Monday, 1 August 2016

SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.

Share Multiple Items

SKRIPSI Pengaruh Kualitas Jasa Terhadap Kepuasan Penerima Pensiun Pada PT. TASPEN (Persero) Cabang Kendari.

ABSTRAK

Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kualitas jasa Pelayanan karyawan pada
PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, serta untuk mengetahui kepuasan
pelanggan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari.
Populasi penelitian
ini adalah seluruh pelanggan atau nasabah PT. TASPEN (Persero) Kota
Kendari yang berjumlah 77.090 orang yang kemudian di ambil sampel
penelitian sebanyak 52 orang. Penarikan sampel ditentukan dengan teknik
purposive sampling atau secara sengaja oeleh peneliti sehingga jumlah
sampel yaitu 52. Adapun informan penelitian meliputi Kepala Cabang, PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari, Kasub Bagian Personalia dan Umum dan 3
orang Karyawan.
 
Kualitas jasa
atau Pelayanan yang diberikan pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
dalam kategori baik. Dimana berdasarkan hasil penelitian pegawai mampu
memberikan pelayanan yang jelas dan tidak berbelit-belit.
Kemudian
dari dimensi efesiensi, aparat memiliki keterampilan yang cukup dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan. Kemudian dari dimensi keadilan,
aparat memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan masyarakat. Serta
aparat sudah mampu memberikan pelayanan sesuai dengan waktu yang telah
ditetapkan organisasi.
Kepuasan pelanggan pada ruang lingkup PT.
TASPEN (Persero) Kota Kendari bisa dikatakan memuaskan. Hal ini
ditunjukkan melalui kepuasan pelanggan terhadap produk dan jasa yang
diberikan karyawan pada PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari, selain itu
pelanggan PT. TASPEN (Persero) tidak mengeluhkan pelayanan yang
diberikan. Dan yang terakhir pegawai PT. TASPEN (Persero) Kota Kendari
memberikan jasa kepada masyarakat dalam lingkup PT. TASPEN (Persero)
Kota Kendari tidak beerubah-ubah.

Untul lebih lengkapnya silahkan download di bawah ini:

Thursday, 21 July 2016

TEORI AKUNTANSI : KONSEP LABA

KONSEP LABA

1.        POLEMIK TENTANG LABA
Sebelum kita masuk dalam membahas konsep laba berikut ini penulis akan mengemukakan sebuah polemic yang dimuat dalam surat pembaca TEMPO 9 Desember 1989 antara penulis dengan Kwik Kian Gie yang menyangkut perbedaan persepsi tentang konsep laba. Berikut ini adalah polemic tersebut :
Semula menurut hasil wawancara TEMPO dengan Kwik Kian Gie yang dimuat TEMPO edisi 25 November 1989 di Rubrik Ekonomi & Bisnis dengan judulTidak Cukup Dengan Iktikad Baik”, memuat tanggapan beliau tentang posisi AGIO SAHAM. Beliau berpendapat bahwa Agio Saham adalah laba karena empat pokok alasan yakni :
1.      Perusahaan biasanya minta agio dengan alasan akan membagikan keuntungan dikemudian hari.
Jawaban Penulis :
Alasan ini tidak mudah untuk menopang pendapat agio sebagai laba. Penulis berpendapat agio bukan diminta melainkan muncul dari perbedaan harga jual saham dengan harga nominal yang telah dibayar oleh investor. Tentu setelah mempertimbangkannya secara rasional. Alasan membagikan dikemudian hari juga tidak dapat menguatkan bahwa agio adalah laba. Pembagian keuntungan sebenarnya bukan didasarkan pada agio atau diluar laba, baik laba ditahan maupun laba tahun berjalan. “Membagikan keuntungan” mempunyai arti bahwa yang dibagi adalah untung (laba)bukan yang lain. Dan bagian tersebut diberikan berupa kas atau aktiva jenis lainnya.
2.      Prinsip akuntansi secara ketat menetapkan agio harus dicantumkan secara terpisah, karena agio bukan modal saham.
Jawaban Penulis:
Pencantuman agio saham secara terpisah dari perkiraan modal saham berarti bahwa setiap pos yang dipisahkan dari modal otomatis dianggap sebagai laba. Pemisahan itu adalah untuk melaksanakan prinsip full dislosurc. Agio Saham adalahmerupakan unsure modal setor (paid in capital) yang terdiri dari modal saham nominal ditambah dengan agio saham tadi. Yang benar, prisip akuntansi secara ketat haqqul yakin menganggap agio bukan laba.
3.      Agio juga merupakan laba. Perusahaan boleh membagi deviden dari agio saham.
Jawaban Penulis :
Deviden adalah bagian laba yang diterima oleh pemilik perusahaan. Pembagian deviden ini didasarkan pada laba, bak laba ditahan maupun laba tahun berjalan. Secar teoritis tanpa laba tidak aka nada deviden. Namun, di Indonesia sering terjadi deviden sudah dijamin, kendati perhitungan laba rugi perusahaan belum final. Ini terjadi karena praktek pasarmodal kita masih belum sepenuhnya diatur pasar.
4.      Agio boleh langsung dikantongi emiten.
Jawaban Penulis :
Ini sangat absurd. Laba tidak sama dengan “penerimaan kas”. Kalau Kwik menganggap setiap yang dikantongi perusahaan adalah laba, yang paling senang adalah Fiskus, karena pemasukan pajak akan sangat deras.

