Prosedur Rekonsiliasi
Bank
Apabila penerimaan kas setiap hari langsung disetorkan ke bank
dan pembayaran dilakukan dengan cek, maka setiap akhir bulan perusahaan perlu
mencocokkan saldo menurut catatan perusahaan dengan saldo menurut catatan bank
yang tersaji di laporan bank. Prosedur mencocokkan saldo kas menurut catatan
perusahaan dan catatan bank dan catatan perusahaan disebut rekonsiliasi bank.
Rekonsiliasi bank dilakukan untuk mengungkapkan setiap kesalahan
dan ketidak wajaran yang ada pada catatan perusahaan di bank. Prosedur
rekonsiliasi dilakukan untuk mencari sebab-sebab ketidakcocokan yang terjadi
antara saldo menurut catatan bank dan catatan perusahaan. Selain itu,
rekonsiliasi bank berguna untuk mengecek ketelitian pencatatan dalam rekening kas
dan catatan bank. Rekonsiliasi juga berguna untuk mengetahui penerimaan atau
pengeluaran yang sudah terjadi di bank tetapi belum dicatat oleh perusahaan.
Logisnya, catatan perusahaan dan catatan bank harus menunjukkan
saldo yang sama. Dalam kenyataan, dua saldo tersebut mungkin berbeda.
Ketidakcocokan yang terjadi biasanya disebabkan oleh adanya beda waktu yang
terjadi dalam prosedur pencatatan, penerimaan dan pengeluaran kas. Berikut ini
adalah penyebab perbedaan antara saldo perusahaan dan saldo bank karena beda
waktu mencatat dan salah catat.
·
Setoran dalam
perjalanan (deposit intransit)
Setoran dalam perjalanan adalah setoran perusahaan ke bank yang
belum dicatat oleh bank karena kemungkinan-kemungkinan berikut.
1.
Aturan intern bank bahwa setoran yang dilakukan pada akhir bulan
akan dicatat selang satu hari kerja berikutnya
2.
Aturan intern bank bahwa setoran di atas pukul 12:00 baru
dicatat selang satu hari kerja berikutnya
3.
Setoran melalui Automatic
Teller Machine (ATM) dicatat selang satu hari kerja berikutnya
4.
Setoran dengan prosedur clearing dicatat
setelah selesai prosedur tersebut. Jika clearing selesai
pada pukul 10:00, sehingga setoran dengan prosedur clearing yang diterima bank
setelah pukul 10:00 akan diselesaikan pada hari clearingberikutnya.
Prosedur pemeriksaan untuk menemukan setoran dalam perjalanan
adalah membandingkan semua setoran menurut slip setoran dengan setoran yang
tampak dalam laporan bank. Setoran perusahaan yang tidak tampak di laporan bank
adalah setoran dalam perjalanan.
·
Cek yang masih
beredar (outstanding check)
Cek yang masih beredar adalah cek yang sudah dikeluarkan oleh
perusahaan tetapi bank belum membayarnya karena pemegang cek (pihak yang
dibayar perusahaan, misalnya supplier) belum
menguangkannya ke bank. Prosedur pemeriksaan untuk menemukan cek yang masih
beredar adalah membandingkan seluruh cek yang telah dikeluarkan (periksa nomor
cek di bonggol cek) dengan cek-cek yang telah diuangkan oleh bank yang tampak
di laporan bank. Cek yang tidak nampak di laporan bank adalah cek yang masih
beredar.
·
Biaya bank (service
charge)
Biaya bank adalah biaya yang dibebankan oleh bank kepada
perusahaan atas jasa bank melayani giro perusahaan. Bank langsung mengurangi
giro perusahaan, sedangkan perusahaan, sedangkan perusahaan belum mencatatnya
karena belum mengetahuinya sebelum menerima laporan bank atau memo debit dari bank. Prosedur pemeriksaan untuk
menemukan biaya bank adalah dengan mengidentifikasi memo debit untuk biaya bank di laporan bank
(kode memo debit untuk
biaya bank pada umumnya DM dengan nomor tertentu).
