Monday, 1 August 2016
SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.
Posted by Bisnis Pulsa On 16:36
SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.
Posted by Bisnis Pulsa On 16:28
Share Multiple Items
SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.
SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.
ABSTRAK
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kualitas jasa Pelayanan karyawan pada
PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, serta untuk mengetahui kepuasan
pelanggan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari.
Populasi penelitian
ini adalah seluruh pelanggan atau nasabah PT. TASPEN (Persero) Kota
Kendari yang berjumlah 77.090 orang yang kemudian di ambil sampel
penelitian sebanyak 52 orang. Penarikan sampel ditentukan dengan teknik
purposive sampling atau secara sengaja oeleh peneliti sehingga jumlah
sampel yaitu 52. Adapun informan penelitian meliputi Kepala Cabang, PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari, Kasub Bagian Personalia dan Umum dan 3
orang Karyawan.
ini bertujuan untuk mengetahui kualitas jasa Pelayanan karyawan pada
PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, serta untuk mengetahui kepuasan
pelanggan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari.
Populasi penelitian
ini adalah seluruh pelanggan atau nasabah PT. TASPEN (Persero) Kota
Kendari yang berjumlah 77.090 orang yang kemudian di ambil sampel
penelitian sebanyak 52 orang. Penarikan sampel ditentukan dengan teknik
purposive sampling atau secara sengaja oeleh peneliti sehingga jumlah
sampel yaitu 52. Adapun informan penelitian meliputi Kepala Cabang, PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari, Kasub Bagian Personalia dan Umum dan 3
orang Karyawan.
Kualitas jasa
atau Pelayanan yang diberikan pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
dalam kategori baik. Dimana berdasarkan hasil penelitian pegawai mampu
memberikan pelayanan yang jelas dan tidak berbelit-belit.
Kemudian
dari dimensi efesiensi, aparat memiliki keterampilan yang cukup dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan. Kemudian dari dimensi keadilan,
aparat memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan masyarakat. Serta
aparat sudah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan organisasi.
Kepuasan pelanggan pada ruang lingkup PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari bisa dikatakan memuaskan. Hal ini
ditunjukkan melalui kepuasan pelanggan terhadap produk dan jasa yang
diberikan karyawan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, selain itu
pelanggan PT. TASPEN (Persero) tidak mengeluhkan pelayanan yang
diberikan. Dan yang terakhir pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
memberikan jasa kepada masyarakat dalam lingkup PT. TASPEN (Persero)
Kota Kendari tidak beerubah-ubah.
atau Pelayanan yang diberikan pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
dalam kategori baik. Dimana berdasarkan hasil penelitian pegawai mampu
memberikan pelayanan yang jelas dan tidak berbelit-belit.
Kemudian
dari dimensi efesiensi, aparat memiliki keterampilan yang cukup dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan. Kemudian dari dimensi keadilan,
aparat memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan masyarakat. Serta
aparat sudah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan organisasi.
Kepuasan pelanggan pada ruang lingkup PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari bisa dikatakan memuaskan. Hal ini
ditunjukkan melalui kepuasan pelanggan terhadap produk dan jasa yang
diberikan karyawan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, selain itu
pelanggan PT. TASPEN (Persero) tidak mengeluhkan pelayanan yang
diberikan. Dan yang terakhir pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
memberikan jasa kepada masyarakat dalam lingkup PT. TASPEN (Persero)
Kota Kendari tidak beerubah-ubah.
Untul lebih lengkapnya silahkan download di bawah ini:
Thursday, 28 July 2016
Thursday, 21 July 2016
TEORI AKUNTANSI : KONSEP LABA
Posted by Bisnis Pulsa On 10:43
KONSEP LABA
1.
POLEMIK TENTANG LABA
Sebelum kita masuk dalam membahas konsep laba berikut ini
penulis akan mengemukakan sebuah polemic yang dimuat dalam surat pembaca TEMPO 9 Desember 1989 antara penulis dengan Kwik Kian Gie yang
menyangkut perbedaan persepsi tentang konsep laba. Berikut ini adalah polemic
tersebut :
Semula menurut hasil wawancara TEMPO dengan Kwik Kian Gie yang dimuat TEMPO edisi 25 November 1989 di Rubrik
Ekonomi & Bisnis dengan judul “Tidak
Cukup Dengan Iktikad Baik”, memuat tanggapan beliau tentang posisi AGIO SAHAM. Beliau berpendapat bahwa
Agio Saham adalah laba karena empat pokok alasan yakni :
1.