       Pengertian laba yang paling diterima umum menurut kami yakni laba menurut akuntansi. Bahkan dalam akuntansi sendiri konsep laba itu bervariasi. Menurut akuntansi, laba berasal dari perbedaan antara penghasilan dan biaya. Penghasilan adalah kenaikan aktiva atau penurunan aktiva atau penurunan kewajiban akibat penjualan barang atau jasa perusahaan.. Sedang biaya adalah penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban akibat aktivitas produksi (pembelian, penjualan barang atau jasa perusahaan). Laba rugi adalah penghasilan dikurangi biaya.
Laba adalah kenaikan asset dalam satu periode akibat kegiatan produktif yang dapat dibagi atau didistribusi kepada kreditor, pemerintah, pemegang saham (dalam bentuk bunga, pajak, dan deviden) tanpa mempengaruhi keutuhan ekuitas pemegang saham semula. Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah laba akuntansi yang merupakan selisih antara pengukuran pendapatan dan biaya. Besar kecilnya laba sebagai kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Jadi dalam hal ini laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak dapat didefinisikan tersendiri secara ekonomik seperti halnya aktiva dan atau hutang.

       Dari definisi ini, akuntansi menganggap bahwa agio sebagai unsur harga saham bukan laba. Itu hanya penerimaan kas menjadi laba, kendati untuk mengakui laba harus ada penerimaan kas.
       Untuk menghitung laba masing-masing orang dapat menetukan perhitungan laba tersendiri. Kenapa perlu diketahui jumlah laba ini? Laba ini adalah merupakan informasipenting dalam suatu laporan keuangan. Angka ini penting untuk :
1.        Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan diterima Negara.
2.    Untuk menghitung deviden yang kan dibagikan kepada pemilik dan yang kan ditahan dalam perusahaan.
3.    Sebagai pedoman dalam menentukan kebijaksanaan investasi dan pengambilan keputusan.
4.    Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahaan lainnya di masa yang akan datang.
5.    Sebagai dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi.
6.    Untuk menilai prestasi atau kinerja perusahaan/segmen perusahaan divisi.

