BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dunia usaha dan
indsutri saat ini memegang peranan penting dalam pembangunan. Baik yang
dilakukan oleh pemerintah melalui BUMN maupun oleh pihak swasta. Kesuksesan
suatu perusahaan mampu dicapai dengan manajemen yang baik, yaitu manajemen yang
mampu mempertahankan kontinuitas perusahaan dengan memperoleh laba yang
maksimal, karena pada dasarnya tujuan perusahaan yaitu memaksimumkan kemakmuran
para pemiliknya dan harga pasar sahamnya. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan
jalan pola manajemen yang efisien dan menciptakan rangkaian kerjasama yang
teratur di antara masing-masing bagian yang ada dalam perusahaan tersebut.
Pada
dasarnya setiap perusahaan akan melakukan berbagai aktivitas untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Setiap aktivitas yang dilaksanakan oleh
perusahaan selalu memerlukan dana, baik untuk membiayai kegiatan operasional
sehari-hari maupun untuk membiayai investasi jangka panjangnya. Dana yang
digunakan untuk melangsungkan kegiatan operasional sehari-hari disebut modal
kerja. Modal kerja dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk membiayai kegiatan
operasinya sehari-hari, di mana modal kerja yang telah dikeluarkan itu
diharapkan akan dapat kembali lagi masuk dalam perusahaan dalam waktu yang
pendek melalui hasil penjualan produksinya.
Agar modal kerja
dapat digunakan secara efektif dan efisien, maka perlu adanya penyesuaian
antara modal kerja yang tersedia dengan kebutuhan operasi perusahaan. Modal
kerja sangat erat kaitannya dengan keuntungan atau tingkat profitabilitas
perusahaan. Profitabilitas itu sendiri diukur berdasarkan laba bersih yang
diterima oleh perusahaan. Laba bersih menunjukkan jumlah penjualan atau target
yang dicapai perusahaan dalam satu tahun atau satu periode, sehingga dapat
dijadikan alat ukur terhadap tingkat profitabilitas perusahaan. Banyak perusahaan yang berhasil dalam hal
pengelolaan modal kerja, dan mencapai laba yang maksimal. Namun, ada perusahaan
tertentu yang kurang efisien dalam pengelolaan dan penggunaan modal kerja
sehingga memiliki hambatan dalam memaksimumkan.
Menurut Riyanto
(2001:57), modal kerja adalah nilai aktiva atau
harta yang dapat segera dijadikan uang kas dan digunakan perusahaan untuk
keperluan sehari-hari, misalnya untuk membayar gaji pegawai, pembelian bahan mentah,
membayar ongkos angkutan, membayar hutang dan sebagainya.Perusahaan haruslah
senantiasa melakukan analisis laporan keuangan untuk mengetahui tingkat kesehatan laporan keuangan guna mengajukan
pinjaman kepada kreditor. Untuk mengukur kinerja perusahaan
banyak metode yang bisa digunakan. Metode-metode yang digunakan untuk
mengukur kinerja tersebut salah satunya dengan menggunakan rasio
profitabilitas yang merupakan salah satu rasio untuk mengukur
kinerja keuangan.
Salah satu
pengukur Profitabilitas adalah Return On Investment (ROI). Return On Investment (ROI)
menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
laba dikaitkan dengan dana yang digunakan dalam perusahaan,
maka akan memberikan informasi tentang seberapa besar dari setiap
rupiah dana yang ditanamkan akan menghasilkan laba.
Return On Investment (ROI) merupakan indikator keefektifan penggunaan dana yang digunakan dalam perusahaan. Bagi perusahaan
pada umumnya masalah Return On Investment (ROI)
adalah lebih penting dari pada masalah laba, karena
laba yang besar saja belum merupakan jaminan bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Dengan demikian
yang harus diperhatikan oleh perusahaan ialah tidak hanya
bagaimana usaha untuk memperbesar laba tetapi bagaimana cara untuk
mempertinggi Return On Investmentnya.
Modal kerja ini digunakan perusahaan untuk
membiayai operasi perusahaan. Dana atau uang yang telah keluar untuk membiayai
operasi sehari-hari berputar kembali lagi masuk ke perusahaan melalui hasil
penjualan dan pelayanan jasa yang diberikan. Dengan penjualan dan pelayanan
yang diberikan tersebut perusahaan diharapkan memperoleh keuntungan atau
profit yang akan digunakan lagi sebagai modal kerja berikutnya. Kelebihan
atau kekurangan modal kerja akan menimbulkan kerugian bagi perusahaan, karena
dengan adanya modal kerja yang berlebihan menunjukkan adanya dana yang tidak
produktif.