Perusahaan biasanya minta agio
dengan alasan akan membagikan keuntungan dikemudian hari.
Jawaban Penulis :
Alasan ini tidak mudah untuk
menopang pendapat agio sebagai laba. Penulis berpendapat agio bukan diminta
melainkan muncul dari perbedaan harga jual saham dengan harga nominal yang
telah dibayar oleh investor. Tentu setelah mempertimbangkannya secara rasional.
Alasan membagikan dikemudian hari juga tidak dapat menguatkan bahwa agio adalah
laba. Pembagian keuntungan sebenarnya bukan didasarkan pada agio atau diluar
laba, baik laba ditahan maupun laba tahun berjalan. “Membagikan keuntungan”
mempunyai arti bahwa yang dibagi adalah untung (laba)bukan yang lain. Dan
bagian tersebut diberikan berupa kas atau aktiva jenis lainnya.
2. Prinsip
akuntansi secara ketat menetapkan agio harus dicantumkan secara terpisah,
karena agio bukan modal saham.
Jawaban Penulis:
Pencantuman agio saham secara
terpisah dari perkiraan modal saham berarti bahwa setiap pos yang dipisahkan
dari modal otomatis dianggap sebagai laba. Pemisahan itu adalah untuk
melaksanakan prinsip full dislosurc. Agio Saham adalahmerupakan unsure modal
setor (paid in capital) yang terdiri dari modal saham nominal ditambah dengan
agio saham tadi. Yang benar, prisip akuntansi secara ketat haqqul yakin
menganggap agio bukan laba.
3. Agio
juga merupakan laba. Perusahaan boleh membagi deviden dari agio saham.
Jawaban Penulis :
Deviden adalah bagian laba yang
diterima oleh pemilik perusahaan. Pembagian deviden ini didasarkan pada laba,
bak laba ditahan maupun laba tahun berjalan. Secar teoritis tanpa laba tidak
aka nada deviden. Namun, di Indonesia sering terjadi deviden sudah dijamin,
kendati perhitungan laba rugi perusahaan belum final. Ini terjadi karena
praktek pasarmodal kita masih belum sepenuhnya diatur pasar.
4. Agio
boleh langsung dikantongi emiten.
Jawaban Penulis :
Ini sangat absurd. Laba tidak sama dengan “penerimaan kas”.
Kalau Kwik menganggap setiap yang dikantongi perusahaan adalah laba, yang
paling senang adalah Fiskus, karena pemasukan pajak akan sangat deras.
Pengertian laba
yang paling diterima umum menurut kami yakni laba menurut akuntansi. Bahkan
dalam akuntansi sendiri konsep laba itu bervariasi. Menurut akuntansi, laba
berasal dari perbedaan antara penghasilan dan biaya. Penghasilan adalah
kenaikan aktiva atau penurunan aktiva atau penurunan kewajiban akibat penjualan
barang atau jasa perusahaan.. Sedang biaya adalah penurunan aktiva atau
kenaikan kewajiban akibat aktivitas produksi (pembelian, penjualan barang atau
jasa perusahaan). Laba rugi adalah penghasilan dikurangi biaya.
Laba adalah kenaikan asset dalam satu periode akibat kegiatan produktif yang
dapat dibagi atau didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham
(dalam bentuk bunga, pajak, dan deviden) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas
pemegang saham semula. Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi
sekarang ini adalah laba akuntansi yang merupakan selisih antara pengukuran
pendapatan dan biaya. Besar kecilnya laba sebagai kenaikan aktiva sangat
tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Jadi dalam hal ini
laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak dapat didefinisikan tersendiri
secara ekonomik seperti halnya aktiva dan atau hutang.
Dari definisi
ini, akuntansi menganggap bahwa agio sebagai unsur harga saham bukan laba. Itu
hanya penerimaan kas menjadi laba, kendati untuk mengakui laba harus ada
penerimaan kas.
Untuk menghitung
laba masing-masing orang dapat menetukan perhitungan laba tersendiri. Kenapa
perlu diketahui jumlah laba ini? Laba ini adalah merupakan informasipenting
dalam suatu laporan keuangan. Angka ini penting untuk :
1.
Perhitungan
pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan diterima Negara.
2. Untuk menghitung deviden yang kan dibagikan
kepada pemilik dan yang kan ditahan dalam perusahaan.