Dalam akuntansi yang memiliki konsep perhitungan laba juga dikenal perbedaan pandangan dalam menghitung laba (income). Dibawah ini ada empat pendapat, yaitu :
1. Pemikiran klasik yang berpedoman pada postulat unit of measure dan prinsip historical cost yang sering disebut historical cost accounting atau conventional accounting sebagaimana yang kita anut saat ini. Konsep ini dinamakan konsep laba accounting income.
2. Pemikiran neo klasik yang mengubah postulat unit of measure dengan menerapkan perhitungan perubahan tingkat harga unum (general price level) dan tetap mempertahankan prinsip historical cost. Konsep ini dikenal dengan istilah general price level adjusted historical cost accounting (GPLA Historical Accounting). Dan perhitungan labanya disebut GPLA Accounting Income.
3. Pemikiran radikal, yang memilih harga sekarang (current value) sebagai dasar penilaian bukan historical cost lagi. Konsep ini dikenal dengan current value accounting sedang perhitungan labanya disebut current income.
4. Pemikiran neo radikal, yang menggunakan current value tetapi disesuaikan dengan perubahan tingkat harga umum. Konsep ini disebut GPLA Current Value Accounting sedangkan perhitungan labanya disebut Adjusted Current Income.
2.    Laba Menurut Konsep Akuntansi (Accounting Income)
Menurut akuntansi yang dimaksud dengan laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikleuarkan pada periode tersebut. Menurut Belkaoui definisi tentang laba itu mengandung lima sifat yaitu :
1.   Laba akuntansi didasarkan pada transaksi yang benar-benar terjadi yaitu timbulnya hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil tersebut.
2.   Laba akuntansi didasarkan pada postulat “periodik”laba itu, artinya merupakan prestasi perusahaan pada periode tertentu.
3.   Laba akuntansi didasarkan pada prinsip revenue yang memerlukan batasan tersendiri tentang pa yang termasuk hasil.
4.   Laba akuntansi memerlukan perhitungan terhadap biaya dalam bentuk biaya historis yang dikeluarkan perusahaan untuk mendapatkan hasil tertentu.
5.   Laba akuntansi didasarkan pada prinsip matching, artinya hasil dikurangi biaya yang diterima/dikeluarkan dalam periode yang sama.
Most menambahkan ciri-ciri laba akuntansi sebagai berikut :
1. Laba akuntansi menggunakan konsep periodik.
2. Laba akuntansi diperluas bukan hanya transaksi dan termasuk seluruh nilai fenomena dan periode yang dapat diukur.
3. Laba akuntansi mengizinkan agregasi kedalam kategori berupa input dan output.
4. Sehingga perbandingan input dengan output akan menghasilkan sisa.
5.  Sehingga mayoritas mereka yang berkepentingan terhadap angka itu dapat menggunakannya untuk berbagai tujuan.
Beberapa kebaikan dari kondisi laba akuntansi adalah :
·    Dapat terus menerus ditelusuri dan diuji.
·    Karena perhitungannya didasarkan pada kenyataan yang terjadi (fakta) dan dilaporkan secara objektif, perhitungan laba ini dapat diperiksa (verifiability).
·    Memenuhi prinsip conservatisme, karena yang diakui hanya laba yang direalisasi dan tidak memperhatikan perubahan nilai.
·    Dapat dijadikan sebagai alat kontrol oleh manajemen dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen.
Disamping adanya keistimewaan,konsep laba juga mempunyai kelemahan yang terkandung didalamnya adalah :
a.   Tidak dapat menunjukkan laba yang belum direalisasi yang timbul dari kenaikan nilai.
b.   Sulit mengakui kebenaran jika dilakukan perbandingan. Hal ini timbul karena adanya perbedaan dalam metode menghitung cost, perbedaan waktu antara realisasi hasil dan biaya.
c.   Penerapan prinsip realisasi, historical cost, dan conservatisme dapat menimbulkan salah pengertian terhadap data yang disajikan.
Hendriksen (1992) dan Most (1982) memberikan kelemahan laba akuntansi sebagai berikut :
1.   Konsep laba akuntansi belum dirumuskan secara jelas dalam teori aluntansi.
2.   Standar akuntansi yang diterima umum masih mengandung berbagai cara yang berbeda-beda dan mengandung ketidakkonsistenan baik antar perusahaan maupun dalam suatu periode tertentu.
3.   Perubahan tingkat harga telah mengubah arti laba yang diukur berdasarkan nilai historis, sehingga perubahan nilai uang atau tingkat inflasi belum diperhitungkan dalam laporan keuangan.
4.   Kurang bermanfaat untuk keputusan jangka pendek.
5. Informasi lainnya diluar data historis dinilai lebih bermanfaat bagi investor dalam pengambilan keputusan.
6.   Kurangnya informasi fisik dan perilaku yang membuat informasi laba semakin bermanfaat.
3.    Laba Ekonomi (Economic Income)
Adam Smith menjelaskan bahwa Income adalah kenaikan dalam kekayaan. Pengertian ini diikuti oleh Marshall dkk dan dihubungkan dengan konsep praktik bisnis. Mereka membedakan modal tetap dengan modal kerja, modal fisik dan laba, dan menetapkan pada realisasi sebagai pengakuan laba. Fischer, Lindahl dan Hick menjelaskan sifat-sifat laba ekonomi yang mencakup tiga tahap sebagai berikut :