Sedangkan adanya kekurangan modal kerja akan menghambat
kelancaran operasi perusahaan karena tidak tersedianya dana yang diperlukan
dengan segera. Modal
kerja sangat penting bagi suatu perusahaan, terutama untuk menjalankan
aktivitasnya sehari-hari. Oleh karena itu modal kerja memerlukan perhatian
khusus dari pihak manajemen, dan tindakan hati-hati dalam pengelolaannya agar
perputaran modal kerja dapat terjaga. Dengan manajemen pengelolaan modal kerja
yang baik perusahaan akan bisa berjalan dengan optimal untuk memperoleh laba
sekaligus terus bertahan pada masa-masa yang akan datang.
Modal kerja akan senatiasa berputar selama
perusahaan menjalankan kegiatan operasinya. Periode perputarannya dimulai pada
saat kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai berubah
menjadi kas kembali. Cepat lambatnya perputaran modal kerja akan mempengaruhi
kelancaran operasi perusahaan dalam menghasilkan laba dan meningkatkan
rentabilitas, di mana salah satu rasio rentabilitas adalah ROI.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan di atas, maka masalah dalam penulisan makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan dengan modal?
2. Apa yang dimaksud dengan modal kerja?
3. Apa yang dimaksud dengan profitabilitas?
C.
Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dengan
modal.
2. Untuk mengetahui
apa yang dimaksud dengan modal kerja.
3. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan
profitabilitas.
D.
Manfaat Penulisan
Secara Teoritis, sebagai
bahan referensi khususnya untuk penulisan karya ilmiah dengan topik yang sama
dan hasil penulisan ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran untuk penulisan yang lebih
mendalam. Secara Praktis, yaitu hasil penulisan ini diharapkan dapat
menjadi sebuah masukan terhadap mahasiswa
lain untuk lebih meningkatkan lagi pemahamannya tentang modal kerja & profitabilitas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Deskripsi Teori
1. Pengertian
Modal
Dalam
menjalankan aktivitasnya setiap perusahaan selalu membutuhkan sejumlah dana
tertentu atau biasa disebut modal. Modal dalam suatu perusahaan mempunyai
peranan yang sangat vital, karena dibutuhkan dalam pendirian maupun operasional
perusahaan, karena itu berhasil atau tidaknya aktivitas suatu perusahaan salah
satunya ditentukan oleh modal. Modal merupakan hak atau bagian yang dimiliki
perusahaan. Modal yang dimiliki perusahaan berbeda-beda tergantung dari jenis
usaha setiap perusahaan. Maka dari itu, dibutuhkan pengelolaan modal yang
tepat, yaitu pengelolaan yang dapat menentukan seberapa besar alokasi dana
untuk masing-masing modal sesuai dengan bidang usaha dari perusahaan tersebut.
Bambang
Riyanto (2007 : 17) mengemukakan beberapa definisi modal: Pengertian modal yang
klasik, dimana arti modal ialah sebagai “hasil
produksi yang digunakan untuk memproduksi lebih lanjut”. Dalam perkembangannya
kemudian ternyata pengertian modal mulai bersifat “non- physical oriented”,
dimana antara lain pengertian modal ditekankan pada nilai, daya beli atau
kekuasaan memakai atau menggunakan yang terkandung dalam barang-barang modal,
meskipun dalam hal ini juga sebenarnya belum ada persesuaian pendapat diantara
para ahli ekonomi sendiri.
Berdasarkan
pendapat tersebut, modal memiliki pengertian yang berbeda- beda tergantung
kepada sudut pandangnya masing-masing. Apabila dilihat dari sudut pandang
ekonomi, modal ini lebih bertitik tolak kepada unsur kekayaan perusahaan.
Sedangkan dari sudut pandang pengusaha, modal dapat diartikan sebagai surat
berharga seperti modal saham, obligasi, hipotek, dan sebagainya. Namun dari
berbagai pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan modal
adalah kekayaan yang dimiliki perusahaan yang dipakai untuk proses produksi
lebih lanjut.