·
Cek kosong (non-sufficient
fund check)
Cek kosong adalah cek yang tidak cukup dananya. Pada waktu
perusahaan menerima cek dari pelanggan, perusahaan sudah mengakuinya sebagai
penerimaan kas dan disetornya ke bank sebagai penambah saldo rekening giro
perusahaan. Di hari berikutnya, ternyata ada pemberitahuan dari bank bahwa cek
yang disetorkan tidak cukup dananya. Jika bank belum terlanjur menganggap cek
kosong ini sebagai setoran, maka dilaporan bank tidak terdapat setoran tersebut
dan juga tidak terjadi pengurangan setoran. Namun jika bank telah telanjur
menganggapnya sebagai setoran, maka di laporan bank akan tercantum setoran dan
juga pengurangan. Keterangan untuk pengurangan adalah cek kosong (non-sufficient fund check). Prosedur untuk
menemukan cek kosong adalah mengidentifikasi memo debit untuk cek kosong di laporan bank (kode
DM dengan nomor tertentu).
Di Amerika Serikat, bank menerima setoran berupa cek meskipun
cek tersebut berasal dari bank lain. Apabila cek tersebut tidak cukup dananya
pada waktu clearing,
barulah bank tersebut membatalkan setoran tersebut. Dengan demikian, setiap
menyetor cek pelanggan di bank, perusahaan langsung menerima bukti setor (deposit slip) dan oleh karena itu
menjadi bukti untuk pencatatan bertambahnya rekening kas di bank. Di Indonesia,
bank tidak menerima setoran berupa cek yang berasal dari bank lain, kecuali
kalau sudah selesai clearing.
Dengan praktik seperti ini, maka perusahaan di Indonesia tidak menganggap cek
dari pelanggannya sebagai pelunasan sebelum cek itu dinyatakn tertagih oleh
bank setelah selesai clearing.
Berdasar uraian sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak satu pun
cek kosong telanjur dicatat oleh perusahaan sebagai kas.
·
Pelunasan dari pelanggan
(debitor) via transfer giro
Dalam praktik bisnis modern, para debitor atau pelanggan
perusahaan membayar utangnya melalui rekening giro perusahaan di bank.
Perusahaan baru mengetahui bertambahnya saldo kas dari transfer ini setelah
menerima laporan bank atau memo kredit dari bank. Prosedur untuk menemukan
transfer dari pihak lain adalah mengidentifikasi memo kredit untuk transfer
tersebut di laporan bank (kode CM dengan nomor tertentu).
·
Jasa giro bank
Jasa giro bank adalah balas jasa bank yang diberikan kepada perusahaan
karena bank dapat memanfaatkan simpanan giro perusahaan. Dalam hal ini, bank
langsung menambah giro perusahaan, sedangkan perusahaan belum mencatatnya
karena belum mengetahuinya sebelum menerima laporan bank atau memo kreditdari
bank. Prosedur pemeriksaan untuk menemukan jasa giro bank adalah
mengidentifikasi memo kredit untuk jasa giro di laporan bank (kode CM dengan
nomor tertentu).
·
Salah catat
Apabila setelah mempertimbangkan semua pos di atas,
ketidakcocokan antara saldo perusahaan dan saldo bank masih ditemukan, maka
dilakukan prosedur pemeriksaan yang lain untuk menentukan kemungkinan salah
catat di buku perusahaan dan atau di buku bank. Apabila salah catat telah
diidentifikasi, tetapi saldonya belum cocok, maka ada indikasi bahwa kas
digelapkan.
Bentuk Rekonsiliasi Bank
Rekonsiliasi bank dapat dibuat dalam 2 macam cara yang berbeda:
·
Rekonsiliasi saldo akhir. Rekonsiliasi
ini mempunyai dua bentuk:
·
Laporan rekonsiliasi saldo bank dan saldo kas untuk menunjukkan
saldo yang benar. Berikut adalah contoh:
Penyusunan laporan rekonsiliasi saldo akhir disusun berdasarkan
data yang diperoleh dari catatan PT XYZ pada tanggal 31 Desember 2005 sebagai
berikut:
Data di atas jika disusun dalam laporan rekonsiliasi saldo bank
dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar adalah sebagai berikut:
Dalam laporan rekonsiliasi ini dapat diperoleh hasil yang
menunjukkan berapa saldo yang benar menurut kas maupun saldo yang benar menurut
bank. Bentuk ini sering digunakan karena lebih berguna untuk tujuan intern
perusahaan.
·
Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas.
Pada rekonsiliasi ini hanya diketahui sebab-sebab perbedaan
saldo kas dan saldo bank. Rekonsiliasi bentuk ini sering digunakan oleh akuntan
dalam melakukan pemeriksaan kas.