1.      Physical Income yaitu konsumen barang dan jasa pribadi yang sebenarnya memberikan kesenangan fisik dan pemenuhan kebutuhan. Laba jenis ini tidak dapat diukur.
  1. Real Income adalah ungkapan kejadian yang memberikan peningkatan terhadap kesenangan fisik. Ukuran yang dapat digunakan untuk Real Income ini adalah Biaya Hidup (Cost of Living).
  2. Money Income merupakan hasil uang yang diterima dan dimaksudkan untuk konsumsi dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut Fischer real income lebih dekat pada pengertian akuntansi tentang income. Lindahl menganggap kosep laba ekonomi sebagai “interest” yaitu merupakan yaitu merupakan penghargaan secara terus-menerus terhadap barang modal sepanjang waktu. Perbedaan antara interest dengan konsumsi yang diharapkan pada periode tertentu dianggap sebagai “saving” sehingga laba dianggap sebagai konsumsi ditambah saving. Hick mengembangkan teori Fischer dan Lindahl tentang economic income. Ia mendefinisikan personal income sebagai berikut :
Jumlah yang paling tinggi dapat dikonsumsikan seseorang selama seminggu dan dia masih mengharapkan seperti itu pada akhir minggu sebagaimana keadaannya pada awalnya
Definisi ini dapat disederhanakan menjadi :
Jumlah maksimum yang dapat dikonsumsikan pad periode tertentu dan dia masih tetap dapat mempertahankan modalnya tidak berkurang”.
Ø  Konsep Capital Maintenance
Menurut konsep ini laba baru disebut ada setelah modal yang dikeluarkan tetap masih ada (capital maintained atau return of capital) atau biaya yang dikeluarkan telah tertutupi (cost recovery) atau pengambilan modal return of capital.
Konsep ini dapat dinyatakan baik dalam ukuran uang (unit of money) yang disebut financial capital atau daam ukuran tenaga beli (general purchasing power) yang disebut physical capital.
Berdasarkan kedua konsep ini maka konsep capital maintenance menghasilkan empat konsep sebagai berikut :
Financial Capital
1.      Money Maintenance, yaitu Finacial Capital yang diukur menurut unit uang. Menurut konsep ini modal yang ditanamkan oleh pemilik tetap terpelihara. Laba menurut konsep ini adalah perubahan “net asset” dengan menyesuiakan transaksi modal yang dijabarkan dalam ukuran uang. Konsep ini sama dengan konsep yang dianut dalam Conventional Accounting.
2.      General Puchasing Power Money Maintenance, yaitu Financial Capital yang diukur menurut tenaga beli yang sama. Menurut konsep ini tenaga beli dari modal yang diinvestasikan pemilik tetap dipertahankan, sehingga menurut konsep ini laba adalah perubahan “net asset” setelah disesuaikan transaksi modal yang diukur dengan tenaga beli yang sama. Konsep ini sama dengan GAPLA Historical Cost Accounting.
3.      Produktive Capacity maintenance, yaitu Physical Capital yang diukur menurut unit uang. Menurut konsep ini kapasitas produksi perusahaan dipertahankan, kapasitas produksi dapat diartikan sebagai kapasitas fisik, kapasitas untuk berproduksi, (volume) barang dan jasa yang sama dan kapasitas produksi nilai barang dan jasa yang sama. Konsep ini sama dengan Current Value Accounting.
Current Value (nilai sekarang) dapat dihitung dengan 3 metode :
1.      Capitalization atau Present Value Method. Yaitu jumlah bersih dari arus kas (kas masuk-kas keluar) yang diharapkan diterima selama umur ekonominya yang didiskontokan pada saat sekarang. Untuk menghitung ini perlu diketahui :
a.       Arus kas yang diharapkan dari penggunaan/penjualan asset tersebut.
b.      Jangka waktu arus kas tersebut.
c.       Jumlah sisa umur aktiva tersebut.
d.      Diskount rate (tingkat diskonto).
2.      Current Entry Price, yaitu jumlah kas atau aktiva lainnya yang dibutuhkan untuk mendapatkan aktiva yang sejenis atau yang sama. Istilah yang sering adalah :
Replacement Cost Used adalah jumlah kas yang diperlukan untuk mendapatkan asset yang serupa yang memiliki umur pemakaian yang sama di pasaran barang bekas.
Reproduction Cost adalah jumlah kas atas aktiva yang diperlukan untuk mendapatkan asset yang sama persis dengtan aktiva yang ada sekarang (asset yang baru).
3.      Current Exit Price (Net Realizable Value)
Current Exit Prce adalah jumlah kas yang diterima atau utang yang dianggap lunas apabila asset tersebut dijual. Umumnya nilai ini bermakna :
a.       Harga penjualan yang ada dalam keadaan pasar bebas bukan harga yang timbul karena terpaksa.
b.      Harga jual pada saat berlngsungnya pengukuran/pencatatan.
4.      General Purchasing Power, Produktive Capacity Maintenance, yaitu Physical Capital yang diukur dengan unit tenaga beli yang sama. Menurut konsep ini kapasitas produksi fisik perusahaan yang diukur dalam unit tenaga beli yang sama dipertahankan. Konsep yang serupa dengan ini adalah GAPLA Current Value Accounting.