2. Jenis-jenis Modal
Bambang
Riyanto (2007 : 19) memaparkan jenis-jenis modal sebagai berikut:
1)
Modal
Asing. Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang sifatnya
sementara bekerja di dalam perusahaan, dan bagi perusahaan yang bersangkutan
modal tersebut merupakan utang, yang pada saatnya harus di bayar kembali. Modal
asing di bagi ke dalam tiga golongan yaitu utang jangka pendek, utang jangka
menengah dan utang jangka panjang.
2)
Modal
Sendiri. Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik
perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang tidak
tertentu lamanya. Oleh karena itu modal sendiri di tinjau dari sudut likuiditas
merupakan “dana jangka panjang yang tidak tertentu waktunya”. Modal sendiri
selain berasal dari luar perusahaan dapat juga berasal dari dalam perusahaan
sendiri, yaitu modal yang dihasilkan dan dibentuk sendiri di dalam perusahaan.
Modal sendiri yang berasal dari sumber intern ialah dalam bentuk keuntungan
yang dihasilkan perusahaan. Adapun modal yang berasal dari sumber ekstern ialah
modal yang berasal dari pemilik perusahaan. Modal sendiri di dalam suatu
perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT) terdiri dari modal saham,
cadangan dan laba ditahan.
Berdasarkan
pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa modal dibagi menjadi dua jenis,
yaitu modal asing dan modal sendiri. Dimana modal asing merupakan modal yang
berasal dari luar perusahaan dan pada akhirnya modal tersebut harus
dikembalikan, atau biasa disebut dengan hutang perusahaan. Sedangkan modal
sendiri merupakan modal yang berasal dari pemilik perusahaan dan menjadi
tanggungan terhadap keseluruhan resiko perusahaan. Jika dilihat dari sudut
neraca, modal asing adalah unsur-unsur yang ada dalam liabilities
sementara modal sendiri berada pada pada sisi ekuitas. Perimbangan atau
perbandingan antara kedua golongan modal tersebut dalam suatu perusahaan akan
menentukan “struktur finansial” dari perusahaan tersebut
3. Pengertian
Modal Kerja
Sama halnya dengan pengertian modal, modal kerja pun memiliki
beragam pengertian yang berbeda. Bambang Riyanto (2007 : 20) menyatakan bahwa
“pengertian modal kerja dimaksudkan sebagai jumlah keseluruhan aktiva lancar.”
Pengertian tersebut sama dengan pengertian modal kerja yang dinyatakan oleh
Susan Irawati (2006 : 89) bahwa “modal kerja merupakan investasi perusahaan
dalam bentuk aktiva lancar atau current assets.” Kasmir (2008:250) mendeskripsikan modal kerja sebagai berikut:
Modal kerja merupakan modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi
perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam
aktiva lancar/ aktiva jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat berharga,
piutang, sediaan, dan aktiva lancar lainnya.
Sementara itu Lawrence J Gitman (2006:628) menyatakan bahwa
“current assets,commonly called working capital, represent the portion of
investment that circulates from one form to another in the ordinary conduct of
business”. Definisi lain dikemukakan Lukman Syamsuddin (2007:200) yakni “modal
kerja berhubungan dengan current account (perkiraan aktiva lancar dan
utang lancar) perusahaan”. Dari berbagai
definisi modal kerja diatas, modal kerja sangat identik dengan aktiva lancar.
Aktiva lancar atau current assets sendiri adalah kekayaan perusahaan
yang secara fisik bentuknya berubah dalam suatu kegiatan proses produksi yang
habis dalam satu kali pemakaian dan dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai
kembali dalam jangka pendek yaitu waktu kurang dari satu tahun
4. Konsep
Modal Kerja
Riyanto (2001:57-58) mengemukakan konsep modal kerja yang biasa digunakan untuk
analisis, yaitu:
1.
Modal
Kerja Kuantitatif.
Konsep ini menitikberatkan
pada segi kuantitas dana yang tertanam dalam aktiva yang masa perputarannya
kurang satu tahun. Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan elemen
aktiva lancar. Oleh karena semua elemen aktiva lancar diperhitungkan sebagai
modal kerja tanpa memperhatikan kewajiban-kewajiban jangka pendeknya, maka
modal kerja ini sering disebut modal kerja bruto atau gross working capital.