Perlu diperhatikan bahwa rekonsiliasi bank tidak membetulkan
rekening kas dan rekening-rekening lainnya. Ia hanya merupakan kertas kerja
atau laporan yang dibuat oleh pemeriksa intern atas hasil prosedur
rekonsiliasi. Oleh karena itu, saldo rekening-rekening setelah rekonsiliasi
bank tersebut masih tetap menunjukkan saldo-saldo semula. Untuk membetulkan
saldo-saldo buku perusahaan, kita harus menyusun jurnal penyesuaian dan
mempostingnya ke rekening-rekening terkait.
·
Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir.
Rekonsiliasi ini biasanya dilakukan oleh akuntan pemeriksa (auditor) sebagai
alat pengujian yang menyeluruh terhadap transaksi-transaksi kas. Dalam bentuk
ini, selain saldo awal dan saldo akhir akan dapat diketahui perbedaan jumlah
penerimaan dan pengeluaran antara bank dengan catatan kas. Susunan
kolom-kolomnya adalah saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir.
Dalam mengerjakan rekonsiliasi bentuk ini diperlukan pengetahuan mengenai
prosedur pencatatan penerimaan dan pengeluaran kas dan bank, karena prosedur
yang digunakan akan mempengaruhi jumlah-jumlah yang akan direkonsiliasikan.
Rekonsiliasi ini mempunyai dua bentuk:
·
Laporan rekonsiliasi saldo bank kepada saldo kas (4 kolom)
Sebagai contoh adalah data yang diambil dari PT ABC:
Setelah menyusun rekonsiliasi laporan bank, perlu dibuat jurnal
untuk membetulkan catatan kas. Dari rekonsiliasi di atas yang dibuat koreksinya
hanya elemen-elemen yang mempengaruhi saldo kas tanggal 31 Januari 2006. Jurnal
koreksi yang dibuat pada tanggal 31 Januari 2006 adalah sebagai berikut:
·
Rekonsiliasi saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir
(8 kolom)
Prinsipnya sama dengan rekonsiliasi saldo akhir untuk
menunjukkan saldo yang benar, hanya saja disusun rekonsiliasi untuk saldo bank
tersendiri dan saldo kas tersendiri. Karena yang direkonsiliasikan ada 4 jumlah
yaitu saldo awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir maka rekonsiliasinya
menjadi 8 kolom, masing-masing untuk bank dan kas. Berikut adalah contoh dari
rekonsiliasi 8 kolom dengan menggunakan PT. ABC:
Rekonsiliasi 8 kolom di atas dapat juga dibuat laporannya dengan
bentuk yang berbeda seperti yang nampak berikut.
Bentuk ini adalah untuk mencari saldo yang benar, sehingga
merupakan rekonsiliasi 8 kolom. Perbedaannya adalah dalam cara penyajian, yaitu
4 kolom diatas, dan 4 kolom dibawah. Karena bentuknya yang seperti ini,
walaupun prinsipnya adalah sama dengan rekonsiliasi 8 kolom, nampaknya seperti
rekonsiliasi 4 kolom.
Jika dibandingkan dengan rekonsiliasi saldo akhir maka
rekonsiliasi 4 kolom adalah perluasan dari rekonsiliasi saldo bank kepada saldo
kas, sedang rekonsiliasi 8 kolom merupakan perluasan dari rekonsiliasi saldo
bank dan saldo kas untuk menunjukkan saldo yang benar. Oleh karena itu prosedur
dalam membuat rekonsiliasi daldo akhir juga berlaku dalam rekonsiliasi saldo
awal, penerimaan, pengeluaran dan saldo akhir, hanya saja lebih komplek.
Cara Membuat
Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi Selangkah
·
·
·
0
EmailShare
·
Di tulisan ini saya
akan tunjukan cara membuat rekonsiliasi bank selangkah demi selangkah, disertai
dengan contoh kasus dan contoh format rekonsiliasi bank. Sebenarnya tidak
sesulit yang dibayangkan jika konsep dasarnya sudah dipahami (jika belum,
silahkan baca “Konsep Rekonsiliasi
Bank“).
Tidak ada aturan baku (standar) untuk
melakukan proses rekonsiliasi. Setiap pegawai akuntansi atau pembukuan mungkin memili tehnik
yang berbeda dalam melakukan rekonsiliasi bank.
