasil penelitian mengenai adanya
perilaku kepemimpinan di mana para pemimpin yang kemudian di kategorikan
sebagai pemimpin transformasi (Transformational Leader) yang memberikan
inspirasi kepada sumber daya manusia yang lain dalam organisasi untuk mencapai
sesuatu melebihi apa yang di rencanakan oleh organisasi.
Karakteristik pemimpin transformasi
memiliki perbedaan dengan pemimpin transaksi, yaitu pemimpin transaksi biasanya
mengarahkan sumber daya manusia untuk mencapai sesuatu sesuai dengan rencana
dan lebih mengandalkan kepemimpinannya kepada kekuasaan legitimasi
D. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan adalah
suatu pola perilaku yang konsisten yang kita tunjukan dan sebagai yang
diketahui pihak lain ketika berusaha mempengaruhi kegiatan orang lain. Kedua fungsi kepemimpinan berhubungan dengan tugas dan pemeliharaan
kelompok, yang diekspresikan dalam dua gaya
kepemimpinan yang berbeda.
Dua gaya kepemimpinan tersebut
adalah:
1. Gaya dengan
orientasi tugas (task-oriented)
Sebagai
pemimpin mengawasi dan mengarahkan bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa
tugas telah dilaksanakan sesuai yang diinginkan. Gaya ini lebih memperhatikan
pelaksanaan pekerjaan dari pada kepuasan pribadi.
2.
Gaya dengan orientasi karyawan
(employee-oriented)
Gaya ini
klebih menekankan pada motivasi daripada mengawasi mereka. Mereka mencari
hubungan bersahabat, saling percaya, dan saling menghargai sesama karyawan, dan
memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengambil keputusan.
3 gaya kepemimpinan (leadership
styles) menurut (Kreitner, 2007) yaitu:
1.
Gaya kepemimpinan otoriter (Authoritarian leadership style)
Sifat kepemimpinan otoriter:
a.
Biasanya pemimpin menahan seluruh
kewenangan dan tanggung jawab.
b.
Pemimpin menugaskan seseorang
melaksanakan tugas tertentu.
c.
Komunikasi lebih banyak mengalir
dari atas kebawah.
Kekuatan utama dalam gaya
kepemimpinan ini memberikan tekanan untuk menghasilkan kinerja yang teratur.
Tetapi juga memiliki kelemahan utama yang dapat memandulkan inisiatif pribadi.
2.
Gaya kepemimpinan demokratis (democratic leadership style)
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya karyawan lebih menyukai gaya
kepemimpinan demokratis, karena karyawan merasa dilibatkan dalam pegambilan
keputusan.
Sifat kepemimpinan demokratis:
a.
Pemimpin memberikan sebagian
wewenang dan tetep mempertahankan tanggung jawab utama
b.
Pekerjaan dibagi berdasarkan
partisipasi seseorang dalam pengambilan keputusan
3.
Gaya kepemimpinan laissez-fair (Laissez faire leadership style)
Dengan
demikian pemimin yang menggunakan gaya kepemimpinan ini cenderung memberikan
kebebasan yang sangat besar kepada bawahannya untuk melakukan suatu pekerjaan.
Sifat kepemimpinan ini adalah:
a.
Pemimpin menyerahkan tanggung jawab
dan wewenang kepada kelompok.
b.
Para anggota kelompok diminta untuk
mengerjakan sesuai dengan kehendak mereka dan sesuai dengan kemampuan mereka.
c.
Komunikasi lebih banyak diantara
para rekan kerja
Kekuatan
utama dalam kepemimpinan ini adalah memungkinkan timbulnya inisiatif untuk
melakukan suatu pekerjaan yang dianggap sesuai tanpa harus ada campur tangan
dari atasan.Kelemahan dalam kepemimpinan ini adalah tanpa adanya arahan yang
jelas dari pimpinan, maka kelompom dapat terombang-ambing tanpa tujuan yang
jelas.
Menurut
peneliti lain yang termasuk dalam kelompok Behavioral Styles Theory yaitu
Robert R. Blake dan Jane S. Mouton yang menggunakan factor “perhatian terhadap
produksi (concern for production)” Pada sumbu horizontal yang mencakup didalamnya
keinginan untuk mencapai jumlah pengeluaran produksi yang lebih besar.