2.
Modal
Kerja Kualitatif. Pada konsep ini, modal kerja bukan semua aktiva
lancar tetapi telah mempertimbangkan kewajiban-kewajiban yang segera harus
dibayar. Dengan demikian dana yang digunakan benar-benar khusus digunakan untuk
membiayai operasi perusahaan sehari-hari tanpa khawatir terganggu oleh
pembayaran-pembayaran hutang yang segera jatuh tempo.
3.
Modal
Kerja Fungsional. Konsep ini lebih menitik beratkan pada fungsi
dana dalam menghasilkan penghasilan langsung atau current income. Dan
pengertian modal kerja menurut konsep ini adalah dana yang digunakan oleh
perusahaan untuk menghasilkan current income sesuai dengan tujuan
didirikannya perusahaan pada satu periode tertentu.
5. Jenis-Jenis
Modal Kerja
Menurut A.
W. Taylor (Dalam Riyanto, 2001:60-61)
menyatakan bahwa modal kerja bisa dikelompokkan ke dalam dua jenis sebagai
berikut:
- Modal Kerja Permanen
Modal kerja permanen adalah modal kerja yang
selalu harus ada dalam perusahaan agar dapat menjalankan kegiatannya untuk
memenuhi kebutuhan konsumen. Modal kerja permanen dibagi menjadi dua macam
yakni:
a. Modal Kerja Primer. Modal
kerja primer adalah modal kerja minimal yang harus ada dalam perusahaan untuk menjamin agar perusahaan
tetap bisa beroperasi.
b. Modal Kerja Normal. Merupakan
modal kerja yang harus ada agar perusahaan bias
beroperasi dengan tingkat produksi normal.
2.
Modal
Kerja Variabel
Modal kerja variabel adalah
modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kegiatan
ataupun keadaan lain yang mempengaruhi
perusahaan atau berfluktuasi berdasarkan volume produksi atau penjualan. Modal kerja variabel terdiri dari:
a. Modal Kerja Musiman. Merupakan
sejumlah dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi apabila ada fluktuasi
kegiatan perusahaan, misalnya perusahaan biscuit harus menyediakan modal kerja
lebih besar pada saat musim hari raya.
b. Modal Kerja Siklus. Adalah
modal kerja yang jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh fluktuasi konjungfur.
c. Modal Kerja Darurat. Modal
kerja ini jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh keadaan- keadaan yang terjadi
diluar kemampuan perusahaan. Sebuah usaha akan sehat apabila posisi modal kerjanya stabil,
artinya dari dua jenis
modal kerja di atas tersedia.
Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam
satu periode belum tentu sama. Hal ini disebabkan oleh berubah-ubahnya proyeksi
volume produksi yang akan dihasilkan oleh perusahaan. Perubahan itu sendiri
kemungkinan disebabkan adanya permintaan yang tidak sama dari waktu ke waktu.
Oleh karena itu kebutuhan modal kerja juga mengalami perubahan.
6. Komponen
Modal Kerja
Modal kerja yang dibahas disini adalah modal kerja dalam konsep
kualitatif, yaitu modal kerja neto (net working capital) yang merupakan
kelebihan antara aktiva lancar di atas utang lancarnya.
Komponen modal kerja mencakup aktiva lancar dan utang lancar, yang
dijelaskan sebagai berikut:
1. Aktiva Lancar.
Munawir (2004:14) menyatakan pengertian aktiva lancar sebagai
berikut: Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan
untuk dicairkan atau ditukarkan menjadi uang tunai, dijual atau dikonsumer
dalam periode berikutnya (paling lama satu tahun atau dalam perputaran kegiatan
perusahaan yang normal.
Yang termasuk aktiva lancar adalah:
a. Kas (Cash). Uang tunai dan alat pembayaran lainnya yang digunakan untuk
membiayai operasi perusahaan. Uang tunai dan alat pembayaran itu terdiri dari
uang logam, uang kertas, cek, dan lain-lain. Kas merupakan bentuk aktiva yang
paling likuid yang bisa dipergunakan segera untuk memenuhi kewajiban financial
perusahaan, karena sifat likuidnya tersebut kas memberikan keuntungan yang
paling rendah.
b. Investasi
Jangka Pendek (Temporary Investment). Obligasi pemerintah,
obligasi perusahaan indusri, dan surat-surat utang sejenis, dan saham
perusahaan lain yang dibeli untuk dijual kembali dikenal sebagai investasi
jangka pendek. Surat-surat berharga yang dibeli sebagai investasi jangka pendek
dari dana-dana yang sementara belum digunakan, dan bila surat-surat berharga
tersebut dapat segera dijual, maka dapat dianggap sebagai aktiva lancar.