4.      Laba Akuntansi dan Money Income
Money Income atau disebut juga Bussiness Income berbeda dengan Accounting Income. Accounting Income adalah perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan tersebut.
Modal adalah aktiva bersih. Laba menaikkan modal atau aktiva bersih. Laba adalah arus kekayaan sedangkan modal adalah simpanan kekayaan. Sehingga penentuan laba, yaitu penentuan kenaikkan modal yang juga menyangkut masalah harga. Modal bisa berarti financial capital di mana tekanannya adalah nilai uang dari aktiva dikurangi dengan nilai kewajiban yang merupakan kontribusi uang pemilik.
Physical capital di sini difokuskan pada kemampuan fisik dari modal untuk memproduksikan barang dan jasa bukan pada nilai uangnya. Ukurannya adalah kapasitas produksi dari aktiva yang dimiliki.
Dalam konsep Replacement Cost Income dikenal dua komponen Income, yaitu :
1. Current Operating Profit yang dihitung dari pengurangan biaya pengganti (replacement cost) dari penghasilan.
2. Realized Holding Gain and Loss yang dihitung dari perbedaan antara replacement cost dari barang yang dijual dengan biaya historis dari barang yang sama. Laba rugi ini dibagi dua yaitu :
a. Yang direalisasi dan accrued selama periode tersebut.
b. Yang direalisasi pada periode itu tetapi accrued pada periode sebelumnya.
Dari pembagian ini mka, menurut Belkaoui Accounting Income ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Pa = X + Y + Z
 Pa       =          Accounting Income
X         =          Current Operating Profit
Y         =          Realisasi dan “Accrued” Holding Gain periode itu
Z         =          Realisasi holding gain pada periode itu tapi accrued pada periode sebelumnya.
Money Income berbeda dengan Accounting Income dalam hal :
1.      Money Income dihitung berdasarkan nilai replacement cost, sedangkan Accounting Income berdasarkan historical cost.
2.      Money Income hanya mengakui gain yang “accrued” pada periode itu.
Sehingga dapat diketahui bahwa money income dapat dihitung sebagai berikut :
Pm = Pa – Z + W
Pm       =          Money Income
Pa        =          Accounting Income
Z          =          Realisasi holding gain ang loss pada periode itu “accrued” pada periode sebelumnya.
W        =          Holding gain and loss yang belum direalisasi.