Sedangkan pada sumbu vertikal, Blake dan Mouton menggunakan “perhatian terhadap
manusia (concern for people) yang mencakup didalamnya peningkatan
persahabatan, membantu rekan kerja dalam menyelesaikan suatu tugas.
E. Tipe Kepemimpinan
Tiga tipe dasar pemimpin sebagai
bentuk-bentuk proses pemecahan masalah dan mengambil keputusan, adalah sebagai
berikut: ( Ningrat (1980:76)
1.
Pemimpin Otokratis
Pemimpin yang bersifat otokratis memperlihatkan
ciri-ciri sebagai berikut: memberikan perintah-perintah yang selalu diikuti,
menentukan kebijaksanaan karyawan tanpa sepengetahuan mereka. Tidak memberikan
penjelasan secara terperinci tentang rencana yang akan dating, tetapi sekedar
mengatakan kepada anggotanya tentang langkah-langkah yang mereka lakukan dengan
segera dijalankan. Memberikan pujian kepada meraka yang selalu menurut
kehendaknya dan melontarkan kritik kepada mereka yang tidak mengikuti
kehendaknya. Selalu jauh dengan anggota sepanjang masa.
2.
Pemimpin Demokratis
Pemimpin demokratis hanya memberikan
perintah setelah mengadakan musyawarah dahulu dengan anggotanya dan mengetahui
bahwa kebijaksanaannya hanya dapat dilakukan setalah dibicarakan dan diterima
oleh anggotanya. Pemimpin tidak akan meminta anggotanya mengerjakan sesuatu
tanpa terlebih dahulu memberitahukan rencana yang akan mereka lakukan. Baik
atau buruk, benar atau salah adalah persoalan anggotanya dimana masing-masing
ikut serta bertanggung jawab sebagai anggotanya.
3.
Pemimpin Liberal
atau Laissez-Faire
Pemimpin liberal yaitu kebebasan
tanpa pengendalian. Pemimpin tidak memimpin atau mengendalikan bawahan
sepenuhnya dan tidak pernah ikut serta dengan bawahanny
Dari ketiga gaya kepemimpinan diatas dapat diambil
kesimpulan yang baik adalah gaya kepemimpinan yang
demokratis dengan karakteristik sebagai berikut: Siagian (1988:18)
a.
Kemampuan mempertahankan organisasi
sebagai suatu totalitas dengan menempatkan semua satuan organisasi pada
proporsi yang tepat dengan tergantung pada sasaran yang ingin dicapai oleh
organisasi yang bersangkutan pada kurun waktu tertentu.
b.
Mempunyai persepsi yang holistik
mengenai organisasi yang dipimpinnya.
c.
Menempatkan organisasi sebagai
keseluruhan diatas kepentingan diri sendiri atau kepentingan kelompok tertentu
dalam organisasi.
d.
Mengakui dan menjunjung tinggi
harkat dan martabat para bawahannya sebagai makhluik sosial dan sebagai
individu yang mempunyai jati diri yang khas.
e.
Sejauh mungkin memberikan kesempatan
kepada para bawahannya berperan serta dalam prosas pengambilan keputusan
terutama yang menyangkut tugas para bawahan yang bersangkutan.
f.
Terbuka terhadap ide, pandangan dan
sasaran orang lain termasuk bawahannya.
g.
Memiliki perilaku keteladanan yang
menjadi panutan kepada para bawahannya.
h.
Bersifat rasional dan objektif dalam
menghadapi bawahan terutama dalam menilai perilaku dan prestasi kerja karyawan.
i.
Selalu berusaha menumbuhkan dan
memelihara iklim kerja yang kondusif dan kreatif bawahan.
F.
Sikap Kepemimpin
1.
Berwibawa dan Tegas.
Bersikap wibawa merupakan cerminan akan kharakter dan pribadi seorang
pimpinan yang lugas dan tegas. Tegas dalam artian dengan aturan dan norma kerja
yang ada.
2.
Fokus.
Menjadi seorang pemimpin
tentunya harus bersikap fokus akan tanggung jawab terhadap pekerjaan,
berkontribusi dalam memberikan arah tujuan yang baik, dan lebih mementingkan
prioritas utama dengan prioritas pribadi.