Surat-surat berharga tersebut dimiliki untuk jangka pendek dengan maksud untuk
diperjualbelikan (trading securities). Jenis dari investasi jangka
pendek ini adalah efek (marketable securities).
c. Wesel Tagih
(Notes Receivable). Tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan
dalam suatu promes. Promes tagih adalah promes yang ditandatangani untuk
membayar sejumlah uang dalam waktu tertentu yang akan datang kepada seseorang
atau suatu perusahaan yang tercantum dalam surat perjanjian tersebut (nama
perusahaan yang memegang surat tersebut).
d. Piutang
Dagang (Accounts Receivable). Piutang dagang
meliputi keseluruhan tagihan atas langganan perseorangan yang timbul karena
penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit. Kebijakan penjualan kredit
sengaja dilakukan untuk memperluas pasar
dan memperbesar hasil penjualan. Dengan kebijakan penjualan kredit ini juga
akan menimbulkan resiko bagi perusahaan akan tidak dapat ditagihnya sebagian
atau bahkan mungkin seluruh dari piutang tersebut.
e. Penghasilan Yang
Akan Masih Diterima (Account Receivable). Penghasilan yang
sudah menjadi hak perusahaan karena telah memberikan jasa-jasanya kepada pihak
lain, tetapi pembayarannya belum diterima sehingga merupakan tagihan.
f. Persediaan
Barang (Inventories). Barang dagangan yang dibeli untuk dijual
kembali, yang masih ada di tangan pada saat penyusunan neraca. Untuk perusahaan
industri yang mengolah bahan dasar menjadi barang jadi, mempunyai tiga
persediaan yakni persediaan bahan dasar atau bahan baku, persediaan barang
dalam proses, dan persediaan barang jadi.
g. Biaya Yang
dibayar dimuka ( Prepaid Expense). Pengeluaran untuk
memperoleh jasa dari pihak lain, tetapi pengeluaran tersebut belum menjadi
biaya atau jasa dari pihak lain yang belum dinikmati oleh perusahaan pada
periode yang sedang berjalan. Contohnya yaitu biaya sewa yang dibayar di muka
dan biaya iklan yang dibayar di muka.
2. Hutang
Lancar
Munawir (2004:18) mengemukakan pengertian hutang lancar sebagai
berikut: Hutang lancar atau hutang jangka pendek adalah kewajiban keuangan
perusahaan yang pelunasannya atau pembayaran akan dilakukan
dalam jangka pendek (satu tahun sejak tanggal neraca) dengan menggunakan aktiva
lancer yang dimiliki oleh perusahaan. Hutang lancar merupakan kewajiban
perusahaan kepada pihak lain yang harus dipenuhi dalam jangka waktu kurang dari
satu tahun, atau utang yang jatuh temponya masuk siklus akuntansi yang sedang
berjalan.
Yang termasuk hutang lancar adalah sebagai berikut:
a. Wesel Bayar
(Notes Payable) Wesel bayar adalah promes tertulis dari perusahaan untuk
membayar sejumlah uang atau perintah pihak lain pada tanggal tertentu yang akan
datang yang ditetapkan (utang wesel). Promes dapat diberikan kepada bank ketika
perusahaan meminjam uang atau kepada kreditur untuk pembelian barang dagangan
secara kredit.
b. Hutang
Dagang (Account Payable) Hutang Dagang Adalah semua
pinjaman yang timbul karena pembelian barang-barang dagangan atau jasa secara
kredit. Pinjaman tersebut akan dikembalikan dalam waktu satu tahun atau kurang
(jangka waktu operasi perusahaan yang normal).
c. Penghasilan Yang
Ditangguhkan (Differed Revenue) Penghasilan yang diterima terlebih
dahulu merupakan penghasilan yang sebenarnya yang belum menjadi hak perusahaan.