Ada yang memulai proses rekonsiliasi dengan
mengidentifikasi dan mengumpulkan semua perbedaan. Lalu semua perbedaan itu
dituangkan ke dalam lebar kerja rekonsiliasi. Baru dilakukan penjurnalan
sekaligus. Persis seperti apa yang diajarkan saat di bangku kuliah dahulu. Saya
sendiri, di awal-awal karir juga melakukan rekonsiliasi bank dengan cara
seperti itu.
Seiring bertambahnya pengalaman, saya
menemukan bahwa menelusuri transaksi baris-per-baris sangat memakan waktu. Jika
jumlah transaksinya kurang dari 20 baris mungkin bisa dilakukan dengan cepat.
Bayangkan jika jumlah transaksinya 300 an lebih. Mungkin akan butuh waktu
berhari-hari.
Kebetulan jumlah transaksi yang saya tangani selalu
banyak. Dan diakhir penelusuran, seringkali saya menemukan perbedaan yang
sangat kecil. Sehingga usaha menelusuri satu-satu sejak di awal rasanya terlalu
banyak buang waktu. Saya meninggalkan cara klasik yang diajarkan di kampus itu
dan lebih suka melakukan identifikasi dan penjurnalan secara bertahap.
Disamping lebih efesien waktu, lemabaran kerja rekonsiliasi juga menjadi lebih
ringkas. Berikut adalah langkah-langkah yang biasa saya lakukan untuk
mempercepat proses rekonsiliasi bank:
Langkah-1: Bandingkan
Saldo Rekening Koran Vs Buku Kas Perusahaan
Sama atau berbeda? Kemungkinan untuk persis
sama sangatlah kecil. Biasanya selalu ada perbedaan. Misalnya ditemukan Saldo
Rekening Koran Rp 8,550,000, sementara saldo Buku Kas Perusahaan Rp 36,380,000.
Perbedaan yang lumayan besar. Lanjutkan ke Langkah-2.
Langkah-2. Cari
Transaksi Yang Bersifat ‘Auto’
Transaksi bersifat ‘Auto’ yang saya maksudkan
di sini adalah biaya yang dikenakan oleh bank dengan langsung mendebit
(memotong saldo) dan pendapatan yang diberikan oleh bank dengan langsung
mengkredit (menambah saldo) rekening perusahaan, tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu, antara lain: biaya admin bank, bea meterai, biaya buku cek, bunga jasa
giro, pajak atas bunga. Karena bank langsung
melakukan transaksi tanpa pemberitahuan ke pihak perusahaan terlebih dahulu,
maka perusahaan biasanya belum mencatat transaksi tersebut di dalam buku kas
perusahaan.
Jenis transaksi ini rutin terjadi setiap bulannya,
jumlahnya relatif sama dari bulan-ke-bulan, kisaran tanggal transaksinyapun
lebih banyak terjadi mendekati akhir-akhir bulan (kecuali biaya buku
cek—tergantung tanggal pengambilan). Cari jenis transaksi ini di dalam rekening
koran. Biasanya antara tanggal 25 hingga 31 untuk setiap bulannya. Misalnya
ditemukan:
§ Biaya admin bank Rp 500,000, belum dicatat ke
dalam buku kas perusahaan
§ Biaya buku cek Rp 300,000, belum dicatat ke
dalam buku kas perusahaan
§ Bea materai Rp 50,000, belum dicatat ke dalam
buku kas perusahaan
§ Bunga jasa giro Rp 215,000, belum dicatat ke
dalam buku perusahaan
§ Pajak atas bunga Rp 15,000, belum dicatat ke
dalam buku perusahaan.
Masukan transaksi-transaksi tersebut ke dalam
buku kas perusahaan dengan jurnal, sbb:
[Debit]. Biaya Admin Bank = Rp 850,000
[Credit]. Kas – Bank Mandiri = Rp 850,000
(Biaya admin bank 500,000 + buku cek 300,000 +
bea materai 50,000)
[Debit]. Kas – Bank Mandiri = Rp 200,000
[Debit]. Biaya Pajak atas bunga = Rp 15,000
[Credit]. Pendapatan Jasa Giro = Rp 215,000
(Untuk mencatat bunga jasa giro dan pajak atas
bunga)
Dengan selesainya penjurnalan di atas berarti
jenis biaya dan pendapatan auto telah dimasukan, dan saldo kas perusahaan akan
berubah menjadi: 36,380,000 – 500,000 – 300,000 – 50,000 + 200,000 = Rp 35,730,000.
Dibandingkan dengan saldo dalam rekening koran
yang hanya Rp 8,550,000, berarti masih ada selisih Rp 27,180,000, bukan?
Lanjutkan ke Langkah-3.
Langkah-3. Buat
‘Lembar Kerja Rekonsiliasi’
Buat lembar kerja rekonsiliasi yang sederhana
saja, lalu masukan saldo Buku Kas Perusahaan Rp 35,730,000 di ujung atas, dan
saldo rekening koran sebesar Rp 8,550,000 di bagian bawah lembaran kerja,
seperti berikut ini:
Langkah-4. Temukan
Setoran Dalam Perjalanan
‘Setoran Dalam Perjalanan’ atau ‘Deposit in Transit’ yang dimaksudkan adalah cek (umumnya
pembayaran dari pelanggan) yang sudah dicatat sebagai kas masuk akan tetapi
belum disetorkan ke bank, atau sudah disetorkan tetapi belum berhasil di
kliring sampai bank tutup buku, sehingga di rekening koran tidak muncul.
Kumpulkan semua setoran untuk bulan itu (di
dalam buku perusahaan pasti di sisi debit, terutama pada tanggal-tanggal
menjelang tutup buku), cari setoran itu di dalam rekening koran satu-per-satu
(biasanya di sisi credit rekening koran, dari tanggal 20 ke atas). Setoran
manapun yang tidak muncul di rekening koran, masukan ke dalam ‘Lembaran Kerja
Rekonsiliasi’ di bagian “Setoran Dalam Perjalanan”. Lalu Jumlahkan. Misalnya
ditemukan 3 setoran dalam perjalanan, sbb:
Setoran tanggal 29-Aug-2011 = Rp 15,000,000
Setoran tanggal 30-Aug-2011 = Rp 25,000,000
Setoran tanggal 31-Aug-2011 = Rp 10,000,000
Setoran Dalam Perjalanan
= Rp 50,000,000
(Catatan: Ini tidak perlu di jurnal, cukup di masukan ke dalam lembar
kerja rekonsiliasi saja).
Langkah-5. Temukan Cek
Beredar
‘Cek Beredar’ atau ‘Outstanding Check‘ yang dimaksudkan di sini adalah cek keluar yang sudah dicatat
sebagai kas keluar (biasanya pembayaran kepada pihak luar) tetapi belum
dicairkan oleh si penerima cek hingga bank tutup buku, sehingga saldo buku kas
perusahaan sudah berkurang tetapi saldo kas di rekening koran belum berkurang.
Kumpulkan semua cek keluar bulan itu (di dalam
buku perusahaan pasti di sisi kredit terutama pada tanggal-tanggal menjelang
tutup buku), cari cek keluar tersebut di dalam rekening koran satu-per-satu
(biasanya di sisi debit rekening koran). Setoran manapun yang tidak muncul di
rekening koran, masukan ke dalam ‘Lembaran Kerja Rekonsiliasi’ di bagian “Cek
Beredar”. Lalu Jumlahkan. Misalnya ditemukan 5 cek beredar, sbb:
Cek No. 389900 = Rp 3,500,000
Cek No. 389905 = Rp 5,200,000
Cek No. 389910 = Rp 2,000,000
Cek No. 389912 = Rp 8,000,000
Cek No. 389917 = Rp 4,300,000
Cek Beredar = Rp
23,000,000
(Catatan: Ini tidak perlu di jurnal, cukup di masukan ke dalam lembar
kerja rekonsiliasi saja).
Setelah langkah-4 dan
5 di atas dilakukan, maka anda seharusnya akan menghasilkan lembar kerja
seperti di bawah ini:
Masih ada selisih Rp 180,000. Yang seperti ini, meskipun tidak terlalu sering, bisa saja terjadi. Dimanakah selisih ini? Cari! Caranya?
Langkah-6. Periksa
Ulang Dan Telusuri
Pertama pastikan semua biaya-biaya bank dan
pendapatan jasa giro (termasuk pajaknya) sudah dijurnal dan dimasukan ke dalam
buku kas perusahaan. Jika tidak ada yang ketinggalan dan semuanya sudah
dijurnal dengan benar. Lanjutkan periksa ulang ke lembaran kerja rekonsiliasi,
pastikan semua setoran dalam perjalanan dan cek beredar sudah dimasukan ke
dalam lembar kerja rekonsiliasi dengan benar. Jika semuanya sudah dimasukan
dengan benar, berarti anda perlu melakukan penelusuran satu-per-satu.