3.
Visi dan Misi
Seorang Pemimpin yang baik harus memiliki visi dan misi yang baik,
karena pimpinan yang baik harus menyampaikan tujuan visi dan misinya, agar
bawahannya memiliki motivasi untuk mencapai target yang sama, sehingga pimpinan
bisa memberikan bimbingan untuk mengerakkaan timnya menuju tujuan yang telah
ditentukan.
4.
Rendah Hati.
Seorang
pimpinan mampu mendengarkan bawahannya. Agar pimpinan tidak memutuskan segala
hal secara sepihak yang memungkinkan para anggota sebenarnya tidak sepaham
dengan keputusan pimpinan. Dan yang terakhir berikan pengakuan atas kontribusi
yang telah diberikan oleh anggota tim Anda. Tunjukan bahwa Anda menghargai
kerja keras mereka. Menurut William Glasser dalam bukunya, Choice Theory,
sesungguhnya di dalam situasi yang paling ekstrem sekalipun, seseorang tidak dapat
dipaksa untuk melakukan suatu pekerjaan. Jikalau orang tersebut mau mengerjakan
pekerjaan yang dipaksakan itu, biasanya hasil kerjanya tidak memuaskan
G.
Prilaku Kepemimpinan
William
menyebutkan delapan ciri perilaku yang menggambarkan sifat seorang pemimpin
yang baik.
1. Beri
teladan tentang arti sukses kepada bawahan.
Alasan
umum seseorang tidak berusaha keras dalam bekerja adalah karena mereka tidak
tahu persis tujuan mereka bekerja. Ketidakadaan tujuan dan arah sering
mematahkan motivasi kerja. Oleh sebab itu, seorang pemimpin yang baik adalah
pemimpin yang bisa memberi contoh kesuksesan yang bisa diraih para bawahannya.
2. Beri
bawahan Anda peralatan yang mereka butuhkan.
Banyak
orang mempersepsikan, tugas seorang pemimpin adalah menyelesaikan masalah
bawahannya. Namun, sebenarnya itu bukan tugas Anda sebagai atasan. Daripada
terus-menerus turun tangan menyelesaikan masalah orang lain, lebih baik berikan
bawahan Anda cara dan rambu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Jangan
sungkan untuk memuji keberhasilan bawahan
Tak hanya kritik, pujian dan apresiasi
terhadap hasil kerja bawahan juga dapat memotivasi produktivitas dan membangun
kepercayaan diri bawahan untuk lebih sukses lagi.
4. Berikan
ruang untuk kesalahan.
Sesungguhnya kesalahan adalah guru terbaik
bagi pembelajaran, maka berilah toleransi bagi kesalahan yang dilakukan
bawahan. Terkadang kesalahan dilakukan bawahan bukan karena ia tidak becus
bekerja, tapi karena ketidaktahuannya akan suatu hal.
5. Delegasikan
tugas tanpa banyak turut campur
Pemimpin yang baik adalah seorang yang mampu
mempercayakan tugas secara penuh kepada bawahannya. Biarkan bawahan mengatasi
kendala pekerjaannya sendiri. Namun, di sisi lain pastikan diri Anda selalu ada
untuk membantu saat mereka membutuhkan Anda.
6. Lebih
baik bertanya daripada memberi nasihat
Seringkali
bawahan Anda tahu lebih banyak daripada yang Anda pikir mereka ketahui.
Tanyakan pendapat mereka tentang masalah-masalah yang sedang mereka hadapi di
kantor. Dengan demikian, Anda membantu mereka menyimpulkan sendiri jalan keluar
terbaik dari masalah tersebut. Hindari memberi nasihat, karena akan terkesan
menggurui.
7. Bersikaplah
ramah.
Aturan
mainnya sungguh sederhana. Jangan berharap orang lain bersikap ramah kepada
Anda jika Anda sendiri tidak ramah terhadap orang lain. Seorang pemimpin yang
baik tak perlu menjadi galak untuk bisa tegas dan efektif memanajeri
bawahannya. Dengan bersikap ramah, Anda akan selalu bisa melihat sisi positif
dari setiap karyawan Anda dan memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik lagi.
8. Tak
kenal maka tak sayang.