Pihak lain telah menyerahkan uang terlebih dahulu kepada perusahaan sebelum
perusahaan menyerahkan barang atau jasanya (perusahaan berkewajiban untuk
memenuhinya). Penghasilan baru direalisasi bila jasa-jasa telah dipenuhi atau
transaksi penjualan telah selesai.
d. Hutang Dividen
(Divident Payable) Hutang dividen merupakan bagian laba
perusahaan yang diberikan sebagai deviden kapada pemegang saham, tetapi belum
dibayarkan ketika neraca disusun.
e. Hutang Pajak
(Tax Payable) Beban pajak perseroan yang belum dibayarkan pada waktu
neraca disusun.Kewajiban Yang Masih Harus Dipenuhi (Accrual Payables)
Kewajiban yang timbul karena jasa-jasa yang diberikan kepada
perusahaan selama jangka waktu tertentu, tetapi pembayarannya belum
dilakukan.Misalnya: upah, bunga, sewa, pensiun dan lain-lain.
7. Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Jumlah Modal Kerja
Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu
perusahaan bukanlah merupakan hal yang mudah, karena modal kerja yang
dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa
faktor.
Munawir (2004:117) menyatakan bahwa besarnya modal kerja yang
dibutuhkan oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai
berikut:
1) Sifat atau
tipe dari perusahaan
2) Waktu yang
dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang yang akan dijual serta
harga per satuan dari barang tersebut.
3) Syarat
pembelian bahan atau barang dagangan
4) Syarat
penjualan
5) Tingkat
perputaran persediaan.
8. Pentingnya Modal Kerja Yang Cukup
Modal kerja
sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar memungkinkan
perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan keuangan. Misalnya dapat menutup kerugian dan
mengatasi keadaan krisis atau
darurat tanpa membahayakan keuangan perusahaan.
Menurut Munawir (2004:116) manfaat lain dari tersedianya modal
kerja yang cukup adalah
sebagai berikut :
1.
Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunnya nilai
aktiva lancar, seperti adanya kerugian
karena debitur tidak membayar, turunnya nilai persediaan karena harganya
merosot.
2.
Memungkinkan
perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendek tepat pada
waktunya.
3.
Memungkinkan
perusahaan untuk dapat membeli barang dengan tunai sehingga dapat mendapatkan
keuntungan berupa potongan harga.
4.
Menjamin
perusahaan memiliki kredit standing dan dapat mengatasi peristiwa yang tidak
dapat diduga seperti kebakaran, pencurian dan sebagainya.
5.
Memungkinkan
untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup guna melayani permintaan
konsumennya.
6.
Memungkinkan
perusahaan dapat memberikan syarat kredit yang menguntungkan kepada pelanggan.
7.
Memungkinkan
perusahaan dapat beroperasi denan lebih efisien karena tidak ada kesulitan
dalam memperoleh bahan baku biasa dan supply yang dibutuhkan.
8.
Memungkinkan
perusahaan mampu bertahan dalam posisi resesi atau depresi.
Di luar kondisi
diatas, yakni adanya modal kerja yang berlebihan dan terjadinya
kekurangan modal kerja, keduanya merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Modal kerja yang
berlebihan menunjukkan pengelolaan
dana yang tidak efektif disamping akan menimbulkan keburukan- keburukan seperti, dapat menimbulkan
pemborosan-pemborosan, investasi- investasi
pada cabang yang tidak diinginkan dan kerugian bunga karena saldo bank yamg tidak digunakan.
9. Sumber Modal Kerja
Modal kerja yang permanen seharusnya atau sebaiknya dibiayai oleh perusahaan atau para pemegang saham. Semakin besar
jumlah modal kerja yang dibiayai atau berasal dari investasi pemilik perusahaan
akan semakin baik bagi perusahaan tersebut karena akan semakin besar jaminan
bagi kreditur jangka pendek.
Munawir (2004:120)
menyatakan bahwa pada umumnya modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari:
1. Hasil Operasi Perusahaan Adalah jumlah net income yang tampak dalam laporan
perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. Jumlah ini
menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari operasi perusahaan.
2. Keuntungan Dari Penjualan Surat-Surat Berharga
(Investasi Jangka Pendek). Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka
pendek adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan
menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualan surat-surat
berharga ini mengakibatkan perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk
surat berharga menjadi uang kas.