3. Sebagai pedoman dalam menentukan
kebijaksanaan investasi dan pengambilan keputusan.
4. Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun
kejadian ekonomi perusahaan lainnya di masa yang akan datang.
5. Sebagai dasar dalam perhitungan dan penilaian
efisiensi.
6. Untuk menilai prestasi atau kinerja
perusahaan/segmen perusahaan divisi.
Dalam akuntansi yang memiliki konsep perhitungan laba juga
dikenal perbedaan pandangan dalam menghitung laba (income). Dibawah ini
ada empat pendapat, yaitu :
1. Pemikiran klasik yang berpedoman
pada postulat unit of measure dan prinsip historical cost yang
sering disebut historical cost accounting atau conventional
accounting sebagaimana yang kita anut saat ini. Konsep ini dinamakan konsep
laba accounting income.
2. Pemikiran neo klasik yang
mengubah postulat unit of measure dengan menerapkan perhitungan
perubahan tingkat harga unum (general price level) dan tetap
mempertahankan prinsip historical cost. Konsep ini dikenal dengan
istilah general price level adjusted historical cost accounting (GPLA
Historical Accounting). Dan perhitungan labanya disebut GPLA Accounting
Income.
3. Pemikiran radikal, yang memilih
harga sekarang (current value) sebagai dasar penilaian bukan historical
cost lagi. Konsep ini dikenal dengan current value accounting sedang
perhitungan labanya disebut current income.
4. Pemikiran neo radikal, yang
menggunakan current value tetapi disesuaikan dengan perubahan tingkat
harga umum. Konsep ini disebut GPLA Current Value Accounting sedangkan
perhitungan labanya disebut Adjusted Current Income.
2. Laba
Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income)
Menurut akuntansi yang dimaksud dengan laba akuntansi adalah
perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi pada
periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikleuarkan pada periode
tersebut. Menurut Belkaoui definisi tentang laba itu mengandung lima sifat
yaitu :
1. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang
benar-benar terjadi yaitu timbulnya hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil
tersebut.
2. Laba akuntansi didasarkan pada postulat “periodik”laba
itu, artinya merupakan prestasi perusahaan pada periode tertentu.
3. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue
yang memerlukan batasan tersendiri tentang pa yang termasuk hasil.
4. Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap
biaya dalam bentuk biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan
hasil tertentu.
5. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip
matching, artinya hasil dikurangi biaya yang diterima/dikeluarkan dalam periode
yang sama.
Most menambahkan ciri-ciri laba akuntansi sebagai berikut :
1. Laba
akuntansi menggunakan konsep periodik.
2. Laba
akuntansi diperluas bukan hanya transaksi dan termasuk seluruh nilai fenomena
dan periode yang dapat diukur.
3. Laba
akuntansi mengizinkan agregasi kedalam kategori berupa input dan output.
4. Sehingga
perbandingan input dengan output akan menghasilkan sisa.
5. Sehingga
mayoritas mereka yang berkepentingan terhadap angka itu dapat menggunakannya
untuk berbagai tujuan.
Beberapa kebaikan dari kondisi laba
akuntansi adalah :
· Dapat
terus menerus ditelusuri dan diuji.
· Karena
perhitungannya didasarkan pada kenyataan yang terjadi (fakta) dan dilaporkan
secara objektif, perhitungan laba ini dapat diperiksa (verifiability).
· Memenuhi
prinsip conservatisme, karena yang diakui hanya laba yang direalisasi dan tidak
memperhatikan perubahan nilai.
· Dapat
dijadikan sebagai alat kontrol oleh manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi
manajemen.
Disamping adanya keistimewaan,konsep laba juga mempunyai
kelemahan yang terkandung didalamnya adalah :
a. Tidak
dapat menunjukkan laba yang belum direalisasi yang timbul dari kenaikan nilai.
b. Sulit
mengakui kebenaran jika dilakukan perbandingan. Hal ini timbul karena adanya
perbedaan dalam metode menghitung cost, perbedaan waktu antara realisasi hasil
dan biaya.
c. Penerapan
prinsip realisasi, historical cost, dan conservatisme dapat
menimbulkan salah pengertian terhadap data yang disajikan.
Hendriksen
(1992) dan Most (1982) memberikan kelemahan laba akuntansi sebagai berikut :
1. Konsep
laba akuntansi belum dirumuskan secara jelas dalam teori aluntansi.