Banyak? Lha wong pekerjaan satu bulan harus
diperiksa ulang satu per satu, ya jelas buuaaanyak. Tidak usah stress, santai
saja. Mungkin perlu minum dulu, luruskan badan, sambil bersihkan meja hingga
benar-benar rapi. Setelah ketegangan mulai turun, duduk relax, pikirkan
bagaimana caranya melakukan penelusuran dengan cepat?
Bagi para pemula, menelusuri transaksi
satu-per-satu memang bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan cepat. Apalagi
jika jumlah transaksi cukup banyak. Tetapi ini adalah hal biasa bagi mereka
yang sudah berpengalaman—bisa melakukan penelusuran dengan cepat, karena mereka
biasanya sudah memiliki ‘sense’ (semacam instinct) yang bisa mengendus dari mana asal selisih
itu. Oke. Saya kasih clue-nya:
§ Jika selisihnya kecil (di bawah Rp 1,000,000),
kemungkinan besar disebabkan oleh salah input angka. Artinya, kemungkinan semua
cek dan slip setoran sudah terinput, hanya saja diinput lebih besar atau lebih kecil
dari yang seharusnya.
§ Jika selisihnya besar (di atas Rp 1,000,000),
kemungkinan besar disebabkan oleh: (a) adanya cek keluar/slip setoran yang
belum terinput; atau (b) ada cek keluar/slip setoran diinput duakali; atau (c)
ada cek batal (kembali) yang lupa dijurnal pembalik (reversal journal).
Yang manapun dari kemungkinan di atas,
mau-tidak-mau anda harus melakukan penelusuran transaksi-per-transaksi. Supaya
tidak pusing lompat sana lompat sini, lakukan penelusuran dengan menggunakan
nomor cek dan nomor slip setoran yang ada di rekening koran (setiap transaksi
pasti ada nomor cek/nomor slip-nya). Mulai dari transaksi yang paling atas,
misalnya nomor cek 389815.
Jika buku kas perusahaan menggunakan Excel,
anda tinggal tekan Ctrl + F, masukan nomor cek tersebut. Jika menggunakan software akuntansiyang memiliki fitur pencarian nomor cek, anda
bisa menggunakan itu, masukan nomor cek tersebut. Perhatikan jumlah
(amount)-nya. Terus lakukan hingga transaksi terakhir di rekening koran. Saya
yakin anda akan menemukannya.
Dalam contoh kasus ini
misalnya anda menemukan Cek No. 389825 di rekening koran menunjukan nominal Rp
1,200,000 tetapi di buku kas perusahaan menunjukan nominal Rp 1,020,000.
Mungkin cashier ngantuk saat input cek tersebut. Apa yang harus
dilakukan dengan ini?
Ambil dokumen terkait dengan transaksi
tersebut, misalnya nota tagihan dari PT. XYZ atas pemebelian bahan baku.
Periksa nominal tagihannya; apakah memang Rp 1,200,000 atau hanya Rp 1,020,000?
Jika memang Rp 1,200,000 berarti hanya kasus salah input—anda cukup menegur
data entry kas. Lalu buat jurnal penyesuaian:
[Debit]. Utang pada PT. XYZ
= Rp 180,000
[Credit]. Kas
= Rp 180,000
Setelah jurnal ini dimasukan, maka saldo buku
kas perusahaan akan berkurang sebesar Rp 180,000, sehingga menjadi Rp
35,550,000. Ganti saldo akhir buku kas di lembar kerja rekonsiliasi (ujung
atas) dari Rp 35,730,000 menjadi Rp 35,550,000, sehingga ‘Saldo Akhir Buku Kas
Perusahaan Setelah Rekonsiliasi’ akan menjadi sama persis dengan ‘Saldo Akhir
Kas Bank Mandiri, yaitu Rp 8,550,000.
Jika sudah sama,
berarti pekerjaan rekonsiliasi bank sudah selesai. Print “Lembaran Kerja
Rekonsiliasi” lalu arsipkan bersama-sama dengan rekening koran untuk bulan yang
sama.
Note: Jika ternyata nota tagihan dalam kasus selisih
di atas hanya Rp 1,020,000 berarti ini bukan sekedar kasus salah input,
melainkan kasus lebih bayar! Bicarakan dan minta approval dari atasan sebelum
memasukan jurnal penyesuaian.






0 comments:
Post a Comment