3. Penjualan Aktiva Tidak Lancer.Sumber lain yang
dapat menambah modal kerja adalah hasil dari penjualan aktiva tetap. Investasi
jangka panjang dan aktiva tidak lancar lainnya yang tidak diperlukan lagi oleh
perusahaan. Perubahan dari aktiva ini menjadi kas atau piutang menyebabkan
bertambahnya modal kerja sebesar jumlah penjualan tersebut.
4. Penjualan Saham Atau Obligasi. Untuk menambah dana
atau modal kerja yang diperlukan, perusahaan dapat pula mengadakan emisi saham
baru atau meminta kepada para pemilik perusahan untuk menambah modalnya,
disamping itu perusahaan juga dapat mengeluarkan obligasi atau bentuk utang
jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Penjualan
obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap,
oleh karena itu dalam mengeluarkan utang dalam bentuk obligasi harus disesuaikan
dengan kebutuhan perusahaan.
B.
Profitabilitas
1.
Pengertian
Profitabilitas
Tujuan akhir yang ingin dicapai perusahaan yang terpenting adalah
memperoleh laba atau keuntungan yang maksimal, disamping hal-hal lainnya.
Namun, menilai kinerja perusahaan kurang tepat apabila hanya dilihat dari
perkembangan laba saja, karena laba yang besar belumlah merupakan ukuran
perusahaan tersebut telah bekerja secara efektif dan efisien, yang lebih
terpenting lagi adalah melihat perkembangan profitabilitas yang semakin
meningkat.
2.
Rasio
Pengukur Profitabilitas
Profitabilitas digunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal
kerja dalam suatu perusahaan. Menurut Kasmir ( 2008:199-208) rasio
profitabilitas terdiri dari :
1)
Profit Margin ( Profit Margin on Sales)
a. Untuk Margin
Laba Kotor
Rasio ini
merupakan cara untuk penetapan harga pokok penjualan.
b. Untuk Margin
Laba Bersih
Rasio ini
menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.
2) Return on Investment (ROI)
Return
on Investment atau Return on Total Assets merupakan rasio yang menunjukkan
hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan.
Semakin kecil (rendah) rasio ini, semakin kurang
baik, demikian pula sebaliknya. Artinya ratio ini digunakan untuk mengukur
efektifitas dari keseluruhan operasi perusahaan.
3) Return on
Equity atau rentabilitas
modal sendiri merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan
modal sendiri. Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri.
Semakin tinggi rasio ini, semakin baik. Artinya
posisi pemilik perusahaan semakin kuat, demikian pula sebaliknya.
Rasio
profitabilitas adalah rasio yang mengukur dan mengevaluasi tingkat pendapatan
perusahaan dalam hubungannya dengan volume penjualan, jumlah aktiva dan
investasi tertentu dari pemilik perusahaan, Syamsuddin(2002;53). Sedangkan
menurut Harahap (2004:304) dalam Frinandy (2007), rasio profitabilitas
menggambarkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba melalui semua
kemampuan, dan sumber daya yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal,
jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya.
Salah satu
ukuran yang digunakan penulis sehubungan dengan masalah dalam penelitian ini
adalah Return on Investment (ROI). ROI merupakan pengukuran kemampuan
perusahaan secara keseluruhan dalam menghasilkan laba dengan jumlah keseluruhan
modal yang tersedia di dalam perusahaan, Syamsuddin(2002:63).
Pada intinya
profitabilitas suatu perusahaan merupakan gambaran yang mengukur seberapa mampu
perusahaan menghasilkan laba dari proses operasional yang telah dilaksanakan
untuk menjamin kelangsungan perusahaan di masa yang akan datang,
Ekadini(2010:24).
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Adanya
modal kerja yang cukup sangat penting bagi suatu perusahaan, karena dengan modal kerja yang cukup memungkinkan bagi perusahaan tersebut untuk dapat beroperasi
dangan seekonomis mungkin dan perusahaan tidak mengalami kesulitan atau menghadapi bahaya-bahaya yang mungkin
timbul karena adanya krisis keuangan. Untuk menghindari agar perusahaan
tidak mengalami kesulitan maka diperlukan
suatu manajemen
modal kerja yang tepat, agar dapat mengoptimalkan beberapa
sumber dana yang dimiliki oleh perusahaan. Karena
adanya
manajemen dalam modal kerja
merupakan sumber utama kegagalan dalam suatu perusahaan.