2. Standar
akuntansi yang diterima umum masih mengandung berbagai cara yang berbeda-beda
dan mengandung ketidakkonsistenan baik antar perusahaan maupun dalam suatu
periode tertentu.
3. Perubahan
tingkat harga telah mengubah arti laba yang diukur berdasarkan nilai historis,
sehingga perubahan nilai uang atau tingkat inflasi belum diperhitungkan dalam
laporan keuangan.
4. Kurang
bermanfaat untuk keputusan jangka pendek.
5. Informasi lainnya diluar data
historis dinilai lebih bermanfaat bagi investor dalam pengambilan keputusan.
6. Kurangnya
informasi fisik dan perilaku yang membuat informasi laba semakin bermanfaat.
3. Laba
Ekonomi (Economic Income)
Adam Smith menjelaskan bahwa Income adalah kenaikan dalam
kekayaan. Pengertian ini diikuti oleh Marshall dkk dan dihubungkan dengan
konsep praktik bisnis. Mereka membedakan modal tetap dengan modal kerja, modal
fisik dan laba, dan menetapkan pada realisasi sebagai pengakuan laba. Fischer,
Lindahl dan Hick menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi yang mencakup tiga tahap
sebagai berikut :
1. Physical
Income yaitu
konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya memberikan kesenangan fisik
dan pemenuhan kebutuhan. Laba jenis ini tidak dapat diukur.
- Real Income adalah ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan terhadap kesenangan fisik. Ukuran yang dapat digunakan untuk Real Income ini adalah Biaya Hidup (Cost of Living).
- Money Income merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Fischer real income lebih dekat pada
pengertian akuntansi tentang income. Lindahl menganggap kosep laba
ekonomi sebagai “interest” yaitu
merupakan yaitu merupakan penghargaan secara terus-menerus terhadap barang
modal sepanjang waktu. Perbedaan antara interest dengan konsumsi yang
diharapkan pada periode tertentu dianggap sebagai “saving” sehingga laba
dianggap sebagai konsumsi ditambah saving. Hick mengembangkan teori Fischer dan Lindahl tentang economic income.
Ia mendefinisikan personal income sebagai berikut :
“Jumlah yang paling
tinggi dapat dikonsumsikan seseorang selama seminggu dan dia masih mengharapkan
seperti itu pada akhir minggu sebagaimana keadaannya pada awalnya”
Definisi ini dapat disederhanakan menjadi :
“Jumlah maksimum yang
dapat dikonsumsikan pad periode tertentu dan dia masih tetap dapat
mempertahankan modalnya tidak berkurang”.
Ø Konsep Capital Maintenance
Menurut
konsep ini laba baru disebut ada setelah modal yang dikeluarkan tetap masih ada
(capital maintained atau return of capital) atau biaya yang dikeluarkan telah
tertutupi (cost recovery) atau pengambilan modal return of capital.
Konsep
ini dapat dinyatakan baik dalam ukuran uang (unit of money) yang disebut
financial capital atau daam ukuran tenaga beli (general purchasing power) yang
disebut physical capital.
Berdasarkan
kedua konsep ini maka konsep capital maintenance menghasilkan empat konsep
sebagai berikut :
Financial Capital
1. Money
Maintenance,
yaitu Finacial Capital yang diukur
menurut unit uang. Menurut konsep ini modal yang ditanamkan oleh pemilik tetap
terpelihara. Laba menurut konsep ini adalah perubahan “net asset” dengan
menyesuiakan transaksi modal yang dijabarkan dalam ukuran uang. Konsep ini sama
dengan konsep yang dianut dalam Conventional
Accounting.
2. General
Puchasing Power Money Maintenance, yaitu Financial
Capital yang diukur menurut tenaga beli yang sama. Menurut konsep ini
tenaga beli dari modal yang diinvestasikan pemilik tetap dipertahankan,
sehingga menurut konsep ini laba adalah perubahan “net asset” setelah disesuaikan transaksi modal yang diukur dengan
tenaga beli yang sama. Konsep ini sama dengan GAPLA Historical Cost Accounting.
3. Produktive
Capacity maintenance,
yaitu Physical Capital yang diukur
menurut unit uang. Menurut konsep ini kapasitas produksi perusahaan
dipertahankan, kapasitas produksi dapat diartikan sebagai kapasitas fisik,
kapasitas untuk berproduksi, (volume) barang dan jasa yang sama dan kapasitas produksi
nilai barang dan jasa yang sama. Konsep ini sama dengan Current Value Accounting.