Kepemimpinan erat terkait dengan hubungan
antar manusia. Saat bawahan percaya bahwa Anda tulus peduli dengan mereka,
mereka akan berusaha lebih baik dalam bekerja. Kenali lebih dekat bawahan Anda,
dengarkan cerita dan keluh kesahnya. Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan
seseorang dapat dilihat dari kualitas hubungannya dengan orang-orang di
sekitarnya. Disarikan dari : Intisari dan sumber lain
BAB III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Metode Dan Alasan Menggunakan Metode
Berdasarkan sumber data,
jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang
bersifat deskriptif. Jadi prosedur penelitian ini, akan menghasilkan data
deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari mahasiswa-mahasisw
.Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan suatu
keadaan atau fenomena-fenomena secara apa adanya.
B.
Tempat Dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelititan ini Akan dilakukan di UNIVERSITAS
HALUOLEO.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 15 Maret 2013 – selesai
C.
Jenis Data Penelitian
Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas
1. Rekaman audio dan video
2. Catatan lapangan
3. Dokumentasi
4. Foto
D.
Sumber Data Penelitian
Sumber data terdiri atas:
a. Unsur manusia sebagai instrumen kunci
Manusia
sebagai instrumen kunci merupakan peneliti itu sendiri, sebagai peneliti yang
mengimput berbagai data penelitian berdasarkan fakta yang ditemui di
masyarakat.
b. Unsur informan yang terdiri atas mahasiswa FKIP universitas
negri haluoleo kendari.
c. Unsur non manusia sebagai data
pendukung penelitian
E.
Teknik Penentuan
Informan
a. Purposif sampling
b. Snowball sampling
c. Triangulasi
F.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini ada beberapa jenis pengumpulan yang
digunakan penulis yaitu:
1. Wawancara,
yang merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung
kepada responden, dalam hal ini kepada mahasiswa Observasi, yang merupakan metode
pengumpulan data dengan cara wawancara dan pencatatan terhadap data yang ditemukan di lapangan. Dalam pelaksanaannya peneliti menggunakan metode wawancara bebas
terpimpin, yaitu peneliti bebas menanyakan apa saja, akan tetapi mempunyai
sederet pertanyaan yang terperinci dalam pola komunikasi langsung. Dalam
penelitian ini yang menjadi sasaran wawancara adalah mahasiswa FKIP UNIVERSITAS
HALUOLEO
Adapun data yang ingin
diperoleh dari metode wawancara adalah bagaimana Fungsi
kepemimpinan yang ab-normal menurut
mahasiswa, Gaya kepemimpinan yang ab-normal, Kinerja
kepemimpinan yang ab-normal, Prilaku
kepemimpinan yang ab-normal, dan Sikap
kepemimpinan yang ab-normal menurut
mahasiswa
2. Studi Dokumen
Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai
hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, prasasti, dan sebagainya
G.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode deskriptif naratif, menurut Miles dan Huberman (1992) yang melalui tiga
alur, yaitu :
1. Reduksi data
Data yang di peroleh di lapangan di analisis
dipilih yang penting, lalu membuat kategori dimana data yang sejenis di
kumpulkan menjadi satu lalu membuang data yang tidak diperlukan
2. Penyajian data
Dilakukan dalam bentuk uraian singkat dengan
tes yang bersifat naratif
3. Penarikan kesimpulan
Dari
kumpulan makna setiap kategori, penulis berusaha mencari esensi dari setiap
tema yang disajikan dalam teks naratif yang berupa fokus penelitian. Setelah
analisis dilakukan, maka penulis dapat menyimpulkan hasil penelitian yang
menjawab rumusan masalah yang telah ditetapkan oleh penulis.
H.
Rncana
pengujian Keabsahan Data
Dalam penelitian ini akan dilakukan pengecekan keabsahan data melalui :
1. Kredibilitas data
Perpanjangan pengamatan,Peningkatan ketekunana
dalam penelitian, triangulasi. Dan member check
2. Dependabilitas data
Melakukan audit terhadap keseluruhan proses
penelitian
3. Konfirmabilitas data
Menguji hasil penelitian dikaitkan dengan
proses yang dilakukan
4. Tranferabilitas data
I.
Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :









