BAB 4
PERUMUSAN TEORI AKUNTANSI
1.
TEORI
DAN PEMBUAT KEBIJAKAN
Sebelum kita menjelaskan bagaimana
tahap penyusunan teori akuntansi berikut ini akan kita jelaskan pengertian
teori.
Teori adalah susunan konsep, definisi,
dan dalam menyajikannya pandangan yang sistematis, fenomena dengan menunjukan
hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dengan maksud
untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Webster’s
third New International Dictionary mendefinisikan teori sebagai suatu
susunan yang saling berkaitan tentang hipotesa, konsep, dan prinsip pragmatis
yang membentuk kerangka acuan untuk bidang yang dipertanyakan.
McDonald memberikan tiga elemen teori:
1.
Membuat kode sebagai symbol fenomena.
2.
Mengkombinasikan sesuai dengan peraturan
3.
Menerjemahkan ke dalam fenomena yang
sebenarnya terjadi.
Dari
beberapa definisi ini dapat disimpulkan bahwa akuntansi memiliki teori
akuntansi.
Teori
ini merupakan kristalisasi dari fenomena empiris yang terjadi yang digambarkan
dalam bentuk dalil-dalil yang disimpulkan dari fenomena dan disajikan dalam
bentuk kalimat-kalimat pendek yang akan berlaku secara umum. Teori biasanya
diambil dari berbagai riset demi riset sehingga sampai pada suatu kesimpulan
yang dapat berlaku untuk semua, universal, logis, konsisten, dan dapat
diramalkan, serta objektif. Objek penelitian adalah fenomena social dan
ekonomi. Fenomena yang dikaji, diteliti dan lahirlah satu kesimpulan atau tesa
dari riset dan kesimpulan lain ditemukan anti tesa dan lahirlah sintesa
sehingga mengkristal menjadi teori yang selanjutnya akan diuji berulang kali.
Sepanjang suatu teori dapat mempertahankan diri dari kritikan dan verifikasi
maka dia tetap dinilai teori yang confirm dan masih berlaku.
Kalau berbicara mengenai teori akuntansi
maka yang dimaksudkan adalah kristalisasi fenomena yang dituangkan dalam bentuk
kalimat-kalimat (preposition) yang
disimpulkan dari fenomena interaksi bisnis entities dan pemakai laporan
keuangan.
Berdasarkan
pernyataan ini maka mestinya teori itu harus melihat dan menyesuaikan diri
dengan perkembangan dan evolusi dari interaksi pemakai laporan keuangan dan
situasi bisnis. Pemakai laporan keuangan menetukan tujuan laporan keuangan.
Mereka inilah yang diminta pendapatnya untuk apa mereka menggunakan laporan
keuangan. Dari pendapat ini para ahli merumuskan postulat, konsep, prinsip
dasar, dan akhirnya dijabarkan teknik pencatatan akuntansi. Unsur-unsur inilah
yang menjadi struktur teori akuntansi yang di bahas secara khusus.
Hubungan
antara pemakai laporan keuangan, fenomena social, prinsip akuntansi, serta
teori akuntansi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
![]() |
Lambat
atau cepat struktur akuntansi mestinya mengikuti evolusi perkembangan
masyarakat. Perkembangan itu tentu akan mempengaruhi konsep, postulat
akuntansi, prinsip dasar akuntansi dan akhirnya teknik (metode pencatatan
akuntansi). Biasanya postulat, konsep dan prinsip dasar akuntansi lebih
bersifat jangka panjang di bandingkan dengan teknik pencatatannya.
Jika
kita llihat struktur ini maka wilayah teori akuntansi itu mencakup perumusan postulat,
konsep, prinsip dasar, dan teknik akuntansi.
Kenyataan ini telah di gambarkan dalam
APB statement no.4 sbb:
“prinsip akuntansi yang berlaku
sekarang adalah merupakan hasil proses evolusi yang di perkirakan akan terus
berlaku seterusnya. perubahan bisa saja terjadi pada tingkat metode pencatatan
(GAAP).GAAP ini berubah sebagai respon terhadap perubahan ekonomi dan kondisi
social, teknologi dan ilmu pengetahuan baru, permintaan para pemakai laporan
keuangan yang mengharapkan informasi yang lebih bermanfaat. Sifat dinamis
akuntansi keuangan ini dalam merespon perubahan keadaan menambah kegunaan
informasi yang disajikannya”.
Perubahan
ini tentu tidak bisa di laksanakan begitu saja. Perubahan harus di lakukan
berdasarkan prinsip dan dalam kerangka teori akuntansi dan disiplinnya sendiri.
disinilah hubungan antara teori akuntansi dan prinsip akuntansi(GAAP). Teori
ini harus debatable, reputable, arguable,
justifiable, terhap kritik dan argument baru yang di ungkapkan masyarakat.
Proses ini disebut proses veryfication Theory.
Teori yang tidak memiliki sifat itu maka rumusan prinsip yang di lahirkannya
akan rapuh.
Teori akuntansi oleh karenanya harus
lahir dari proses konstruksi teori dan sekaligus verifikasi teori. Jika suatu
teori tidak dapat bertahan pada proses verifikasi maka teori harus diganti
dengan teori yang lebih baik yang ukurannya pada akhirnya kembali pada respons
yang di berikan masyarakat pada output akuntansi itu. Committe on Accounting Theory and verification mengungkapkan
pendapatnya dalam konteks ini sbb:
“teori ilmiah memberikan kepastian
pengharapan atau ramalan tertentu tentang fenomena. Jika fenomena yang di
perkirakan ini tejadi maka teori di sebut”confirm”. Sebaliknya jika fenomena
itu tidak terjadi maka di sebut “anomalies”, yang berarti harus di cari teori
baru atau modifikasi terhadap teori lama. Tujuan penyusunan teori baru dan
modifikasi teori lama adalah upaya mengubah anomalies menjadi confirm atau
anggapan fenomena yang terjadi sesuai dengan kejadiannya”.
Teori akuntansi akan dapat bermanfaat
apabila rumusan teori itu dapat di jadikan sebagai alat untuk meramalkan apa
yang akan di harapkan mungkin terjadi di masa yang akan datang. Kalau demikian
halnya maka mestinya setiap Negara harus memiliki dan merumuskan teori
akuntansinya sendiri yang disimpulkan dari kondisi dan fenomena ekonomi social
yang di milikinya. Bukan mengambil alih sepenuhnya dari susunan teori akuntansi
Negara lain.
2. SIFAT TEORI AKUNTANSI
Dari
penjelasan di atas maka teori akuntansi dapat di rumuskan sbb:
“ teori akuntansi adalah susunan
konsep, definisi, dalil yang menyajikan secara sistematis gambaran fenomena
akuntansi yang menjelaskan hubungan antara variabel dengan variabel lainnya
dalam struktur akuntansi dengan maksud dapat menjelaskan dan meramalkan
fenomena yang mungkin akan muncul”.
Hendricksen
mendefinisikan teori akuntansi sebagai satu susunan prinsip umum yang:
1.
Memberikan kerangka acuan yang umum dari
mana praktek akuntansi dinilai.
2. Teori
akuntansi yang dirumuskan tidak akan mampu mengikuti perkembangan ekonomi,
social, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang demikian cepat.
Oleh karena itu tepatlah kesimpulan
Ahmed belkaoui yang menyatakan bahwa tidak ada teori akuntansi yang lengkap
pada setiap kurun waktu. Oleh karena itu teori akuntansi harus juga mencakup
semua literatur akuntansi yang memberikan pendekatan yang berbeda beda satu
sama lain. Senada dengan kesimpulan ini American
accounting association’s committe on concepts and standard for external reports
yang menyebutan bahwa:
1.
Tidak ada teori akuntansi keuangan yang
lengkap yang mencakup dan memenuhi keinginan semua keadaan dan waktu dengan
efektif, oleh karenanya.
2.
Di dalam literature akuntansi keuangan yang
ada bukan teori akuntansi tetapi kumpulan teori yang dapat di rumuskan
mengatasi perbedaan-perbedaan persyaratan yang di inginkan para pemakai laporan
keuangan.
Untuk
perumusan teori akuntansi memang tidak dapat hanya mengandalkan teori akuntansi
ansich, harus menggunakan literatur akuntansi dan disiplin ilmu lain yang
relevan. Namun teori akuntansi merupakan instrumen yang sangat penting dalam
menyusun dan memverifikasi prinsip akuntansi yang di gunakan dalam penyusunan
laporan keuangan untuk disajikan pada para pemakainnya.
3. METODOLOGI PERUMUSAN
Merumuskan teori akuntansi mesti
memiliki metodologi. Dari berbagai pendapat dan praktek, Belkaoui menyebutkan
dalam literature di kenal dua metode:
A. Metode
deskriptif yaitu teori akuntansi mencoba menjawab pertanyaan ”APA”. Dalam
metode ini akuntansi di anggap sebagai seni yang tidak dapat di rumuskan dan
karenanya metode perumusan teori akuntansi harus bersifat menjelaskan atau descriptive. Metode ini di sebut juga descriptive accounting atau descriptive teory of accounting.
B.
Metode normatif yaitu teori akuntansi mencoba
menjawab pertanyaan ”APA YANG SEMESTINYA”. Di sini akuntansi di anggap sebagai
norma peraturan yang harus di ikuti. Metode ini di sebut juga normative accounting atau normative theory of accounting.
4. PENDEKATAN DALAM PERUMUSAN TEORI
Dalam literature di kenal beberapa
pendekatan dalam merumuskan teori akuntansi. Masing-masing penulis memberikan
metode yang di ikutinya. Pendekatan-pendekatan dalam perumusan teori tersebut
antara lain:
A.
Pendekatan informal yang di bagi dalam :
Ø Pragmatis,
praktis, non teoritis
Ø Otoriter.
B.
Pendekatan teoritis yang di bagi dalam:
Ø Deduktif
Ø Induktif
Ø Etik
Ø Sosiologis
Ø Ekonomi
Ø Ekleptif
v Pendekatan
non teoritis/pragmatis
Dalam metode ini perumusan teori akuntansi
didasarkan pada keadaan praktek di lapangan. Disini yang menjadi pertimbangan
adalah hal-hal yang berguna untuk menyelesaikan persoalan secara praktis.
Menurut pendekatan ini prinsip akuntansi yang dipakai adalah didasarkan pada
kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan yang relevansinya dengan proses
pengambilan keputusan.
v Pendekatan
Otoriter.
Dalam metode ini yang merumuskan teori akuntansi
adalah organisasi profesi yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur
praktek akuntansi. Biasanya organisasi profesipun tetap memperhatikan aspek
praktis dan pragmatis. Oleh karena itu maka pendekatan otoriter ini digolongkan
juga sebagai pragmatis.
v Deduktif.
Dalam metode ini perumusan teori dimulai dari
perumusan dalil dasar akuntansi ( postulat dan prinsip akuntansi ) dan
selanjutnya dari rumusan dasar ini diambil kesimpulan logis tentang teori
akuntansi mengenai hal yang dipersoalkan. Jadi perumusan dimulai dari dalil
umum kepada dalil khusus. Pendekatan ini dilakukan dalam penyusunan struktur
akuntansi dimana dirumuskan dahulu tujuan laporan keuangan,rumusan postulat,
kemudian prinsip,dan akhirnya lebih khusus menyusun teknik akuntansi. Dalam hal
ini teori diuji dari posisinya dalam menampung keinginan praktek. Jika pemakai
dalam praktek diterima maka dianggap teori itu diterima atau verified, sebaliknya jika tidak diterima
disebut falsified.
v Induktif.
Dalam metode ini penyusunan teori akuntansi
didasarkan pada beberapa observasi dan pengukuran khusus dan akhirnya dari
berbagai sampel dirumuskan fenomena yang beragam atau berulang (informasi
akuntansi) dan diambil kesimpulan umum (postulat dan prinsip akuntansi). Tahap
yang dilalui adalah:
1.
Mengumpulkan semua observasi
2.
Analisi
dan golongan obsrvasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan
sejenis,seragam,dan mirip.
3.
Ditarik kesimpulan umum dan prinsip
akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi.
4.
Kesimpulan umum diuji kebenarannya.
Tidak seperti pendekatan deduktif, dalam
pendekatan induktif ini kebenaran dan kepalsuan dalil tidak tergantung pada
dalil lainnya tetapi harus melalui pengujian empiris. Dalam pendekatan induktif
kebenaran suatu dalil tergantung pada pengamatan terhadap contoh yang cukup
dari hubungan kasus yang berulang-ulang dan seragam.
v Etik
Dalam pendekatan ini digunakan konsep kewajaran,
keadilan, pemilikan, dan kebenaran. Pendektan ini diperkenalkan oleh D.R.Scott.
menurut beliau criteria yang harus digunukan dalam perumusan teori akuntansi
adalah keadilan dengan memperlakukan pihak yang berkaitean secara adil.
Disajikan kebenaran dalam arti laporan keuangan yang benar dan akurat tanpa
mengundang salah tafsir,dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar,tidak bias,
dan tidak sebagian-sebagian.
v Sosiologis
Dalam pendekatan
ini yang menjadi perhatian utama dalam perrumusan teori akuntansi adalah
dampak social dan teknik akuntansi. Pendekatan ini seolah merupakan perluasan
dari konsep etik di mana yang menjadi focus perhatian adalah kesejahteraan
seluruh masyarakat bukan hanya pemilik. Menurut konsep ini prinsip akuntansi di
nilai dari penerimaan seluruh pihak terhadap laporan keuangan khususnya yang
melaporkan tentang dampak perusahaan tehadap masyarakat. Akuntansi dalam model
ini harus dapat memberikan pertimbangan dalam mengambil kesimpulan terhadap
kesejahteraan masyarakat.
v Ekonomi
Pendekatan ekonomi dalam perumusan teori akuntansi
menekankan control pada perilaku indicator makro ekonomi atau general economic wefare yang
menghasilkan perumusan teknik akuntansi. Sehingga dalam pemilihan teknik
akuntansi di dasarkan pada dampaknya pada ekonomi nasional. Misalnya teknik
LIFO lebih menarik dari pada FIFO pada masa inflasi. Dari pendekatan ini maka
dapat di simpulkan bahwa:
a) Teknik
dan kebijaksanaan akuntasi harus dapat menggambarkan realitas ekonomi.
b) Pilihan
terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada konsekuensi ekonomi.
v Eklektif
Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak
hanya satu pendekatan tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka disebut
eklektif.
Dari litaratur lain
kita mengenal pendekatan komunikatif dalam perumusan teori akuntansi.pendekatan
ini dikembangkan oleh Bedford dan Baldouni yang menganggap bahwa akuntansi
adalah sebagai suatu sistem yang terpadu dalam proses komunikasi. Di sini
dirumuskan informasi apa yang perlu dandisajikan oleh perusahaan kepada para
pembaca agar mereka dapat menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan.
5.
PERUMUS
TEORI AKUNTANSI
Sampai saat ini
Indonesia masih belum berupaya untuk merumuskan teori akuntansinya sendiri. kita
masih tetap menggunakan teori akuntansi amerika sebagai dasar dalam
pengembangan akuntansi di tanah air. Upaya yang baru dilakukan oleh profesi
akuntan adalah perumusan prinsip akuntansi Indonesia belum menyentuh teori
akuntansinya. Dalam sebuah kuliahnya di sebuah Gedung Baja, Belkaoui
menganjurkan agar setiap Negara memiliki teori akuntansi termasuk Indonesia.
Menurut beliau, teori akuntansi lahir dari kondisi , lingkungan, dan situasi
ekonomi dan social yang ada di suatu Negara yang tentu akan berbeda dengan
Negara lainnya. Akibatnya kita tidak akan tepat jika menggunakan teori
akuntansi yang dilahirkan dari Negara lain dengan situasi dan kondisi yang
berbeda dengan






0 comments:
Post a Comment