Current
Value (nilai
sekarang) dapat dihitung dengan 3 metode :
1. Capitalization
atau Present Value Method.
Yaitu jumlah bersih dari arus kas (kas masuk-kas keluar) yang diharapkan
diterima selama umur ekonominya yang didiskontokan pada saat sekarang. Untuk
menghitung ini perlu diketahui :
a. Arus kas yang diharapkan dari
penggunaan/penjualan asset tersebut.
b. Jangka waktu arus kas tersebut.
c. Jumlah sisa umur aktiva tersebut.
d. Diskount rate (tingkat diskonto).
2. Current
Entry Price,
yaitu jumlah kas atau aktiva lainnya yang dibutuhkan untuk mendapatkan aktiva
yang sejenis atau yang sama. Istilah yang sering adalah :
Replacement
Cost Used adalah jumlah kas yang diperlukan untuk mendapatkan asset yang serupa
yang memiliki umur pemakaian yang sama di pasaran barang bekas.
Reproduction
Cost adalah jumlah kas atas aktiva yang diperlukan untuk mendapatkan asset yang
sama persis dengtan aktiva yang ada sekarang (asset yang baru).
3. Current
Exit Price (Net
Realizable Value)
Current
Exit Prce adalah jumlah kas yang diterima atau utang yang dianggap lunas
apabila asset tersebut dijual. Umumnya nilai ini bermakna :
a. Harga penjualan yang ada dalam
keadaan pasar bebas bukan harga yang timbul karena terpaksa.
b. Harga jual pada saat berlngsungnya
pengukuran/pencatatan.
4. General
Purchasing Power, Produktive Capacity Maintenance, yaitu Physical Capital yang diukur dengan unit tenaga beli yang sama.
Menurut konsep ini kapasitas produksi fisik perusahaan yang diukur dalam unit
tenaga beli yang sama dipertahankan. Konsep yang serupa dengan ini adalah GAPLA
Current Value Accounting.
4. Laba Akuntansi dan Money Income
Money Income atau
disebut juga Bussiness Income
berbeda dengan Accounting Income. Accounting Income adalah
perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan
pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan
penghasilan tersebut.
Modal adalah aktiva bersih. Laba
menaikkan modal atau aktiva bersih. Laba adalah arus kekayaan sedangkan modal
adalah simpanan kekayaan. Sehingga penentuan laba, yaitu penentuan kenaikkan
modal yang juga menyangkut masalah harga. Modal bisa berarti financial
capital di mana tekanannya adalah nilai uang dari aktiva dikurangi dengan
nilai kewajiban yang merupakan kontribusi uang pemilik.
Physical capital di sini difokuskan pada kemampuan
fisik dari modal untuk memproduksikan barang dan jasa bukan pada nilai uangnya.
Ukurannya adalah kapasitas produksi dari aktiva yang dimiliki.
Dalam konsep Replacement Cost
Income dikenal dua komponen Income, yaitu :
1. Current Operating Profit
yang dihitung dari pengurangan biaya pengganti (replacement cost) dari
penghasilan.
2. Realized Holding Gain and Loss yang dihitung dari perbedaan antara
replacement cost dari barang yang dijual dengan biaya historis dari
barang yang sama. Laba rugi ini dibagi dua yaitu :
a. Yang direalisasi dan accrued
selama periode tersebut.
b. Yang direalisasi pada periode itu
tetapi accrued pada periode sebelumnya.
Dari pembagian ini mka, menurut Belkaoui Accounting Income
ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
|
Pa = X + Y + Z
|
Pa = Accounting
Income
X = Current Operating Profit
Y = Realisasi dan “Accrued” Holding Gain
periode itu
Z = Realisasi
holding gain pada periode itu tapi accrued pada periode sebelumnya.
Money Income berbeda dengan Accounting Income
dalam hal :
1.
Money
Income dihitung
berdasarkan nilai replacement cost, sedangkan Accounting Income
berdasarkan historical cost.
2.
Money
Income hanya mengakui gain yang “accrued” pada periode itu.
Sehingga
dapat diketahui bahwa money income dapat dihitung sebagai berikut :
|
Pm = Pa – Z + W
|
Pm = Money Income
Pa = Accounting Income
Z = Realisasi holding gain ang loss pada
periode itu “accrued” pada periode sebelumnya.
W = Holding gain and loss yang belum
direalisasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)