Bagi
perusahaan yang berorientasi kepada laba (profit oriented), mendapatkan laba adalah tujuan utama untuk menjamin
kelangsungan hidup perusahaan. Namun,
penilaian terhadap percapaian laba yang besar saja kurang tepat,
yang lebih penting lagi adalah mencapai tingkat profitabilitas yang tinggi. Hal ini dikarenakan laba yang besar tidak menjamin perusahaan
tersebut dapat
bekerja dengan efektif dan
efisien. Untuk itu, diperlukan suatu rasio yang digunakan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan
atau laba dengan aktiva atau modal yang dimilikinya. Rasio tersebut adalah rasio profitabilitas.
Profitabilitas
adalah perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang
menghasilkan laba tersebut. Semakin tinggi profitabilitas menunjukkan kinerja yang baik dalam mengelola modal kerja yang dimiliki
perusahaan dengan efektif dan efisien
sehingga memperoleh laba yang maksimal.Profitabilitas dapat diukur dengan
menggunakan Return On Investment (ROI). Kemampuan memperoleh laba dapat ditunjukan oleh Return
On
Investment (ROI) yang dicapai perusahaan. Hal ini sesuai dengan
pendapat
Besarnya
ROI dipengaruhi oleh dua faktor yaitu turnover dari operating assets
dan profit margin. Profit margin yaitu perbandingan antara net
operating income dengan net sales. Besar kecilnya
profit margin ditentukan oleh dua faktor yaitu
net sales dan laba usaha. Operating assets turnover merupakan rasio
antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi (operating
assets) terhadap jumlah penjualan bersih yang
diperoleh selama periode tertentu. Tinggi rendahnya operating
assets turnover selama
periode tertentu ditentukan oleh dua faktor yaitu net
sales dan operating
assets yang terdiri dari modal kerja dan aktiva tetap.
Berdasarkan cara pengukuran ROI di atas dapat disimpulkan bahwa
laba bersih dan jumlah aktiva mempengaruhi ROI.
Aktiva yang digunakan sebagai modal kerja untuk membiayai
operasional perusahaan. Aktiva yang digunakan sebagai modal kerja tersebut akan memudahkan perusahaan dalam
kegiatannya, sehingga keuntungan optimal bisa dicapai oleh
perusahaan yang nantinya berdampak pada naiknya ROI perusahaan.
B.
Saran
Penulis menyarankan kepada seluruh pihak yang berkepentingan yang
terutama bagi para pembaca atau mahasiswa untuk mencari referensi lain yang
lebih relevan mengenai materi yang berkaitan tentang modal kerja dan
profitabilitas perusahaan agar wawasannya lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.
2002. Prosedur Penelitian : Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta
Ekadini. 2010. Analisis
Penggunaan Modal Kerja dan Pengaruhnya terhadap tingkat Profitabilitas pada PT.
Semen Tonasa Pangkep. Skripsi tidak diterbitkan.Makassar : FE-UIN.
Firnady, Frans. 2007.
Analisis Hubungan Modal Kerja terhadap Profitabilitas pada PT. Pola Indah Gas. Skripsi diterbitkan.Medan : FE-USU.
Gunawan, Ruslan. 2000.
Analisis Kebutuhan Modal Kerja dan Keterkaitannya dengan Keuntungan pada PT.
Semen Tonasa di Pangkep. Skripsi tidak
diterbitkan.Makassar : FE-UH.
Husnan, Suad dan Enny
Pudjiastuti. 1997. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Cetakan Kelima. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.
Kartadinata, Abas. 1983.
Analisa Belanja (Dasar-dasar Perhitungan
dalam keputusan keuangan). Edisi
pertama, cetakan pertama.Jakarta : Bina Aksara.
Kesuma, Ali. 2007.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Serta Pengaruhnya Terhadap
Harga Saham Perusahaan Real Estate yang Go Public di Bursa Efek Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Manajemen.
Kalimantan Tengah :Universitas Darwan Ali Sampit.
Kosasih, Engkos dan
Hananto.2007. Manajemen Keuangan &
Akuntansi Perusahaan.Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada
Riyanto, Bambang. 2000. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Edisi Keempat. Yogyakarta : Yayasan
Penerbit Gajah Mada.
Sawir, Agnes. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan
Keuangan Perusahaan.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.








